9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 57


__ADS_3

Tubuh Fasya gemetaran, wajahnya pucat pasi. Dia mundur saat Sabda menatapnya tajam sambil melangkah mendekatinya.


"Bo, bohong. Itu tidak benar." Ujar Fasya dengan suara bergetar. "Untuk apa aku mencurinya. Kamu harus percaya padaku Mas."


Tubuh Fasya tersentak saat Sabda memegang pundaknya. Tatapan penuh intimidasi dari Sabda membuat kalimat yang hendak dia keluarkan berhenti ditenggorokan.


"Kala itu aku juga tak percaya. Dan aku malah menganggap jika apa yang dibicarakan Nuri hanyalah omong kosong. Tapi saat tahu ada yang hilang, aku yakin jika Fasya yang mangambilnya."


"Apa itu benar?" tanya Sabda.


Fasya menggeleng cepat. "Ti, tidak Mas. Itu tidak benar. Nuri, dia telah memfitnahku. Perempuan murahan itu telah memfitnahku."


"Kau yang murahan," bentak Yulia.


Sabda seketika menoleh pada ibunya. Belum pernah selama ini, ibunya membentak Fasya, apalagi sampai mengatainya murahan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah mereka sedang bertengkar.


Felix, pria itu menelan ludahnya susah payah. Dia tak menyangkan akan melihat drama perseteruan mertua dan menantu secara live. Biasanya dia cuma dengan cerita atau lihat potongan video di internet.


Fasya langsung menangis dan menepis tangan Sabda yang ada dipundaknya.


"Lihatlah ibumu." Sambil berderai air mata, Fasya menatap Sabda. "Ibumu telah berani mengatai istrimu ini. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan. Sepertinya setelah menyingkirkan Nuri, dia ingin menyingkirkanku juga."


Yulia diam saja. Dia tersenyum sambil mendengarkan dengan seksama apa yang Fasya katakan. Dia ingin tahu akting selanjutnya yang akan dilakukan mantan menantu kesayangannya tersebut.


"Apa salahku Mas?" Fasya menepuk dadanya sendiri. Berakting sebagus mungkin agar Sabda lebih percaya padanya. "Aku sudah berlapang dada menerima kekuranganmu. Aku rela tak hamil selamanya meski aku ingin punya anak. Apa pengorbananku masih kurang?" Fasya sengaja menggunakan kelemahan Sabda. "Tapi Ibumu," Fasya menunjuk Yulia. "Dia tega memfitnahku dan mengataiku murahan."

__ADS_1


"Memang kamu murahan," celetuk Yulia sambil memutar kedua bola matanya malas.


"Bu," Seru Sabda dengan suara sedikit tinggi. "Fasya istriku, aku tidak suka ibu menyebutnya seperti itu."


Felix garuk garuk kepala. Bukankah yang dibahas awalnya sertifikat, kenapa malah merembet ke murahan segala. "Maaf Pak, saya tunggu diluar." Felix langsung undur diri. Lebih baik dia kedapur dan minta makan pada Bi Diah.


"Tapi istrimu itu memang wanita murahan Sabda," tekan Yulia. "Tidak ada wanita baik baik yang selingkuh."


"Aku tidak selingkuh," sangkal Fasya.


Plak


Sabda seketika melotot saat Yulia menampar Fasya.


"Sabda!" Yulia makin murka melihat Sabda malah memeluk Fasya. Ditariknya kasar lengan Sabda agar melepaskan pelukanya. "Wanita itu tidak hanya sudah mencuri sertifikat tanah kita, tapi dia juga sudah selingkuh dibelakangmu."


"Stop Bu," bentak Sabda. "Jangan menuduh tanpa bukti." Setelah tahu seperti apa tabiat ibunya, Sabda tak bisa begitu saja mempercayainya. "Untuk masalah sertifikat, aku akan mengeceknya melalui cctv."


Fasya yang berada dalam pelukan Sabda seketika menyeringai kearah Yulia. Membuat Yulia makin naik darah. Dia menyesal tadi hanya menampar Fasya sekali, harusnya dia menamparnya berkali kali hingga wajah cantik yang menjadi kebanggaannya itu hancur.


Yulia bisa paham kenapa Sabda tak mempercayainya. Putranya itu sudah terlanjur kecewa padanya karena perbuatannya pada Nuri.


"Ibu punya bukti. Ibu akan menunjukkan bukti perselingkuhannya." Ujar Yulia dengan bersungut sungut.


"Ibumu bohong, dia pasti memanipulasi bukti. Kamu percaya padaku kan Mas?" Fasya melepaskan pelukan Sabda, menatap kedua mata pria itu dengan mengiba. "Kita sudah lama bersama. Kamu sudah sangat mengenalku. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku selingkuh."

__ADS_1


Yulia sudah sangat muak mendengar semua ocehan Fasya. Kesabarannya telah habis. Langsung saja dia menarik rambut Fasya.


Menjambaknya dengan kuat hingga Fasya berteriak kesakitan.


"Aww....lepas.."


"Bu lepaskan." Sabda merusaha melepaskan tangan ibunya dari rambut Fasya. Dia sangat heran dengan kelakuan ibunya hari ini. Bukankah Fasya adalah menantu kesayangannya, kenapa hari ini ibunya terlihat sangat membenci Fasya?


"Biarkan ibu menghajar wanita tak tahu diri ini Sabda." Yulia masih terus menjambak. Sebenarnya Fasya bisa saja membalas, tapi demi mencari simpati Sabda, dia tak melakukan perlawanan.


"Lepaskan Ibu." Sabda masih terus berusaha menarik tangan ibunya dari rambut Fasya.


Yulia akhirnya melepaskan jambakannya. Tapi karena belum puas, dia mendorong Fasya kuat. Perut Fasya terbentur pinggiran meja lalu dia jatuh kelantai.


"Sakit..." Fasya mengerang sambil memegangi perutnya.


Sabda seketika berjongkok untuk menolong Fasya. "Fasya, kau tidak apa apakan?" Sabda langsung panik.


"Sakit sekali Mas, perutku sakit," rintih Fasya.


Mata Sabda melotot saat melihat darah mengalir dari paha Fasya yang saat itu kebetulan sedang memakai mini dress.


Dan Yulia, dia melotot sambil menutup mulutnya.


Sabda yang cemas langsung mengangkat tubuh Fasya. Berteriak memanggil Felix agar membantunya membawa Fasya kerumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2