9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 53


__ADS_3

Felix menghampiri Sabda saat pria itu duduk sendirian di ruang tamu. Menunggu Nuri dan adiknya bersiap siap. Sabda ingin memenuhi janjinya pada adik Nuri, mengajaknya jalan jalan menggunakan mobil.


"Pak, apa Bapak yakin mau menginap disini?" tanya Felix.


"Memang kenapa? Kamu gak mau tidur disini? Kamu bisa menginap dihotel."


Felix menggeleng cepat. "Bukan itu masalahnya. Kalau urusan tidur, dimana saja saya bisa, bahkan didalam mobil. Tapi masalahnya, bukankah Bapak harus segera mengurusi soal tanah. Apakah Bapak tak ingin memastikan apakah sertifikat Bapak masih ada atau mungkin hilang?" Yang punya tanah Sabda, tapi yang lebih cemas malah Felix.


"Anakku lebih penting daripada 2 bidang tanah. Aku masih ingin disini. Menghabiskan lebih banyak waktu bersama Nuri. Tinggal 1 bulan lagi. Setidaknya, biarkan aku sedikit berguna untuk Nuri dimasa masa kehamilannya." Setelah ini, dia tak akan pernah lagi merasakan pengalaman memiliki istri hamil. Jadi setidaknya, dia ingin menikmati masa masa itu.


Felix garuk garuk kepala. Harga 2 bidang tanah itu cukup fantastis buatnya. Tapi mungkin bagi orang kaya seperti Sabda, tak lah terlalu penting. Buktinya pria itu masih santai saja.


Hilma, bocah itu keluar dari kamar dengan dandanan rapi. Melihat ada Felix dan Sabda diruang tamu, dia jadi malu mau duduk disana.


"Teteh, cepetan dong," teriak Fatma. Dia lalu melewati Sabda dan Felix, menunggu kedua kakaknya diteras.


Sabda yang gemas dengan tingkah Hilma, datang menghampirinya diteras. "Udah gak sabar banget kayaknya?"


"Aa." Hilma langsung menunduk, wajahnya merona karena malu.


"Mau beli apa sih?" tanya Sabda. Dia menarik kursi plastik yang ada diteras lalu duduk disebelah Hilma.


Hilma menggeleng. Mana mungkin dia bilang mau sesuatu pada Sabda. Kalau sama Nuri, dia masih berani.


"Yah, jadi gak mau beli apa apa. Padahal Aa udah siapin uang buat beliin apapun yang Hilma mau. Kalau gitu, uangnya Aa kasih buat Teh Fatma aja," goda Sabda.


"Jangan," ucap Hilma cepat. "Buat Hilma aja. Hilma pengen beli kotak pensil dan kaos kaki."


Sabda tersenyum sambil menyentuh kepala Hilma. "Hanya itu? Tak mau baju baru, tas ,sepatu , mainan, jepit rambut?"


"Emang boleh A?"


"Boleh, Hilma boleh beli apapun."


Hilma langsung teriak kegirangan. Tapi sesaat kemudian, dia tiba tiba diam.


"Kenapa lagi?" tanya Sabda.


"Hilma gak jadi mau apapun." Dahi Sabda seketika mengkerut mendengarnya. "Boleh gak, Hilma dikasih uang saja untuk ditabung?"


"Ditabung? Emang kalau udah banyak, mau buat beli apa?"


"Beli kasur. Aku pengen tidur dikasur yang empuk. Kasur dirumah rumah pada keras, sampai sampai pas bangun pagi, punggung rasanya sakit."


Sabda jadi memikirkan Nuri. Dari yang dia baca disebuah artikel, ibu hamil sering mengalami susah tidur. Jika Hilma saja tak nyaman, lalu bagaimana dengan Nuri?


"Nanti Aa belikan kasur buat Hilma."

__ADS_1


"Benaran A?"


"Hem." Sahut Sabda sambil mengangguk.


Saking senengnya Hilma reflek berdiri lalu memeluk Sabda. Tapi saat sadar, dia langsung malu dan buru buru melepaskan. Pura pura tak terjadi apa apa lalu duduk kembali kekursinya.


Tak lama kemudian, Nuri dan Fatma keluar. Begitupun dengan Felix, pria itu mengekor dibelakang mereka.


"Yuk berangkat." Sabda mengulurkan tangan kearah Hilma dan langsung disambut antusias oleh bocah itu. Sabda manatap Nuri sambil tersenyum, lalu menggandeng Hilma hingga kemobil.


"Fatma duduk didepan saja. Biar Pak Sabda, Nuri dan Hilma dibelakang," ujar Felix sambil membuka pintu begian belakang.


"Enggak," tolak Fatma cepat. Dia memegangi lengan tetehnya. "Aku duduk dibelakang sama teteh dan Hilma." Males banget gadis itu kalau harus didepan bersama Felix. Apalagi dia tahu jika sejak tadi, pria itu mencuri pandang kearahnya.


"Ya udah, kalau gitu Aa yang didepan,"


"Tapi Pak," Felix hendak protes.


"Udah ayo, keburu malam."


Felix menghela nafas pasrah. Gagal deh niatan mau dekat dekat dengan cewek cakep.


