9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 82


__ADS_3

Mata Sabda tak berkedip melihat Nuri yang keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang dililit didada. Dia yang awalnya duduk disofa, langsung berdiri untuk menyambut hidangan spesialnya. Dengan tatapan yang terus tertuju pada Nuri dan jakun naik turun, dia berjalan semakin mendekati Nuri.


Nuri tersenyum malu malu sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Saat Sabda sudah tinggal selangkah lagi, Nuri menjatuhkan handuknya. Mempertontonkan tubuh polosnya didepan pemilik kehormatanya.


Digoda seperti itu, jelas Sabda makin tak bisa menahan diri. Segera dia angkat tubuh polos Nuri dan bawa menuju ranjang. Bibir keduanya saling berpagutan. Saling membelit lidah dan bertukar saliva.


Sabda menurunkan tubuh polos Nuri keatas ranjang lalu menciumi setiap inci tubuhnya. Mulusnya kulit Nuri dan aroma sabun yang sangat harum, membuat Sabda makin bersemangat. Meski ini sama sama bukan yang pertama bagi keduanya, tapi debarannya seperti pertama kali melakukannya.


Nuri menarik tali kimono Sabda. Meraba dada yang ditumbuhi bulu bulu halus sambil sedikit menggelitikinya. Nafas keduanya sama sama memburu karena dikuasai naffsu.


Keduanya sama sama hanyut dengan sentuhan lawan. Melakukan penyatuan dan bergerak untuk memuasskan pasangan. Hingga mereka terbang keawang awang, sampau dipuncak dan mengerang bersama.


Sabda memberikan kecupan didahi Nuri sebelum akhirnya merebahkan tubuh disebelahnya. Menikmati sisa sisa pelepasan sambil mengatur nafas. Peluh membasahi tubuh kedua insan yang baru saja mereguk nikmatnya surga dunia.


"Apa kau menyukainya?" Sabda menoleh kearah Nuri yang masih tergolek lemas.


Nuri hanya menjawab dengan anggukan kepala. Awalnya tadi memang terasa sedikit sakit, mungkin karena sudah lama tak melakukan itu. Tapi lama lama, terasa sangat nikmat.

__ADS_1


Merasa jika Sabda tengah memperhatikannya, Nuri menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Nuri pikir, selimut bisa menutupi tubuh polosnya, tapi ternyata dia salah. Sabda justru ikut masuk kedalam selimut yang sama, membuat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan menghadirkan percikan percikan yang terasa seperti sengatan listrik.


Sabda menyentuh leher Nuri yang terdapat tanda merah hasil karyanya. "Kau sangat nikmat sayang, membuat aku ketagihan." Nuri tersenyum malu malu. Wanita mana yang tidak akan bahagia saat dipuji suaminya seperti itu. Karena salah satu kunci keharmonisan rumah tangga, antara lain adalah kepuasaan saat melakukan hubungan ranjang. " Apa kau keberatan jika aku meminta lagi?" Dia bertanya sambil menyentuh bibir Nuri yang sedikit bengkak.


Nuri menggeleng sambil tersenyum. Tentu saja dia tak keberatan, malah senang karena Sabda puas dengan pelayanannya. "Berapa kalipun yang Kakak mau. Tapi..."


"Tapi apa?" Sabda mengerutkan kening.


"Beri aku waktu istirahat sebentar. Tubuhku masih terasa lemas." Nuri meringsek ketubuh Sabda. Membenamkan kepala diceruk leher sambil memeluk perutnya.


"Kak, aku rindu White." Nuri mendongak, menatap wajah Sabda. "Ini pertama kalinya aku tidur tanpa dia. Bagaimana jika dia rewel dan merepotkan ibu?"


"White anak yang pintar. Aku rasa dia paham jika saat ini, kedua orang tuanya sedang melakukan malam pertama. Dia pasti tidak akan rewel. Kau tenanglah." Sabda mencium kening Nuri sambil membelai pungunggunya. "Kalau rewelpun, ibu pasti bisa menenangkannya. Stok asip cukupkan?"


"Sepertinya cukup. Sebentar lagi waktunya dia minum asi."

__ADS_1


"Apa itu artinya juga jadwal kamu untuk memerah asi?"


"Harusnya, tapi..."


"Tapi apalagi?"


"Sepertinya isinya sudah tak banyak karena papanya telah mengambil jatah White."


Sabda langsung tergelak. Bagaimana mungkin dia bisa melewatkan dua bulatan yang menggiurkan itu tanpa mencicipinya.


"Pabriknya terlalu menggoda sayang, mana mungkin aku lewatkan." Sabda mencium bibir Nuri. Gairahnya sudah kembali naik, dia mengingikan ronde kedua sekarang juga.


Tapi Nuri, segera dia hentikan suaminya. Dia akan mengosongkan dadanya terlebih dulu.


Sabda menatap Nuri yang sedang sibuk memerah asi. "Apa tugas benda itu bisa digantikan dengan tanganku saja?" Sabda menunjukkan telapak tangannya.


"Sebenarnya bisa, tapi aku tak yakin akan seperti apa endingnya." Keduanya lalu tertawa bersama.

__ADS_1


TAMAT


Terimakasih atas dukungannya untuk Nuri dan Sabda 🥰🥰🥰🥰. Kisah mereka sudah berakhir dengan happy ending. Tapi jangan khawatir, kemungkinan masih akan ada extra part. Selain itu, bulan ini juga, akan ada novel baru yang menceritakan kisah White dan Airi, ditunggu ya 😘😘😘


__ADS_2