9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 60


__ADS_3

Ketika tak kunjung bisa tidur karena pikiran yang kacau, Sabda mengambil ponselnya. Ya, mungkin bicara dengan Nuri dan melihat anaknya, bisa membuat hatinya lebih tenang. Dia menghubungi Nuri melalui panggilan video. Tak berapa lama kemudian, tampak wajah Nuri dilayar ponselnya.


Nuri, bukannya menyapa atau mengucapkan salam, dia malah mengerutkan kening menatap Sabda.


"Kakak kenapa?"


"Memangnya ada apa denganku?" Sabda malah balik bertanya.


"Kakak tak terlihat baik baik saja."


"Benarkan?" Sabda tersenyum meski terlihat sangat terpaksa.


"Kakak ada masalah?"


Sabda menggeleng. "Aku baik baik saja." Dia sedang tak ingin dikasihani saat ini.


"Mulut Kakak bisa bohong, tapi tidak dengan mata." Selain mata Sabda yang sedikit bengkak, Nuri juga melihat sorot kesedihan disana. "Laki-laki bukan tipe makhluk yang cengeng. Saat dia menangis, itu tandanya, dia sudah benar benar ada dibatas kemampuannya, dititik terendahnya."


Lagi lagi, Sabda menyunggingkan senyum palsunya. "Sejak kapan kau jadi paranormal?"


"Kak.." Nuri sedang tak ingin becanda.


"Boleh aku melihat anakku. Aku merindukannya meski baru tadi pagi aku kembali ke Jakarta." Sabda ingin menenangkan pikirannya, bukan membahas soalnya.


Nuri mengarahkan kamera ponsel keperutnya yang buncit.


Menggunakan ibu jarinya, Sabda mengusap layar ponsel yang menunjukkan gambar perut Nuri. Tak hanya mengusap, dia juga mengecup sekilas.


"Hai boy, papa merindukanmu. Papa tak sabar ingin segera melihatmu lahir kedunia. Jangan menedang mamamu dengan keras. Kasihan, kasurnya sudah sangat keras, jangan kau tambah lagi dengan tendangan yang kuat."


"Gak lucu," ujar Nuri sambil tertawa.


Sabda ikut tertawa. Bukan tawa yang dibuat buat, tapi dia memang tertawa. Dia sendiri merasa aneh, dia pikir, mustahil untuk tertawa saat ini. Tapi nyatanya, dia bisa tertawa hanya karena melihat tawa Nuri.


"Oh iya aku sampai lupa," Nuri menepuk dahinya sendiri. "Sekarang kasurku sudah tidak keras."


"Jadi kasurnya sudah datang."

__ADS_1


"Hem," Nuri mengangguk. "Kasurnya bagus dan sangat empuk. Tapi ada berita buruknya."


"Apa?" Sabda mengerutkan kening.


"Sepertinya besok aku akan bangun kesiangan karena terlalu nyenyak tidur," sahutnya sambil tertawa. "Mau lihat kasurnya gak?" Nuri yang tadinya ada diteras masuk kedalam rumah. Dia menuju kamar untuk menunjukkan pada Sabda kasur baru yang siang tadi diantar kerumahnya.


"Tuh lihat, bagus bangetkan?" Nuri yang baru memasuki kamar langsung menunjukkan kasur barunya dimana ada Hilma yang sedang tidur.


"Siapa Teh, Aa ya?" Nuri pikir bocah itu sudah tidur, ternyata dia salah. Hilma yang tadinya berbaring, langsung duduk. Dia ingin ikut bicara dengan kakak iparnya.


Nuri mengangguk sambil berjalan kearah kasur lalu duduk disebelah Hilma.


"Aa, makasih kasur barunya." Hilma mendekat kearah ponsel agar wajahnya kelihatan.


"Kamu suka?"


"Gak suka, tapi banget." Hilma menaik turunkan bokongnya diatas kasur. Menunjukkan pada Sabda betapa empuk dan nyamannya kasur baru itu.


