
Selesai sholat isya, Hilma tak langsung pulang. Bocah itu masih disana dan bermain dengan teman teman seumurannya. Meski sering dimarahi ibunya karena tak langsung pulang setelah sholat, tapi masih saja dia suka membandel dan tetap bermain.
"Eh Hilma," panggil salah satu temannya. "Itu yang barusan lewat, kayak mobilnya Aa kamu. Suaminya Teh Nuri."
Hilma yang tak yakin langsung berlari ketepi jalan demi memastikan. Dan senyumnya seketika merekah saat melihat mobil tersebut belok kehalaman rumahnya. Dia berlari kembali keteras mushola untuk mengambil mukenanya.
"Aku pulang dulu." Teriaknya sambil berlari meninggalkan halaman mushola.
"Hil, kalau dapat oleh oleh dari Jakarta, aku jangan lupa dikasih," teriak Adam.
"Aku juga mau."
"Aku juga Hil."
Meski Hilma sudah agak jauh, teman temanya masih saja berteriak teriak.
Dengan semangat 45, sambil memeluk mukenanya yang terbungkus sajadah, Hilma berlari menuju rumah. "Aa." Teriaknya saat melihat Sabda berdiri diteras rumahnya.
Sabda yang hendak mengetuk pintu jadi menoleh.
Dengan nafas ngos ngosan, Hilma berhenti didepan Sabda. Gadis kecil itu tersenyum, terlihat sekali jika dia sangat senang.
Sabda memeluk Hilma sebentar. Melepaskan lalu menyentuh kepala gadis kecil yang mengenakan hijab itu.
"Kok sudah datang? Ulang tahun aku bukan hari ini. Masih seminggu lagi." Ujar Hilma sambil mengatur nafas.
Sabda langsung mengerucutkan bibirnya. "Jadi Aa tak boleh kesini?"
Hilma menggeleng cepat. "Boleh, sangat boleh. Teteh sudah tahu belum kalau Aa mau datang?"
"Belum." Jawab Sabda sambil menggeleng. "Tapi mungkin udah kedengeran suara mobil Aa tadi."
"Kayaknya enggak deh. Buktinya Teteh gak keluar. Lagian mobil Aa kan mahal, jadi suaranya pelan. Gak kayak mobil tetangga itu." Hilma menunjuk dagu kearah mobil yang terparkir didepah rumah Elis. "Mobilnya udah jalan 1km, tapi suaranya masih kedengeran."
Sabda tak kuasa menahan tawanya. Tapi Hilma, bocah itu langsung meletakkan telunjuknya dibibir. "Jangan berisik nanti Teteh denger."
__ADS_1
"Emang kenapa kalau denger?" Sabda mengerutkan kening.
"Aku pengen ngasih surprise ke Teteh." Hilma berlari ke pinggir jalan dimana ada pagar tanaman. Dia memetik bunga sepatu warna merah lalu kembali lagi menghampiri Sabda. Hilma membisikkan sesuatu dan langsung diangguki oleh Sabda.
Hilma masuk rumah lebih dulu. Kondisi rumah sangat sepi. Setahu dia kakaknya Fatma sedang kumpul dengan remaja mushola untuk membahas suatu hal. Sementara didapur terdengar bunyi wajan yang beradu dengan spatula, sepertinya ibunya dengan ada disana bersama bapak. Dia memberi isyarat menggunkan tangan agar Sabda mengekor dibelakangnya.
Hilma langsung menuju kamar dan mendapati Nuri sedang mendengarkan musik menggunakan headset. Sudah bisa dipastikan, tetehnya itu gak denger apa apa dari tadi.
Melihat Hilma menyodorkan bunga sepatu kehadapannya, Nuri langsung melepas headset yang menyumpal telinganya.
"Ngapain ngasih bunga itu ke Teteh?" tanya Nuri.
"Bukan dari aku. Tapi dari seseorang yang menunggu di teras."
"Siapa?" Nuri mengerutkan kening.
