9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 48


__ADS_3

"Teh, itu yang jualan rujak lewat." Teriak Hilma dari teras. Sejak tadi adik bungsu Nuri itu standby disana, menunggu penjual rujak buah lewat. Tentu saja itu atas perintah si teteh yang lagi kepengen rujak buah.


Hilma berlari menghampiri mamang penjual rujak. Memintanya untuk berhenti dan menunggu sebentar sampai kakaknya keluar.


"Teh, cepetan." Hilma kembali berteriak. Tapi kali ini tak dari teras, melainkan dari tepi jalan dimana penjual memarkir gerobaknya.


Tak lama kemudian Nuri keluar dari dalam rumah lalu menghampiri Hilma yang sedang berteduh dibawah pohon kersen bersama mamang penjual rujak.


"Mang, mau rujak 3 bungkus. Yang 1 bungkus mangga aja ya."


"Siap Neng. Eh, tapi kalau isinya mangga aja, harganya beda, nambah dikit."


"Iya, gak papa."


Mamang penjual rujak langsung sigap meracik rujak pesanan Nuri. Melihat mamang mengupas mangga, Nuri serasa mau ngiler. Apalagi udara sedang panas gini, gak sabar rasanya makan yang seger seger.


"Eh Nuri." Bu Minah yang tinggal didepan rumah Nuri ikut datang. "Udah gede aja perutnya." Ucapnya sambil menatap perut Nuri. "Gak tahu kapan nikahnya, eh tau tau udah gede aja."


Kalimat bernada sindiran itu tak dihiraukan sama sekali oleh Nuri.


"Hilma, kamu masuk gih, kayaknya tadi dipanggil ibu." Nuri sengaja menyuruh adiknya masuk agar tak mendengar permasalahan orang dewasa.


Hilma yang memang penurut itu langsung berlari masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Kamu udah lama disini, tapi kok suami kamu gak pernah datang sih? Ada masalah ya sama suami?"


"Mang, agak cepet ya." Nuri merasa tak wajib menjawab pertanyaan Bu Minah. Lagian tak baik mengumbar urusan rumah tangga. Apalagi didepan orang kepo macam Bu Minah.


Bu Minah terlihat kesal karena Nuri sama sekali tak menanggapi. Melihat ada tetangga yang keluar rumah, dia langsung iseng memanggil. "Ceu Elis sini dong. Panas panas makan rujak seger." Panggilnya sambil melambaikan tangan.


Nuri sangat sadar jika Bu Minah sedang mencari teman untuk mencibirnya. Rupanya tetangganya itu tak puas hanya didiamkan.


"Eh ada Nuri," ujar Bu Elis sambil tersenyum.


Nuri hanya tersenyum menanggapi perkataan Bu Elis.


"Eh Nur, beneran kamu udah pisah sama suami kamu?" Setelah Bu Minah didiamkan, Bu Elis ganti yang kepo.


"Eh Mang, kita itu mau beli, kok malah diusir," sewot Bu Minah.


Mamang penjual rujak hanya bisa menghela nafas sambil geleng geleng.


"Makanya Nur, kalau cari laki itu yang masih single, jangan suami orang. Kalau ketahuan istrinya, kamu sendirikan yang rugi. Kamu ditinggalin karena dia lebih milih yang tua." Meski perkataan Bu Elis menyakitkan, tapi Nuri hanya diam karena tak bisa menyangkal, dia memang istri ke dua.


"Jadi beneran Nur, kamu ini istri kedua?" Bu Minah makin memperjelas.


"Ya benarlah Ceu Minah. Orang Bu RT sendiri yang cerita sama saya. Waktu ngurus surat nikah, status suaminya Nuri itu sudah menikah, bukan lajang ataupun duda." Nuri yang ditanya, tapi Bu Elis yang menggantikan menjawab.

__ADS_1


"Ya Tuhan Nuri, kasihan sekali kamu. Saat mau lahiran, eh...dicampakin sama suami." Bibir Bu Minah mengatakan kasihan, tapi nada suara dan wajahnya terlihat seperti mencibir.


Mamang penjual rujak yang kasihan melihat Nuri, mempercepat membungkus pesanan Nuri. "Sudah Neng." Ucapnya sambil memasukkan 3 bungkus rujak kedalam keresek.


"Berapa Mang?"


"Eh, eh, siapa tuh? Kok ada mobil bagus berhenti jalan kearah sini?" Ujar Ceu Elis sambil menatap mobil mewah yang berjalan pelan kearah mereka.


Mereka berempat, termasuk penjual rujak langsung melihat kearah mobil tersebut. Mereka kian penasaran saat mobil itu berhenti didekat mereka.


Nuri mengerutkan kening. Itu bukan mobil yang biasa Sabda pakai. Dan sepertinya, itu juga bukan mobil asisten Sabda yang hari itu mengantarnya pulang. Lalu siapa orang didalam mobil tersebut?


"Eh, kira kira itu tamunya siapa ya?" gumam Bu Minah.


"Tamunya Pak Narto polisi kali." Dikampung mereka, bisa dibilang jika Pak Narto yang paling kaya.


Saat pintu mobil dibuka dari dalam. Nuri tercengang melihat siapa yang keluar dari mobil tersebut.


"Kak Sabda," gumam Nuri.


"Tamu kamu Neng," tanya mamang.


"Suami saya Mang."

__ADS_1


Mulut Bu Minah dan Bu Elis langsung menganga lebar.


__ADS_2