9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 68


__ADS_3

Sudah seminggu Sabda meninggalkan rumah. Dan Yulia, tentu saja wanita itu mencemaskan putranya. Setiap kali dia telepon, Sabda hanya bilang dia baik baik, dan kemudian langsung mengakhiri panggilan. Putranya itu sama sekali tak mau memberitahu dimana dia tinggal.


Dan siang ini, Yulia memutuskan untuk mendatangi Sabda di kantor. Tapi dia harus gigit jari karena ternyata Sabda tak ada di ruangannya.


"Pak Sabda sudah seminggu ini tak datang ke kantor Bu," jelas sekretaris Sabda. Yulia cukup terkejut mendengar itu. Dia pikir Sabda hanya keluar dari rumah, tapi ternyata, dia juga tidak datang ke kantor.


"Alasannya? Eh, maksud saya, apa dia ada pekerjaan di luar kota?"


"Maaf, beliau tak memberitahu alasannya. Dan setahu saya, kepergiannya bukan untuk urusan kantor."


Yulia makin yakin jika Sabda pergi untuk menemui Nuri.


Felix, Yulia langsung teringat pria itu. Dia yakin jika Felix pasti tahu dimana Sabda saat ini. Tanpa menunggu lama, dia langsung menuju ruangan asisten Sabda tersebut. Tapi sebelum sampai disana, dia sudah berpapasan dengan Felix yang ternyata hendak menuju ruangan Sabda.


"Dimana Sabda?" tanya Yulia langsung tanpa basa basi.


"Maaf Bu, saya tidak tahu."


"Bohong, kamu pasti tahu."


Melihat beberapa staf melihat kearah mereka, Felix mengajak Yulia keruangannya. Sepertinya disana mereka bisa lebih leluasa bicara.


"Cepat katakan, dimana Sabda?" Tanya Yulia begitu mereka sampai diruangan Felix.


"Sekali lagi minta maaf Bu. Tapi Pak Sabda melarang saya memberi tahu dimana beliau berada saat ini."

__ADS_1


"Tapi saya ibunya." Yulia menunjuk dirinya sendiri. "Saya berhak tahu dimana dia sekarang." Suaranya terdengar mulai meninggi.


Felix menghela nafas. Kalau boleh memilih, dia lebih suka berhadapan dengan klien daripada Yulia. Perempuan itu selain cerewet, juga galak. Setidaknya itu menurut Felix. Ditatap Yulia saja, dia sudah merinding. Dia sampai heran, bisa bisanya Sabda yang bijaksana dan selalu terlihat tenang, memiliki ibu seperti Yulia. Tak hanya itu, Yulia juga sombong, sangat berbeda dengan Sabda.


"Dimana Sabda?" Suara tinggi Yulia membuat Felix yang melamun langsung terjingkat kaget.


"Sa, saya tidak tahu."


Yulia melotot hingga bola matanya terlihat mau keluar. Dia sangat kesal pada Felix yang tak mau mengatakan dimana Sabda berada meskipun sebenarnya dia tahu.


"Yang pasti, beliau berada ditempat yang tepat dan aman saat ini. Jadi Ibu tak perlu khawatir. Pak Sabda baik baik saja," lanjut Felix.


Yulia berdecak pelan. Sepertinya percuma bertanya pada Felix. Pria itu terlalu patuh pada Sabda. Rasanya mustahil untuk membuatnya buka mulut.


"Apa dia sedang bersama Nuri?"


Felix kaget karena tebakan Yulia sangat tepat.


"Jadi benar dia sedang bersama Nuri?"


"A, a, i, itu," Felix bingung sendiri.


"Gak usah dijawab, karena saya sudah tahu jawabannya dari ekspresi wajahmu."


Lagi lagi, Felix hanya bisa menghela nafas berat. Kenapa wajahnya tak bisa diajak kompromi untuk berbohong.

__ADS_1


"Saya ingin bertemu Nuri, bisa kamu beritahu dimana dia saat ini?" Yulia tak tahu dimana kampung halaman Nuri. Sejak beberapa hari yang lalu, dia mencoba mencari data diri Nuri diruang kerja Sabda, tapi zonk, dia tak menemukan apa-apa.


"Maaf Bu, saya tak bisa mengatakan itu."


"Saya hanya ingin minta maaf padanya." Yulia yang tadi tampak bersungut sungut, tiba tiba merubah melow. Raut wajahnya perlahan mulai melembut, tak lagi horor seperti tadi. Mungkin dia sedang teringat apa yang telah dia lakukan pada Nuri, batin Felix.


"Apa dia ada dirumah orang tuanya? Jika iya, tolong beritahu dimana rumah orang tuanya."


Melihat ekspresi Yulia yang penuh penyesalan, Felix jadi tak tega. Tapi bagaimanapun, dia harus menjaga amanah Sabda untuk tidak mengatakan pada siapapun dimana keberadaan Nuri saat ini.


"Sekali lagi, saya minta maaf. Saya hanya menjalankan amanah dari Pak Sabda."


Yulia tiba tiba tersenyum sambil melihat kearah Felix. "Pantas saja Sabda sangat percaya padamu. Ternyata kamu memang bisa diandalkan."


Felix tersenyum kecut. Entah yang baru saja dia dengar tadi pujian atau sindiran.


"Saya merasa banyak salah pada Nuri." Yulia tersenyum getir tatkala teringat apa yang dulu dia lakukan pada Nuri. "Kita tak pernah tahu akan sepanjang apa umur kita. Mungkin bisa hidup hingga seratus tahun, atau mungkin hanya sampai besok atau lusa. Jangan sampai saat ajak tiba tiba menjemput, saya belum sempat minta maaf pada Nuri."


Kata kata Yulia terdengar sangat dalam, membuat Felix seperti terhipnotis. Hampir saja dia mengatakan alamat tempat tinggal Nuri kalau tak terdengar suara ketukan dari luar.


Tok tok tok


"Iya masuk."


Seorang wanita muda masuk kedalam ruangan Felix dan memberitahunya jika klien yang dia tunggu sudah datang.

__ADS_1


"Maaf Bu Yulia, sepertinya saya harus pergi untuk bertemu klien."


Yulia mengangguk, dia mempersilakan Felix untuk pergi.


__ADS_2