
Fasya, wanita itu tergolek lemah diatas ranjang setelah dokter memberikan pertolongan padanya. Air matanya menetes tanpa henti. Dia yakin jika diluar sana, dokter sudah memberitahu Sabda jika dia keguguran. Dia memang berniat menggugurkan kandungannya, tapi bukan seperti ini yang dia mau, keguguran tepat didepan Sabda.
Fasya menyeka air matanya saat melihat Sabda berdiri tak jauh dari ranjangnya. Dia sampai tak menyadari kapan suaminya itu masuk kedalam UGD. Ya, dia memang belum dipindahkan keruang perawatan.
Sabda, pria itu berjalan mendekati Fasya. Menarik sebuah kursi lalu duduk didekat ranjang. Tidak ada orang lain selain mereka di UGD.
"Bagaimana keadaanmu?"
Fasya tak mampu menjawab. Dia malah makin sesenggukan.
"Apakah masih sakit?"
Fasya hendak memegang tangan Sabda tapi lebih dulu, Sabda menjauhkan tangannya.
"Seseorang pernah bilang padaku. Jangan terlalu percaya diri jika pasangan kita sangat mencintai kita. Karena sesungguhnya, yang paling tahu tentang perasaannya hanya dia sendiri dan Tuhan." Sabda menunjuk keatas.
"Aku mencintaimu Mas. Aku sangat mencintaimu."
Sabda menggeleng. "Cinta? Apa kau tahu apa itu cinta?" Sabda tersenyum getir. "6 tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang gadis bermata bulat. Mata bulat itu dihiasi dengan bulu mata yang sangat lentik. Hidungnya mancung, pipinya merona dan kulitnya seputih susu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak, tidak." Sabda menggeleng cepat. "Lebih tepatnya, aku tergila gila padanya."
__ADS_1
Fasya makin sesenggukan, dia teringat pertemuan pertamanya dengan Sabda.
"Setiap hari, setiap menit, bahkan setiap detik, aku selalu memikirkannya. Aku ingin memiliki gadis bermata bulat itu. Aku ingin hidup bersama dan menua bersamanya. Dan rupanya, Tuhan sangat baik, dia mengabulkan doa doaku, menjadikan wanita itu milikku. Hidupku terasa sangat sempurna. Aku memiliki segalanya, harta, dan cinta. Tapi sebuah kenyataan membuat duniaku seperti runtuh. Aku mendapatkan kenyataan jika aku mandul. Aku tak bisa memiliki keturunan. Lalu wanitaku, apakah dia akan bisa menerimaku?"
Sabda tak mampu lagi menahan air matanya. Dia menangis dihadapan Fasya.
"Aku takut, sangat ketakutan. Aku takut kehilangan wanitaku. Jangankan kehilangan, membayangkannya saja aku sudah tak sanggup. Aku yang egois ini, melakukan berbagai cara agar wanitaku tidak pergi. Tapi rupanya, wanita itu tidak mencintaiku."
"Aku mencintaimu Mas, aku sangat mencintaimu." Fasya kembali hendak meraih tangan Sabda, tapi lagi lagi, Sabda menjauhkan tangannya.
"Kau tidak mencintaiku Fasya. Tidak akan pernah ada yang kedua jika kau mencintai yang pertama."
"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu, aku takut kehilanganmu. Kehadiran Nuri membuatku hilang akal. Aku takut Mas, aku takut kau akan mencampakkanku setelah Nuri melahirkan."
Sabda langsung tersenyum getir. "Itu artinya, kau tidak percaya dengan cintaku padamu. Andai saja kau tahu Fasya. Aku mengabaikan hati nuraniku. Menikahi wanita hanya demi mendapatkan anaknya. Aku sekejam itu dengan menawarkan perjanjian pernikahan 9 bulan padanya. Semua itu selain karena anak itu keponakanku, juga karena aku ingin membuatmu bahagia. Aku ingin kau merasakan menjadi seorang ibu meski tanpa melahirkan. Aku mengabaikan perasaan wanita itu hanya demi menjadikanmu seorang ibu."
Nuri, Sabda merasa sangat kejam padanya. Apalagi jika ingat semalam, saat Nuri memohon padanya untuk membatalkan perjanjian mereka. Tapi dengan teganya, dia menolak. Semua itu dia lakukan agar Fasya bisa menjadi seorang ibu.
"Kalau saja kau tak menutupi kenyataan jika kau mandul, aku tak mungkin berselingkuh."
__ADS_1
"Jadi perselingkuhan ini terjadi karenaku?"
Fasya menyeka air mata yang terus mengalir tiada henti. "Aku pikir jika aku hamil, posisiku akan aman. Aku tak akan pernah tergeser oleh Nuri."
Sabda tertawa sambil menangis. "Konyol, tidak akan pernah ada yang bisa menggeser posisimu dihatiku Fasya. Tapi sayangnya, kau sendiri yang bergeser, pelan pelan, meninggalkan tempatmu dihatiku."
"Itu tidak benar Mas. Justru aku ingin posisiku tetap kukuh dihatimu."
"Dengan membohongiku? Dengan mengaku jika anak hasil perselingkuhanmu adalah anakku? Kau benar benar kejam karena sempat memikirkan akan melakukan itu. Dan kau masih bisa bilang mencintaiku. Tidak, tidak ada cinta seperti itu. Tidak ada pembenaran dalam perselingkuhan Fasya. Bukan cinta namanya jika masih bisa mendua."
"Tapi kau yang lebih dulu mendua." Fasya menatap nanar kedua bola mata Sabda.
"Aku memang menikahi Nuri, tapi aku tak pernah menduakan cintamu. Aku mengabaikan hak hak Nuri sebagai seorang istri demi menjaga perasaanmu."
"Tapi aku tetap sakit hati Mas."
Sabda membuang nafas kasar lalu menunduk. "Maaf jika aku sudah membuatmu sakit hati. Sekarang, aku tak mau egois lagi. Kau berhak bahagia Fasya. Kau wanita yang sempurna. Tak seharusnya aku menjadikanmu tak sempurna karenaku. Semoga setelah ini, kau bisa bahagia dengan siapapun itu." Sabda lalu bangkit dari duduknya. "Aku akan mengurus surat perceraian kita. Dan setelah kau selesai nifas, aku akan menjatuhkan talakku."
Fasya menggeleng cepat. "Tidak, aku tidak mau bercerai Mas. Tolong maafkan aku. Mas, Mas, aku tak mau bercerai."
__ADS_1
Sabda pergi begitu saja, mengabaikan Fasya yang masih berteriak memanggilnya.