Sepanjang perjalanan, hanya Hilma saja yang banyak berceloteh. Dia benar benar kagum dengan mobil kakak iparnya. Mobil yang dia klaim sebagai mobil ternyaman dan terbagus yang pernah dia naiki.


Sesampainya di mall, Hilma tiba tiba meraih tangan Sabda, membuat pria itu langsung tersenyum dan menganggap adiknya ingin digandeng. Tapi ternyata dia salah, Hilma mendekatkan tangan Sabda ketangan Nuri.


Sabda langsung tertawa ringan, begitupun Nuri. Dia tak menyangka jika adiknya akan sampai kepikiran kearah sana.


Melihat toko baju yang lumayan besar, mereka memasuki kesana. Membeli baju baru untuk semuanya. Karena tak hanya Hilma dan Fatma yang ingin baju baru, tapi Sabda dan Felix juga butuh baju ganti.


"Capek?" tanya Sabda saat melihat Nuri yang terlihat sedikit ngos ngosan saat jalan. Perut besarnya membuat dia tak kuat berjalan lama, mudah sekali lelah.


"Sedikit."


Sabda mengambil kartu kreditnya lalu memberikan pada Felix. "Nuri lelah, temani mereka belanja. Belikan apapun yang mereka mau."


Fatma tampak keberatan, berbeda dengan Felix yang terlihat girang.


"Kita tungguin di food court." Sabda menggandeng tangan Nuri lalu membawanya ke foodcourt yang tak jauh dari lokasi mereka sekarang. Disuruhnya Nuri duduk, menunggu dia yang membeli makanan serta minuman.


Saat sedang antri memesan makan, beberapa kali Sabda menoleh kearah Nuri sambil tersenyum. Dan disaat Nuri membalas senyumannya, hati Sabda terasa damai. Senyuman itu mampu membuat dia melupakan sejenak semua masalah.


Sama halnya dengan Nuri, hanya senyuman, perhatian kecil seperti itu. Tapi mampu membuat dia merasa sangat senang. Setidaknya, dia merasa punya suami saat hamil.


Selesai memesan makanan, Sabda kembali ketempat Nuri dengan membawa sekotak cemilan dan dua cup minuman.


"Makanannya nanti akan diantar kesini." Ujar Sabda sambil meletakkan cemilan dan minuman keatas meja.

__ADS_1


Sambil makan, sesekali Nuri memijit betisnya yang terasa pegal.


"Sini," Sabda menepuk pahanya.


"Apa?" Nuri tak paham.


"Kaki kamu. Biar aku pijitin."


Nuri menggeleng cepat. "Tidak perlu."


"Tak perlu sungkan, bukankah dulu sudah pernah?"


"Tapi ini ditempat umum Kak."


"Tidak masalah." Sabda memegang betis Nuri lalu menaikkan kepangkuannya. Tapi belum juga memijat, dia kaget melihat kaki Nuri yang tampak besar. "Kaki kamu bengkak?"


Nuri mengangguk.


"Apa sakit sekali?"


"Tidak, ini wajar bagi wanita hamil."


"Tapi pasti membuat kamu tak nyaman."


Nuri tak bisa menyangkal itu. Kaki bengkaknya memang membuat dia sedikit kurang nyaman.


"Nanti malam, Kakak tidur dihotel saja."


"Kenapa?"


"Em...rumah aku tak layak. Aku takut Kakak tak nyaman."


"Karena kasurnya keras?" Nuri kaget saat Sabda bisa menebak dengan benar. "Hilma yang cerita. Kau pasti susah tidur kalau malam? Setahuku wanita hamil tua sudah mulai merasa tak nyaman saat tidur. Belum lagu ditambah lagi kasur yang keras. Maaf, seharusnya aku lebih memperhatikanmu lagi."


Nuri menggeleng. "Jangan menyalahkan diri sendiri. Pulang kerumah adalah kemauanku. Dan untuk kasur yang keras, aku sudah terbiasa. Jadi punggungku tetap merasa nyaman."


"Sungguh?"


"Hem," Nuri mengangguk. "Kak, apa tak masalah kakak menginap disini? Bagaimana dengan Kak Fasya?"


Sabda jadi teringat istrinya itu. Ada rasa bersalah karena telah membohonginya. Tapi saat ini, dia ingin meluangkan waktu untuk Nuri.


"Itu makanannya datang." Seorang pelayan meletakkan makanan pesanan Sabda diatas meja. Sabda merasa senang karena makanan datang tepat waktu. Dia tak ingin membahas Fasya saat ini. "Karena aku memijit kakimu, bisakah jika kau menyuapiku?"


"Tentu saja." Nuri sama sekali tak keberatan.


Nuri merasa jika beberapa orang memperhatikannya. Mungkin yang ada dibenak mereka, dia dan Sabda adalah pasangan yang sangat romantis. Bahkan membuat mereka iri. Si pria memijit kaki istrinya yang sedang hamil, dan si istri menyuapinya. Tapi yang terlihat manis, tak selalunya memang manis. Kalau saja mereka tahu, pasti mereka tak mau berada diposisinya.

__ADS_1


__ADS_2