9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 61


__ADS_3

"Ya, ya benar. Yang itu dipangkas saja. Saya mau semua bunga mawar merah disini dibuang. Ganti dengan mawar putih, amarilis, daysi dan bunga lainnya yang berwarna putih atau kuning." Yulia sedang sibuk memberi interuksi pada Pak Saleh, situkang kebun. Dulunya, taman belakang ini adalah kekuasaan Fasya. Dia yang menentukan tanaman apa saja yang akan ditanam disana.


Dan sekarang, demi menghilangkan jejak Fasya dirumah ini, Yulia ingin merombak apapun yang berhubungan dengan wanita itu.


"Kalau anggrek ini Nyonya?" tanya Saleh saat menyentuh anggrek berwarna ungu yang menempel disebuah batang pohon.


Yulia seketika teringat Nuri. Anggrek itu milik Nuri. Dia masih ingat waktu Nuri keluar rumah dan pulang pulang bawa anggrek. Dan tentu saja berakhir dengan dia marahi habis habisan karena dia tak suka Nuri keluar rumah.


Dimanakah wanita itu sekarang? Yulia yang merasa bersalah, ingin sekali bertemu Nuri untuk meminta maaf. Kemarin dia sempat bertanya pada Felix tentang keberadaan Nuri, tapi asisten putranya itu bilang tidak tahu.


"Biarkan saja."


Yulia yang merasa kepasanan dan haus, meninggalkan halaman lalu masuk. Saat hendak kedapur, langkah kakinya terhenti saat melihat Fasya.


"Ngapain kamu kesini?" bentak Yulia. Dia tak menyangka jika Fasya masih berani menginjakkan kaki dirumah ini setelah apa yang wanita itu lakukan.


"Aku masih berhak tinggal disini," sahut Fasya datar. Setelah sehari menginap dirumah sakit, dia kembali kerumah ini karena memang tak ada tujuan lain. Selain itu, dia masih ingin berusaha membujuk Sabda agar tak menceraikannya.


"Berhak?" Tawa Yulia langsung pecah. "Sabda sudah mengurus surat perceraian kalian. Jadi lebih baik, kau kemasi barang barangmu dan pergi dari rumah ini." Hardik Yulia sambil menunjuk kepintu keluar.


"Aku dan Mas Sabda belum resmi bercerai. Jadi aku masih berhak tinggal dirumah ini."

__ADS_1


"Astaga, sepertinya urat malumu sudah putus. Kenapa kau tak pulang ke apartemen selingkuhanmu itu saja. Siapa tahu setelah keguguran, kau bisa langsung hamil lagi," ledek Yulia.


Fasya mengepalkan kedua telapak tangannya. "Terserah Ibu mau bilang apa." Fasya membuang nafas kasar lalu pergi begitu saja. Dia hendak menaiki tangga tapi Yulia menarik kasar lengannya.


"Aku bilang, pergi dari sini," bentak Yulia sambil melotot. "Aku tak sudi rumahku diinjak ja lang sepertimu."


Fasya menggemeretakkan gigi lalu menarik kasar lengannya hingga lepas dari cekalan Yulia. Sampai-sampai Yulia terhuyung kebelakang dan hampir jatuh.


Fasya menyeringai tipis sambil melipat kedua lengannya didada. Dia tidak takut sama sekali pada Yulia.


"Aku bukan Nuri yang mudah kamu tindas dan singkirkan dari sini."


"Jaga emosimu Ibu mertua. Jangan sampai tekanan darahmu naik dan berujung..."Fasya sengaja tak melanjutkan kalimatnya demi memancing emosi Yulia.


"Kurang ajar!"


Yulia makin naik darah melihat kelakuan Fasya yang seakan mengibarkan bendera perang.


Fasya tersenyum sinis lalu menaiki tangga menuju kamarnya.


Yulia menatap punggung Yulia dengan kepala mengepul. Dia bersumpah dalam hati akan segera menyingkiran Fasya dari rumah ini. Dan hal pertama yang di lakukan adalah mengambil ponsel yang tadi dia tinggalkan di halaman belakang. Menelpon Sabda untuk memberitahunya jika Fasya kembali kerumah. Dia ingin Sabda mengusir wanita itu secepatnya.

__ADS_1


Sementara dikantor, Sabda sedang menyandarkan punggung sambil memijit kening. Kepalanya terasa mau pecah. Dia baru tahu jika papa Fasya, saat ini sedang meringkuk didalam penjara karena usaha ilegal yang dijalankannya. Dia baru tahu jika usaha yang selama ini dibanggakan keluarga mereka ternyata bisnis ilegal. Sekarang dia jadi tahu penyebab Fasya nekat mencuri sertifikat tanah. Itu pasti untuk membebaskan papanya dari penjara.


"Dan pria yang bernama Jaya itu, dia adalah mantan kekasih Bu Fasya. Dikalangan teman temannya, dia biasa dipanggil Ringgo. Nama aslinya Ringgo Sanjaya. Dia memiliki usaha bengkel mobil yang cukup besar," terang Felix.


"Apakah mereka sudah lama berhubungan dibelakangku?"


Felix garuk garuk kepala. "Maaf, kalau itu, saya tidak tahu."


Disaat bersamaan, ponsel Sabda berdering. Ada panggilan masuk dari ibunya.


"Iya Bu."


"Fasya pulang ke rumah."


Sabda memejamkan mata. Ini seperti perkiraannya. Fasya tak ingin berpisah, dia pasti akan melakukan apapun untuk membujuknya agar tak jadi bercerai. Dan alasan utamanya jelas bukan karena masih cinta, tapi karena kondisi ekonomi keluarganya yang sedang terpuruk.


"Sebentar lagi aku akan pulang Bu." Sabda langsung mematikan telepon setelah mengatakan itu.


"Ada apa Pak?" tanya Felix.


"Tolong kosongkan jadwalku untuk seminggu kedepan." Sabda membereskan mejanya lalu mengenakan jas dan mengambil kunci mobil.

__ADS_1


__ADS_2