
Nuri semakin bingung saat Sabda dan Bu Titin menatap kearahnya. Jujur dia bingung saat ini. Melahirkan didampingi Sabda adalah impiannya. Tapi kembali ke Jakarta, rasanya berat sekali.
Saat ini, Sabda sedang ada masalah dengan Fasya, dan dia tak mau disangkut pautkan, apalagi dianggap sebagai salah satu penyebabnya. Tapi alasan yang paling utama, dia tak ingin semakin dekat dengan Sabda. Menurut perjanjian, setelah dia melahirkan, Sabda akan menceraikannya. Terlalu dekat dengan pria itu, malah akan membuatnya makin sulit melupakan.
"Apa dosa jika aku menolak?" Nuri paham jika sebagai istri, dia harus menuruti perintah Sabda.
"Tidak," sahut Sabda sambil menggeleng. "Aku hanya menawarkan, bukan mengharuskanmu ikut. Aku hanya ingin yang terbaik Nuri. Jadi, apa keputusanmu?"
Nuri menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Maaf, aku ingin tetap disini."
Sabda terlihat kecewa. Tapi dia berusaha menutupi dengan senyuman.
"Sekali lagi aku minta maaf." Nuri tak tega melihat raut kecewa diwajah Sabda. Tapi sekali lagi, ini demi menjaga hatinya. Dia takut semakin mencintai Sabda. Karena bagaimanapun, meski Sabda dan Fasya akan bercerai, Sabda belum memberi kejelasan tentang hubungan mereka. Selain itu, Sabda tidak mencintainya.
"Aku hargai keputusanmu." Sabda mencoba untuk berlapang dada meski rasanya berat. Harapannya saat ini, adalah bisa dekat dengan Nuri dan bisa selalu memantau perkembangan anaknya yang sebentar lagi akan lahir. Tapi dia tak mau memaksa Nuri. Karena kembali lagi, menyamanan Nuri yang paling utama.
.
.
[Aku ada didepan rumahmu. Cepat keluar atau aku yang masuk]
Fasya berdecak pelan saat mendapat pesan dari nomor yang tak dikenal. Dia yakin itu Ringgo yang menggunakan nomor lain. Nomor pria itu memang sudah dia blokir sejak beberapa hari yang lalu.
Fasya tak menghiraukan ancaman Ringgo. Meski pria itu masuk, dia tak peduli. Toh skandalnya dengan Ringgo sudah diketahui semua orang.
Kling
Satu lagi pesan masuk. Fasya mengernyit saat nomor tadi mengirim foto. Mata Fasya terbeliak lebar saat melihat foto apa yang dikirim Ringgo.
Fasya mengumpat kesal sambil menatap fotonya yang sedang melakukan hubungan suami istri dengan Ringgo. Bisa bisanya dia tidak tahu jika Ringgo merekam adegan ranjang mereka.
[Itu hanya foto. Tapi jangan khawatir, aku punya videonya. Keluar atau aku sebarkan video tersebut]
__ADS_1
Fasya membuang nafa kasar. Mau tak mau, dia keluar untuk menemui Ringgo. Pria gila itu terobsesi padanya, jadi bisa dipastikan dia akan terus memaksanya untuk bertemu.
Saat keluar dari pintu gerbang, Fasya melihat mobil Ringgo yang terparkir diseberan jalan rumah Sabda. Fasya sampai heran, nekat sekali pria itu.
Sedangkan didalam mobil, Ringgo tersenyum puas melihat Fasya akhirnya keluar untuk menemuinya. Dia akan melakukan apapun untuk terus bisa berhubungan dengan Fasya. Dia sangat terobsesi dengan wanita itu.
Dengan senyum lebar, Ringgo membukakan pintu dari dalam untuk Fasya.
"Aku tak suka kau terus mengancamku." Ujar Fasya saat dia sudah berada didalam mobil Ringgo.
"Itu karena kau mengabaikan panggilan maupun pesanku." Ringgo melajukan mobilnya meninggalkan depan rumah Sabda. "Berapa kali aku harus mengingatkanmu. Jangan macam macam padaku, apalagi coba coba untuk lepas dariku." Kaliamat bernada ancaman itu tak digubris sama sekali oleh Fasya.
Fasya menyandarkan punggungnya dikursi mobil. Menyesal telah berurusan dengan pria psikopat seperti Ringgo. Dan semua kehancuran hidupnya, adalah karena pria itu.
"Hapus video itu." Ujar Fasya sambil menoleh kearah Ringgo.
