9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 54


__ADS_3

Nuri membereskan ranjang, mengganti sprei lalu menyusun kembali bantal dan guling. Malam, untuk pertama kalinya, dia akan tidur seranjang dengan Sabda. Rumah ini hanya ada 2 buah kamar. Dan malam ini, Fatma yang biasanya tidur sekamar dengan Nuri, terpaksa tidur dikamar ibunya bersama Hilma. Untungnya malam ini jadwal Bapaknya meronda, jadi tak tidur dirumah. Sementara Felix, pria itu tidur didalam mobil.


Sabda terlihat segar setelah mandi dan ganti baju. Kaos warna putih yang tadi dipilihkan Nuri saat di mall terlihat sangat cocok untuknya. Dan membuat dia terlihat lebih tampan dari biasanya.


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku sangat tampan?"


Nuri langsung menunduk, menyembunyikan pipinya yang merona karena malu ketahuan menatap Sabda.


"Aku tak yakin Kakak akan bisa tidur malam ini. Kasurnya sangat keras." Nuri menepuk nepuk kasur yang tak ada empuk empuknya sedikitpun.


Sabda mencoba duduk diatas kasur. Dan seketika, dia tertawa ringan. Dia tak tahu apa yang sedang dia duduki saat ini. Yang pasti, ini tak terasa seperti kasur.


"Tadi aku sudah menyuruh Felix membeli kasur. Katanya besok barangnya akan dikirim."


"Harusnya Kakak tak perlu repot repot."


Nuri naik keatas ranjang. Menepuk nepuk bantal sebentar lalu merebahkan badan. Tubuhnya terasa sangat lelah hari ini.


"Sudah ngantuk?" tanya Sabda.


"Sedikit."


Sabda ikut naik keatas ranjang. Berbaring disebelah Nuri dengan berbantalkan kedua lengannya.


Jantung Nuri seketika berdegup kencang. Berbaring bersebelahan dengan Sabda dengan badan yang berdempetan membuat perasaanya tak karuan. Rasa kantuknya langsung hilang. Ukuran ranjang yang sempit membuat keduanya tak bisa menjaga jarak.


Sabda mengusap perut Nuri dengan lembut. Biasanya terasa biasanya saja. Tapi malam ini, tubuh Nuri terasa berdesir karena sentuhan itu.


"Tidurlah, kau pasti lelah."


Nuri mengangguk, lalu memiringkan badannya memunggungi Sabda. Baru saja Nuri memejamkan mata, dia merasa sebuah lengan melingkar dipinggangnya. Sabda memeluknya dari belakang, telapak tangan yang lebar mengusap perut Nuri.

__ADS_1


Nuri berusaha untuk tidur, tapi pelukan Sabda malah membuatnya gugup dan kehilangan rasa kantuk.


Telapak tangan Sabda masih terus bergerak mengusap perutnya, membuat Nuri yakin jika pria itu belum tidur.


"Gak bisa tidur?" tanya Sabda.


"Kak, boleh aku bicara?"


Sabda langsung tergelak. "Memangnya aku pernah melarangmu bicara?"


Benar juga, batin Nuri. Tapi kali ini, yang ingin dia bicarakan adalah hal yang serius, makanya tadi dia bertanya lebih dulu.


"Bolehkah perjanjian kita dibatalkan?"


Gerakan tangan Sabda langsung terhenti. "Apa maksudmu?"


Nuri menghela nafas, mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan isi hatinya. Dia lalu membalikan badan menghadap Sabda.


"Bolehkah jika perjanjian kita dibatalkan? Aku...." Nuri menggigit bibir bawahnya sambil manahan air mata. "Aku ingin mengurus sendiri anakku."


"Aku takut Kak. Aku tahu kau menyayangi anak ini. Tapi Kak Fasya dan ibumu, aku tak yakin mereka mau menerima dan menyayangi anakku." Air mata Nuri meleleh dari sudut matanya. "Aku takut mereka akan berbuat buruk pada anakku."


Nuri sudah pernah melakukan kesalahan hingga hamil diluar nikah. Dan sekarang, dia tak mau melakukan kesalahan yang sama dengan memberikan anaknya pada orang yang tidak tepat.


"Itu tidak akan pernah terjadi." Sabda memegang kedua tangan Nuri untuk meyakinkannya. Ketakutannya sangat beralasan, dan Sabda paham itu. "Mereka akan menerima anak itu dan menyayanginya."


