9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 69


__ADS_3

Sudah seminggu lebih Sabda berada di rumah Nuri. Meski berat, hari ini mau tidak mau, dia harus pulang ke Jakarta. Ada banyak sekali pekerjaan yang sedang menunggunya.


"Kamu yakin, tak mau ikut aku ke Jakarta?" Meski hari itu bilang tak mau memaksa, tapi Sabda masih berharap Nuri mau ikut dengannya.


"Kalau Kakak memaksa, aku akan ikut." Sahut Nuri yang duduk disebelahnya.


Sabda dalam dilema. Ribet sekali, padahal dia hanya perlu bilang, kamu harus ikut denganku, dan saat itu, Nuri akan langsung ikut. Tapi dia sengaja tak melakukan sesuatu yang terkesan seperti pemaksaan itu.


Seminggu lebih disini, Sabda merasakan kenyamanan yang luar biasa. Selain karena keluarga Nuri menerimanya dengan terbuka, juga karena Nuri selalu bisa membuatnya tersenyum. Dia bisa melupakan Fasya, sesuatu yang dia pikir sangat mustahil.


Disaat Sabda masih sibuk dengan pikirannya, ponselnya berdering. Ada nama Felix dilayar.


"Iya," ucap Sabda begitu telepon terhubung.


"Apakah Bapak sudah dalam perjalanan? Jam 2 nanti Bapak ada meeting yang tak bisa diwakilkan."


Sabda menghela nafas berat. Kalau saja pekerjaan tak sedang menunggunya, dia akan tetap disini. Menemani Nuri hingga dia melahirkan.


"Aku harus segera pulang." Sabda beranjak dari ranjang, mengecek kembali barang barang pentingnya, takut ada yang tertinggal. Setelah semuanya siap, dia berpamitan pada ibu dan bapak. Fatma dan Hilma sedang sekolah. Tapi semalam, Sabda sudah memberitahu mereka jika pagi ini akan pulang ke Jakarta. Hilma, bocah itu jelas langsung sedih. Bahkan dia sempat merengek melarang Sabda agar tidak pulang.


"Jangan khawatir, ibu akan jaga Nuri dan kandungannya dengan baik. Lagi pula disini dekat dengan rumah bidan, jadi mudah kalau mau lahiran," ujar Bu Titin.

__ADS_1


"Nitip Nuri ya Pak, Bu."


Air mata Nuri meleleh. Dia terharu mendengar ucapan Sabda barusan. Rasanya, dia menjadi orang yang penting bagi Sabda sampai harus dititipkan keorang tuanya.


Mereka bertiga lalu mengantarkan Sabda keluar rumah. Bapak dan ibu mengantar sampai teras, sedang Nuri, dia mengantar hingga pintu mobil.


Sebelum membuka pintu mobil, Sabda kembali menatap Nuri. Berharap disaat saat terakhir, Nuri akan bilang, aku ikut denganmu.


Sementara Nuri, dia buru buru menyeka air matanya yang meleleh. Jangan bilang dia tak berat berpisah dengan Sabda. Dia juga merasa berat. Tapi kembali lagi ke pertimbangan utamanya. Semakin dia dekat dengan Sabda, luka saat mereka berpisah nanti, akan sangat terasa.


Sabda menunduk lalu mengusap perut Nuri. "Hai jagoan, maaf papa terpaksa harus pergi. Bukan karena papa tak sayang sama kamu. Papa sayang, sayang banget.Tapi papa juga punya kewajibab lain, jadi papa harus pergi. Boleh gak papa minta sesuatu? Jaga mama kamu. Buat dia bahagia dengan tendangan tendangan kecilmu."


Nuri menggigit bibir bawahnya, berusaha agar tangisnya tak semakin pecah.


"Aku akan meneleponmu setiap hari." Sabda tiba tiba menggeleng cepat. "Tidak, tidak, aku akan menelpon berkali kali sehari. Jika sedikit saja merasakan kontraksi, segera telepon. Aku akan langsung datang."


Nuri hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Sabda melihat jam tangannya, dia harus segera pulang jika tak mau terlambat meeting nantinya. Sebuah kecupan mendarat dikening Nuri. Cukup lama, hingga membuat jantung Nuri berdetak 2 kali lebih cepat.


"Papa pulang dulu boy." Sabda mengusap perut Nuri lalu masuk kedalam mobil.

__ADS_1


Hanya melihat dari teras saja, bapak dan ibu tahu jika sebenarnya, keduanya berat untuk berpisah. Tapi mereka yakin, ada alasan kuat kenapa Nuri tak mau ikut ke Jakarta.


Sabda membuka kaca jendela lalu melambaikan tangan kearah Nuri, pun demikian dengan Nuri balas melambaikan tangan.


"Hati-hati dijalan. Telepon aku jika sudah sampai."


Sabda mengangguk lalu menutup kembali kaca mobil dan menyalakan mesin. Bahkan disaat inipun, dia masih berdoa dalam hati supaya Nuri berubah pikiran. Tapi harapannya pupus saat mobil yang dia kendarai keluar dari halaman rumah Nuri.


Sabda melajukan mobilnya menuju Jakarta. Tak mau larut dalam kesedihan, dia mengingat ingat kembali momen kebersamaannya dikampung bersama Nuri. Dan sepertinya cara itu sangat ampuh, terbukti saat ini, dia mulai senyum senyum sendiri.


Nuri, kenapa dia rindu wanita itu meski baru beberapa menit saja mereka berpisah. Dan disaat dia tengah memikirkan Nuri, ponselnya berdering, tertera nama Nuri dilayar ponsel.


Sabda memasang handsfree lalu menerima panggilan Nuri.


"Ada apa Nuri?"


"Bisakah Kakak kembali lagi?"


Sabda mengerutkan kening. Mungkinkah ada barangnya yang tertinggal. Sudah sekitar 15 menit dia berkendara. Belum terlalu jauh dari rumah Nuri.


"Apa a_"

__ADS_1


"Aku ingin ikut ke Jakarta."


Tanpa berpfikir dua kali, Sabda langsung memutar balik. Kembali kerumah Nuri untuk menjemputnya.


__ADS_2