Hilma menggeleng. "Gak tahu, tapi dia laki laki."
Nuri menghela nafas. "Gak boleh main terima permberian orang, apalagi orang yang gak dikenal."
Nuri menggeleng. "Kamu tahukan, teteh udah nikah. Mana boleh teteh nemuin laki laki. Apalagi nerima bunga dari dia."
Sabda seperti tertampar mendengar ucapan Nuri. Selama ini, tak pernah dia memperlakukan Nuri seperti seorang istri. Dia hanya peduli karena Nuri hamil anak Dennis. Tapi Nuri, dia sangat menghargainya sebagai suami.
"Ayo temui dia Teh. Dia ganteng loh, ntar Teteh nyesel."
Nuri tetap menggeleng. "Enggak, A Sabda lebih genteng dari semua pria dimuka bumi ini."
Sabda langsung tersenyum. Entah pujian itu tulus atau hanya becandaan pada Hilma, tapi Sabda merasa sangat senang. Sampai sampai dia terus senyum senyum sendiri.
"Cie...bucin," ledek Hilma
"Hus, anak kecil udah ngomong bucin. Emang tahu bucin itu apa?"
"Budak cinta."
__ADS_1
Nuri seketika melotot. "Entar Teteh bilangin ke Teh Fatma biar gak minjemin kamu hp lagi. Kayaknya tontonan kamu udah mulai gak sesuai umur," omel Nuri.
"Jangan dong Teh. Lagian aku tahu bucin dari teman teman bukan dari hp," rengek Hilma sambil menarik narik lengan Nuri.
"Iya, iya, tapi janji gak boleh lihat tontonan yang gak sesuai umur."
Hilma langsung mengangguk cepat. "Terus, ini bunganya gimana?"
"Kembaliin sama orangnya. Lagian gak modal banget, masa ngasih bunga metik dari pagar depan." Nuri memutar kedua bola matanya malas.
"Jadi kalau bunganya bagus, Teteh mau nerima?"
"Ya tetap enggak."
"Kalau yang ngasih A Sabda? Mau dong?" goda Hilma. "A Sabda Teteh minta dibeliin bunga," teriak Hilma.
"Hilma," seru Nuri. "Apaan sih pakai teriak teriak. Lagian Kak Sabda gak ada disini."
"Kalau ada?"
Nuri teringat saat dia masih tinggal dirumah Sabda. Beberapa kali dia melihat Sabda pulang dengan membawa sebuket bunga untuk Fasya. Tapi dia tahu diri, dia hanya dinikahi karena anak dalam kandungannya. Tak mungkin dia berharap dibawakan bunga, apalagi diperlakukan sama seperti Fasya.
"Kalau adapun, gak mungkin dia ngasih Teteh bunga."
Sabda tersenyum kecut. Selama mereka menikah, dia memang tak pernah membelikan Nuri bunga. Dia hanya menganggap pernikahan itu suatu perjanjian, dimana dia tak berkewajiban bersikap selayaknya suami bagi Nuri. Dia lupa, jika Nuri tetaplah wanita dan statusnya sama seperti Fasya. Dia sudah sangat dzolim pada Nuri selama ini.
"Nak Sabda, kapan kamu datang?"
Nuri tersentak kaget saat mendengar suara bapaknya. Apa maksudnya kapan datang? Dia segera turun dari ranjang lalu keluar kamar.
"Baru saja Pak," Sabda mendekati mertuanya lalu mencium tangannya.
Nuri kaget mendapati Sabda ada dirumahnya. Semoga saja dia tak mendengar obrolannya dengan Hilma barusan.
"Dari tadi A Sabda ngumpet di balik dinding dekat pintu kamar."
__ADS_1
Mulut Nuri menganga lebar. Wajahnya memerah karena malu. Apalagi saat ingat dia memuji Sabda paling tampan didunia. Semoga saja Sabda tak salah paham. Jangan sampai pria itu tahu kalau dia menyukainya.