Nuri menggeleng dengan air mata yang makin turun deras. "Aku tak yakin mereka akan menyayangi anakku Kak. Aku tak mau mengorbankan anakku hanya demi kompensasi yang kau berikan. Bisakah jika perjanjian kita dibatalkan?" Nuri makin sesenggukan. "Aku ingin mengurus anakku sendiri." Nuri tak mau mempertaruhkan kebahagiaan anaknya.


Sabda merasakan dadanya sesak. Dia tahu ini berat untuk Nuri. Tapi dia sangat menginginkan anak itu. Dia satu satunya penerus keluarganya.


"Aku tak tahu kamu akan percaya atau tidak. Sebenarnya aku.... ku tidak bisa memiliki anak Nuri." Sabda melihat kelangit langit. Bukan mudah untuk mengakui ketidak sempurnaannya. Butuh keberanian yang tinggi. "Aku mandul." Bersamaan dengan itu, air mata Sabda meleleh. "Aku pria tak berguna. Bahkan untuk membuat istriku hamil saja, aku tidak mampu."

__ADS_1


Nuri menggeleng, dia tak tega melihat Sabda yang tampak sangat rapuh. Dia seperti ikut merasakan kesedihannya. Dengan kedua ibu jarinya, Nuri menyeka air mata Sabda.


Sabda memegang kedua telapak tangan Nuri lalu menggenggamnya.


"Aku mohon, berikan anak itu padaku. Aku bersumpah akan menjaganya dengan sepenuh hati. Dia tak akan kekurangan satu apapun, baik materi ataupun kasih sayang. Fasya dan Ibu, mereka akan menerima anak itu karena sudah tahu jika aku tak akan bisa memiliki anak. Aku mohon Nuri, jangan pernah sekali lagi berfikiran untuk membatalkan perjanjian kita."


Nuri tak sanggup melihat ekspresi penuh permohonan diwajah Sabda.


"Kamu masih muda Nuri. Masa depanmu masih panjang. Setelah melahirkan, kau bisa melanjutkan kuliah. Kejar cita citamu. Bahkan jika kau ingin kuliah diluar negeripun, aku akan mewujudkannya. Aku akan memberikan apapun yang kau mau asal kau menyerahkan anak itu."


Tangis Nuri makin pecah. Dia memegangi perutnya sambil sesenggukan.


"Anak ini harapanku satu satunya Nuri. Berbeda dengan dirimu. Kamu cantik, kamu bisa mendapatkan laki laki yang baik dan tulus mencintaimu. Menikah, lalu punya anak. Masa depan yang indah menantimu. Dan sesuai janjiku dulu, kau masih bisa bertemu anakmu." Sabda memeluk Nuri yang terisak. Ini memang berat. Tapi dia yakin, akan ada masa depan yang indah menanti Nuri.


"Aku juga akan merenovasi rumah ini. Membuat keluargamu hidup dengan lebih layak. Dan Fatma, aku juga akan membiayai kuliahnya. Biarkan aku menanggung hidup seluruh keluargamu, tapi berikan anak itu padaku."


Nuri membenamkan wajah sembabnya didada Sabda. Penawaran Sabda memang sangat menggiurkan, tapi hati nuraninya sebagai ibu, tak ingin melepaskan anaknya.


"Masa depan yang indah menantimu Nuri."


"Aku semakin merasa buruk Kak. Aku sama saja dengan menukar anakku dengan uang."


Sabda menggeleng cepat. "Itu sama sekali tidak benar. Kau hanya memberikan anakmu pada keluarga ayahnya, hanya itu."


Nuri masih terus menangis. Hingga akhirnya dia lelah dan tertidur didekapan Sabda.


"Semoga kelak, kau akan menemukan pria yang tepat Nuri. Aku akan selalu mendoakan kebahagianmu." Sabda mengecup kening Nuri lalu ikut memejamkan mata.


Pagi hari, Sabda dan Felix langsung pamit pulang. Masih banyak hal yang harus mereka urus, salah satunya masalah tanah.


"Aku akan sering sering menghubungimu. Dan jika ada waktu luang, aku akan kesini lagi. Jaga diri dan dia baik baik. Kalau ada apa apa, langsung hubungi aku." Sabda mengusap perut Nuri.

__ADS_1


"A, bolehkah kapan kapan, aku diajak main ke Jakarta?" tanya Hilma.


"Tentu saja boleh. Nanti kita semua jalan jalan ke Jakarta."


__ADS_2