9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 76


__ADS_3

Tutik langsung memeluk Nuri sambil menangis. Tak henti-henti dia mengucap terimakasih. Hari ini, karena permintaan Nuri, Tutik kembali dipekerjakan oleh Sabda setelah hari itu dipecat oleh Yulia.


"Makasih banget ya Nur. Akhirnya aku bisa kerja disini lagi." Ujar Tutik sambil mewek.


"Heh, jangan panggil Nuri lagi. Sekarang dia sudah jadi nyonya besar dirumah ini. Mulai sekarang, biasakan panggil Nyonya atau Nona Nuri," ujar Bi Diah.


"Dipanggil Nuri juga gak papa kok," sahut Nuri sambil tersenyum.


"Haduh, kok jadi bingung. Panggil Nuri apa nyonya enaknya?" Tutik garuk garuk kepala.


"Panggil Nuri aja kalau bingung," celoteh Bi Diah. "Tapi kalau besok kamu kembali dipecat sama Tuan Sabda, jangan nangis nangis lagi," lanjutnya.


"Enggak enggak." Tutik menggeleng cepat. "Aku panggil nyonya aja daripada dipecat."


Nuri dan Bi Diah langsung tertawa melihat Tutik yang ketakutan mau dipecat.


"Mbak Tutik kerja dimana setelah dipecat hari itu?"


"Jadi pembantu di tempat lain Nur. Eh, nyonya Nuri maksudnya." Tutik menabok mulutnya sendiri karena masih saja kepleset manggil Nuri. "Tapi gak lama."


"Kenapa? Majikannya galak ya? Perasaan kamu udah tahan banting. Sama alm. Nyonya Yulia aja, masih bisa tahan," tanya Bi Diah.


"Galak bisa ditoleransi. Tapi ini lebih dari galak.


Aku hampir dilecehkan sama majikanku."


Nuri dan Bi Diah langsung menutup mulut meraka yang menganga dengan telapak tangan. Dengan mata berkaca kaca, Tutik menceritakan tentang kejadian nahas yang menimpanya.


Disaat tengah fokus mendengar cerita Tutik, Nuri merasakan perutnya mulas. Rasanya seperti kontraksi. Tapi dia tak yakin, takut hanya kontraksi palsu.


"Ada ada Nur, eh Nyah?" Lagi lagi lidah Tutik masih keseleo saat memanggil Nuri.


"Kayak kontraksi Mbak." Sahut Nuri sambil memegangi perutnya.


"Waduh, harus segera menghubungi Tuan Sabda," ujar Bi Diah.


Nuri menggeleng. "Jangan dulu, takutnya hanya kontraksi palsu. Hari ini Kak Sabda bilang ada meeting sekitar jam 10." Nuri melihat jam. "Sekarang masih jam 11, takutnya belum selesai."

__ADS_1


"Lha tapi kalau keburu mbrojol gimana?" Bi Diah panik.


"Bi, kayak gak pernah lahiran saja," omel Tutik. "Aku udah lahiran 3 kali. Gak ada cerita orang mau lahiran baru kontraksi langsung mbrojol itu bayinya. Kebanyakan dicekoki sinetron jadi kayak gini nih."


Bi Diah menghela nafas. Benar juga kata Tutik.


"Buat jalan jalan dulu aja, sambil nungguin Tuan Sabda selesai meeting," saran Tutik.


Nuri mondar mandir dihalaman belakang. Beberapa kali, kontraksi itu muncul lagi. Sepertinya, dia memang mau melahirkan.


Pucuk dicinta, ulampun tiba. Saat Nuri hendak menghubungi Sabda, pria itu lebih dulu menghubinginya melalui video call.


"Hai," sapa Nuri.


"Udah makan?"


"Belum."


"Makan dulu gih."


Nuri menggeleng. "Pengen makan siang sama Kakak. Kayaknya baby boy lagi kangen berat sama papanya." Nuri mengarahkan kamera ponsel keperutnya.


"Baby boy apa mamanya yang kangen?" goda Sabda.