"Jangan harap."
Fasya mendesis sebal. Dia benar benar dalam posisi sulit. Saat ini, hidupnya seperti ada dalam genggaman Ringgo.
"Mau turun sendiri atau aku gendong?" Ringgo memberikan tatapan penuh intimidasi.
Fasya menghela nafas lalu melepas seatbelt. Keduanya keluar dari mobil lalu berjalan beriringan masuk keapartemen.
Sesampainya diunit apartemennya, Ringgo langsung menyambar bibir Fasya. Dia sangat merindukan bibir yang membuatnya candu itu. Fasya hanya diam, sama sekali tak membalas karena saat dia memang tak ada hasrat untuk berhubungan badan.
"Aku sangat merindukanmu sayang." Ringgo terus mencium Fasya. Bersamaan dengan ciuman yang makin menuntut, Ringgo mengusap lembut perut Fasya. "Apa kabar dengan anakku?" tanyanya saat pagutan bibir mereka terlepas.
Ringgo menunduk, memberikan kecupan lembut diperut Fasya. "Apa dia rewel? Apa dia sering merepotkanmu karena merasa mual setiap pagi?"
Fasya menggeleng dengan tatapan datar.
"Wow, kau pintar sekali sayang." Ringgo kembali mencium perut Fasya. "Daddy tak sabar ingin segera melihatmu tumbuh besar didalam perut mommy."
__ADS_1
"Dia sudah tidak ada."
Mata Ringgo langsung terbeliak mendengar ucapan Fasya barusan. Dia menegakkan badan sambil menatap kedua netra Fasya.
"Apa maksud ucapanmu barusan?"
"Dia sudah tidak ada." Fasya mengulangi lagi kalimatnya.
Rahang Ringgo langsung mengeras. Dia mencengkeram rahang Fasya dengan sangat kuat. "Apa yang kau lakukan padanya?"
Fasya gemetaran, dia bisa melihat kilatan penuh amarah dikedua mata Ringgo. Pria itu seperti memiliki kepribadian ganda. Setelah beberapa detik yang lalu tersenyum hangat dan berbicara sangat lembut, sekarang tatapan matanya seperti seorang yang siap menghabisi lawannya.
"Apa yang telah kau lakukan padanya?" teriak Ringgo. Wajahnya merah padam dengan nafas memburu. Cengkeramannya dirahang Fasya makin kuat hingga Fasya merasa sangat kesakitan.
"Le, lepas." Fasya sampai kesulitan bicara. Dia berusaha menarik tangan Ringgo agar melepaskan cengkeramannya.
Melihat mata Fasya yang mengeluarkan air mata, Ringgo sedikit melembut, dia melepaskan cengkeramannya. Fasya menyentuh rahangnya yang sakit sambil pelan pelan menggerakkannya.
Dengan lepasnya cengkeramannya itu, bukan berarti kemarahan Ringgo sudah reda. Dengan nafas yang masih memburu, pria itu mendorong tubuh Fasya hingga membentur dinding. Menahan kedua bahunya hingga Fasya tak bisa bergerak sedikitpun. "Kenapa kau lakukan itu hah?" Dia berteriak tepat didepan wajah Fasya.
Tubuh Fasya bergetar hebat dan air matanya mengalir. Dia takut sekali saat ini. Dia sangat mengenal Ringgo, meski pria itu terobsesi padanya, tapi dia seorang psikopat. Tak ada jaminan pria itu tak akan mencelakainya.
"Kenapa kau membunuh anakku?" teriak Ringgo.
Fasya menggeleng, wajahnya pucat pasi seperti tak ada darah yang mengalir ditubuhnya. "Bu, bukan aku yang, yang melakukannya," ucapnya terbata.
"Apa maksudmu?" Ringgo mengerutkan kening.
"Yulia, yang melakukan itu. Dia yang sudah membuatku keguguran."
"Yulia?" Ringgo melepaskan kedua tangannya yang menekan Fasya didinding. "Siapa Yulia?"
"Ibu mertuaku. Sabda sudah tahu tentang perselingkuhan kita."
__ADS_1
Ringgo mundur beberapa langkah. Dia akhirnya tahu kenapa Fasya tak takut lagi dengan ancamannya yang akan mengadu pada Sabda. Ternyata pria itu sudah tahu semuanya.
"Yulia mendorongku hingga terjatuh dan aku keguguran. Bukan aku yang membunuh anakmu, tapi Yulia."