9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 46


__ADS_3

Pagi ini, saat baru beberapa suap nasi masuk kedalam mulut, Fasya merasakan mual yang hebat. Tak mau isi perutnya sampai keluar didepan Sabda dan Yulia yang sedang sarapan, dia langsung berlari menuju toilet yang ada didapur dan muntah disana.


Hoek hoek


Sabda, pria itu meninggalkan makanannya, menyusul Fasya untuk melihat kondisinya.


"Sayang, kamu kenapa? Kita kedokter, aku takut kamu kena lambung. Perasaan sekarang sering mual." Ujar Sabda sambil memijat tengkuk dan punggung Fasya.


Fasya mengerutkan kening. Lambung? Perasaan dia tak punya riwayat penyakit lambung. Dan jika masuk angin, kenapa tak sembuh sembuh?


Jangan jangan aku....


Tubuh Fasya seketika gemetar. Dia takut jika muntah yang beberapa hari ini dia alami adalah tanda tanda kehamilan. Jangan, jangan sampai dia hamil. Semoga saja dia memang hanya masuk angin bukan hamil.


Fasya mencoba mengingat ingat kapan terakhir datang bulan. Tapi sayangnya, dia tak ingat. Sejak menikah dengan Sabda dan ingin punya anak, dia memang tak lagi memusingkan tentang datang bulan. Justru dia berharap jika tak datang bulan karena itu artinya dia hamil. Tapi keadaan berbeda saat ini. Dia tak mau hamil.


"Kita kedokter ya?"


"Ti, tidak. A, aku baik baik saja."


"Tapi lebih baik diperiksa. Jangan sampai kamu sakit dan terlambat mengetahuinya." Sabda takut terjadi sesuatu pada Fasya.


"Sudahlah Mas, aku bilang aku baik baik saja. Maaf, sepertinya aku tak bisa lanjut sarapan." Fasya mengecup pipi Sabda lalu pergi begitu saja ke kemarnya. Meninggalkan Sabda yang masih merasa cemas dengan kondisinya.


Sabda menghela nafas sambil menatap punggung Fasya yang kian menjauh.


Yulia, memperhatikan Fasya saat menantunya itu berjalan begitu saja melewatinya.

__ADS_1


Sabda kembali duduk ditempatnya semula. Menatap makanan yang tak lagi membuatnya berselera. Mengambil sebiji apel lalu memakannya untuk mengganjal perut.


Apa apel bisa membuat kenyang?


Tiba tiba dia teringat perkataan Nuri. Teringat saat malam itu, Nuri memergokinya makan apel ditengah malam ketika kelaparan.


Sabda mengenyahkan Nuri dari pikirannya. Dia tak boleh merindukan wanita itu. Dia sudah memiliki Fasya. Meski Nuri juga istrinya, tapi hubungan mereka tak lebih hanya sebuah pernikahan diatas kertas. Dan setelah anak itu lahir, dia akan menceraikan Nuri.


"Fasya kenapa?"


Pertanyaan Yulia membuyarkan lamunan Sabda.


"Kurang enak badan Bu. Mungkin masuk angin atau asam lambung naik. Akhir akhir ini dia sering muntah."


Yulia yang hendak menyuapkan nasi kedalam mulut mendadak meletakkan kembali sendok keatas piring.


"Apa Fasya hamil?"


Sabda terdiam, tali sesaat kemudian tergelak. "Jangan becanda Bu. Bukankah aku sudah bilang, aku mandul. Tak mungkin Fasya hamil." Sabda lanjut memakan apelnya. Dia tak habis pikir dengan ibunya, bagaimana bisa menduga jika Fasya hamil.


Yulia teringat wajah pucat Fasya. Ditambah lagi sering mual muntah. Dan seperti ada yang berubah dengan bentuk badannya. Kenapa firasatnya mengatakan jika Fasya tengah hamil.


"Tapi apakah memang tak ada kemungkinan sedikitpun kamu bisa membuahi?"


Sabda menggeleng. "Kata dokter tidak mungkin."


Mungkin firasatku salah.

__ADS_1


Yulia lalu melanjutkan makan. Dan entah kenapa, dia jadi teringat Nuri. Sebenarnya bukan hanya pagi ini. Sejak Sabda bilang mandul, dia jadi sering teringat Nuri.


"Apa kamu tahu, Nuri ada dimana sekarang?"


Sabda yang hendak menggigit apel seketika batal. "Untuk apa ibu menanyakannya? Bukankah ini yang Ibu mau, Nuri pergi dari kehidupan kita? Sekarang dia sudah pergi. Ibu pasti sangat senangkan?"


Memang benar apa yang dikatakan Sabda. Tapi itu dulu. Sejak tahu Sabda mandul, dia jadi berharap jika Nuri benar benar mengandung anak Dennis. Karena hanya janin itu harapan satu satunya penerus keluarga ini.


"Apa yang dia kandung memang anak Dennis?"


Sabda menghela nafas. Rasanya malas sekali membahas ini dengan ibunya. Bukankah sejak dulu selalu menyangkal, lalu kenapa sekarang masih bertanya lagi.


"Aku berangkat dulu Bu." Sabda hendak berdiri tapi lengannya lebih dulu ditahan Yulia.


"Kau tahukan dimana Nuri?"


"Aku tidak tahu."


"Tidak, kau pasti berbohong. Kau pasti mencarinyakan, dan sudah menemukannya?"


Sabda membung nafas kasar. "Untuk apa aku mencarinya? Untuk diajak kembali kerumah ini? Untuk kembali ibu celakai?"


Yulia melepaskan tangan Sabda. Perkataan putranya itu sangat menohok. Membuatnya serasa seperti ditampar.


"Sudahlah Bu. Mungkin memang sebaiknya Nuri tak ada disini. Aku tak mau Ibu berbuat dosa dengan adanya Nuri. Aku tak mau ibuku menjadi penjahat dengan berusaha melenyapkan janin yang tidak berdosa. Biarlah Nuri pergi Bu. Mungkin memang takdir keluarga kita untuk tidak memiliki penerus selamanya." Sabda pergi setelah mengatakan itu.


Yulia terdiam. Tak memiliki penerus selamanya, kenapa kalimat itu terdengar sangat menyedihkan.

__ADS_1


Sabda sempat menoleh melihat ibunya. Wanita itu meneteskan air mata. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Tapi Sabda memang tak mau memberitahu keberadaan Nuri. Dia ingin Yulia benar benar menyesali perbuatannya.


__ADS_2