Sabda tak habis pikir. Hanya kasur yang tak seberapa mahal, tapi Nuri dan keluarganya terlihat sangat senang. Sedangkan Fasya, uang bulanan yang sangat banyak, habis untuk apa hingga dia masih saja kurang dan nekat mencuri.


"A, minggu depan Hilma ulang tahun. Boleh gak Hilma minta hadiah?"


"Boleh, emang mau hadiah apa dari Aa?"


"Gak usah ditanggepin Kak." Nuri merasa tak enak hati.


"Emangnya kenapa? Ulang tahun itu hanya setahun sekali. Jadi wajar jika minta hadiah. Hilma mau apa?" Sabda ganti menatap Hilma. "Asal bukan minta jalan jalan kebulan atau mars, pasti Aa sanggupin hadiahnya."


"Benaran A, bakal dikabulin apapun permintaan Hilma?" Hilma tampak girang.


"Iya."


"Emmm..." Hilma menatap Nuri. Kakaknya itu masih saja menggeleng sambil melotot. "Aku mau Aa datang kesini lagi."


Nuri terkejut mendengar permintaan Hilma, begitupun dengan Sabda.


"Selama Teteh disini, dia tak pernah terlihat bahagia. Setiap hari aku melihatnya menangis dan murung. Baru saat Aa kesini, aku melihat Teteh banyak senyum. Jadi aku ingin Aa kesini lagi biar teteh bahagia."

__ADS_1


Nuri mengalihkan pandangannya kearah lain. Matanya berkaca kaca. Dia tak menyangka jika selama ini, Hilma sangat peduli padanya. Adik kecilnya itu bahkan memikirkan kebahagiaannya.


"Benarkah itu?" tanya Sabda. Dia memperhatikan Nuri, tapi sayangnya, Nuri malah melihat kearah lain.


"Hem," Hilma mengangguk. "Aa mau kan mengabulkan hadiahku?"


"Gak usah didengerin Kak." Ujar Nuri yang kembali melihat kelayar ponsel. "Aku tahu Kakak sangat sibuk. Gak usah diambil hati omongan Hilma."


Hilma seketika langsung cemberut.


"Maafkan aku Nuri. Tapi karena sudah berjanji akan mengabulkan permintaan Hilma dihari ulang tahunnya, aku akan datang."


"Yeeee...," seru Hilma.


Nuri menggigit bibir bawahnya. Jangan sampai dia kelepasan senyum karena senang. Tiba tiba Hilma turun dari ranjang dengan tergesa gesa.


"Mau kemana?" tanya Nuri.


"Kebelet." Sahut Hilma sambil berlari keluar kamar.


Sabda dan Nuri langsung tertawa gara gara tingkah konyol Hilma.


"Tidurlah, sudah malam," ujar Sabda.


"Kakak juga, tidurlah. Jangan menangis." Entah firasatnya benar atau tidak. Nuri merasa jika kesedihan Sabda ada hubungannya dengan Fasya. Mungkinkah pria itu sudah tahu jika istrinya selingkuh?


"Menangis? Siapa yang menangis? Kau pikir aku secengeng itu?"


Nuri langsung tergelak. "Ya, ya, aku tahu Kakak tidak cengeng. Mama mungkin seorang Sabda Mahendra yang gagah dan macho menangis. Sepertinya bengkak dimatamu bukan karena menangis, tapi digigit tawon."


"Hahaha." Tawa Sabda langsung meledak.


"Tawon perempuan yang jatuh hati padamu. Tapi karena gagal mendapatkan hatimu, dia yang marah malah menggigit matamu. Kaasiihann..." cibir Nuri.


"Tidurlah. Jangan sampai anakku ngembek dan menendangmu kuat karena kau tak segera tidur."


Nuri langsung mengangguk. "Selamat malam."

__ADS_1


"Katakan pada anakku selalu, jika papanya sangat menyayanginya. Selamat malam."


__ADS_2