"Kalau aku yang kangen, Kakak mau pulang gak?" Nuri kembali menunjukkan wajahnya.


Sabda tertawa ringan. Saat ini, dia seperti baru merasakan jatuh cinta. Seperti abg, bawaannya kangen mulu dan suka senyum senyum sendiri sambil menatap Nuri.


Nuri meringis saat merasakan kontraksi.


"Kenapa sayang?"


"Pulang bentar ya Kak, kangen." Sengaja Nuri tak memberitahu jika dia akan melahirkan. Dia tak mau membuat Sabda panik.


"Iya, iya, aku akan pulang. I love you."


"I love you too."

__ADS_1


Sabda mengakhiri panggilannya, mengemasi meja kerja lalu pulang.


Sementara dirumah, Nuri memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Kayaknya udah harus ke rumah sakit Non." Ujar Bi Diah yang menghampiri Nuri sambil membawa segelas air putih.


"Kak Sabda sebentar lagi pulang."


"Syukurlah, kalau begitu saya ambikan tas berisi perlengkapan yang akan dibawa kerumah sakit."


Setelah kurang lebih 1 jam, Sabda tiba dirumah. Dia mengerutkan kening melihat Nuri menunggunya diteras. Dan yang membuatnya heran, ada tas besar disebelah Nuri.


"Ma, mau kemana?" Perasaan Sabda mendadak tak enak. Bukankah barusan Nuri bilang kangen dan mereka bicara baik baik. Lalu kenapa ada tas besar kayak orang mau minggat?


"Ayo kerumah sakit, aku mau melahirkan." Mata Sabda langsung terbeliak lebar. Alih alih menyeret mengambil tas dan membawanya ke mobil atau menuntun Nuri, dia malah bergeming. "Ihh, kok malah bengong," gerutu Nuri.


"I, Iya sayang." Sabda langsung menuntun Nuri menuju mobil. Sementara Tutik yang ada disana membawakan tas berisi perlengkapan melahirkan.


Karena tak ada supir, Sabda terpaksa menyupiri sendiri. Sepanjang perjalanan, dia terus menggenggam tangan Nuri. Sesampainya dirumah sakit, Nuri langsung diperiksa. Karena masih pembukaan 1, dia belum dibawa ke ruang persalinan.


Sabda terus berada disamping Nuri. Dia sampai tak makan apapun hingga malam saking cemasnya memikirkan kondisi Nuri. Tak ada selera makan sama sekali disaat melihat Nuri yang menahan sakit karena kontraksi.


"Kak Sabda makan dulu. Jangan sampai malah sakit karena terlalu mencemaskanku."


"Mana mungkin aku bisa makan disaat kamu kesakitan seperti ini."


Baru saja dokter mengecek kondisi Nuri. Hingga jam 8 malam, dia masih pembukaan 2.


"Sakitnya cuma sedikit." Tentu saja Nuri bohong. Dia juga tak tahu kenapa, padahal masih pembukaan 2, tapi sudah sakit sekali. "Kakak beli makanan gih. Nanti kita makan sama sama, aku suapin."


Sabda akhirnya mengangguk. Dia meninggalkan Nuri sebentar untuk mencari makan.


Nuri tak bisa tidur sepanjang malam. Bagitupun dengan Sabda, dia juga tak bisa tidur karena memikirkan Nuri. Tadi sore, Nuri sudah menelepon ibunya, mengabarkan jika dia mau melahirkan. Dan Sabda juga sudah menyuruh seseorang untuk menjemput orang tua Nuri besok pagi.


Pagi hari, karena pembukaan tak kunjung bertambah. Dokter menyarankan untuk diinduksi. Tapi Sabda langsung menolak mentah mentah. Setelah dari dokter hari itu, dia membaca banyak sekali artikel tentang melahirkan normal. Dan menurut banyak orang, proses induksi itu sangat menyakitkan.


"Langsung dicaesar saja Dok," titah Sabda.

__ADS_1


"Tapi Kak," protes Nuri.


"Lakukan sekarang juga Dok." Sabda tak mau dibantah.


__ADS_2