9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 43


__ADS_3

Bagai tersambar petir, Fasya hampir saja jatuh jika tak berpegangan pada sisi brankar. Kakinya terasa lemas. Dan dunianya seakan runtuh tiba tiba.


Begitupun dengan Yulia, wanita itu syok mengetahui jika ternyata, putra satu satunya yang dia harapkan memberi keturunan, ternyata mandul. Dia teringat perkataan Nuri hari itu.


Anak ini adalah satu satunya cucu ibu, penerus keluarga ini. Ibu akan menyesal karena telah melakukan ini padaku.


"Kamu becandakan Mas? Katakan jika ini tidak benar?" Fasya masih berharap jika ini hanyalah omong kosong. Hari itu, jelas jelas dokter mengatakan jika mereka berdua sama sama tak ada masalah.


"Maafkan aku Sayang," ujar Sabda sambil menunduk. Dia tak mampu menatap Fasya, melihat kekecewaan dimata istrinya.


"Tapi, tapi hari itu_" Fasya tak sanggup meneruskan kalimatnya.


"Maaf, hari itu aku terpaksa memanipulasi hasil pemeriksaan."


Tangis Fasya langsung pecah. Tubuhnya bergetar hebat. Ingin sekali Sabda memeluk istrinya tersebut, namun sayang, tangannya yang gips tak mampu melakukan itu.


"Kenapa kamu menyembunyikan ini dariku, kenapa Mas?" Fasya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menangis sejadi jadinya karena merasa telah dipermainkan. Dia teringat kebersamaannya dengan Ringgo. Bahkan saat ini, belum hilang dari ingatannya pergulatannya semalam dan tadi pagi. Kenapa Sabda harus berbohong? Kalau saja dia tahu Sabda mandul, mungkin dia tak akan berselingkuh dengan Ringgo.


"Maafkan aku Fasya, maaf. Aku terlalu takut untuk jujur, aku takut kau akan meninggalkanku."


Dengan tubuh yang terasa lunglai, Fasya keluar dari ruang rawat Sabda. Sabda tak ingin menahannya kali ini. Dia tahu jika Fasya butuh waktu untuk sendiri. Dia hanya bisa berharap semoga Fasya mau menerima kekurangannya.


Yulia terduduk disofa. Tenggorokannya terasa tercekat. Dia hanya diam, tak mengeluarkan kata kata, hanya lelehan air mata yang merembes dari sudut matanya. Akhirnya dia tahu kenapa Sabda sangat menginginkan anak yang dikandung Nuri.


"Sekarang Ibu tahukan, apa alasanku sangat menginginkan anak itu?"


Yulia tak mampu berkata kata. Dia hanya diam seperti orang linglung.


Sementara Fasya, dia berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit dengan berderai air mata. Perlahan dia mengusap perutnya, bagaimana jika saat ini, sudah ada janin yang berkembang didalamnya.


Merasa tak mampu lagi berjalan, Fasya duduk disalah satu bangku panjang yang kosong. Sambil menutup wajah dengan telapak tangan, dia menangis sejadi jadinya. Tak peduli jika saat ini, beberapa orang yang lewat memperhatikannya. Dia sangat bingung, bagaimana jika benar benar sudah ada janin didalam perutnya?


.


.


.

__ADS_1


Sudah seminggu Sabda dirawat dirumah sakit. Dan hari ini, dia sudah diizinkan pulang. Selama itu juga, Fasya selalu ada disampingnya dan menemaninya. Tapi ada yang berbeda, Sabda merasa jika Fasya dingin padanya. Wanita itu lebih banyak diam. Tak lagi suka bermanja manja padanya seperti dulu.


"Apa kau kecewa padaku?" Sabda tak bisa menahan diri untuk tak bertanya tentang itu.


Fasya menggeleng, diraihnya tangan Sabda sambil tersenyum. "Aku akan menerima semua kekuranganmu."


"Tapi aku merasa kamu berubah?"


Lagi-lagi Fasya menggeleng. "Hanya perasaanmu saja. Aku masih sama seperti dulu." Sebenarnya, saat ini pikiran Fasya sangat kacau. Dia takut jika ternyata dia hamil.


"Tapi mimpimu untuk memiliki anak tak akan terwujud jika terus bersamaku." Sabda merasa dadanya sangat sesak saat mengatakan itu. Dia merasa sangat bersalah pada Fasya. Wanita yang dia cintai harus rela mengubur mimpinya menjadi wanita sempurna karena dirinya.


"Sudahlah, jangan dibahas. Aku, ke bagian administrasi dulu." Sejujurnya, kenyataan ini juga berat bagi Fasya. Tapi dia tak mau kehilangan Sabda. Meski Ringgo bisa memberikan kepuasan melebihi Sabda, tapi pria itu tak akan mampu memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Selain itu, saat ini dia juga harus menanggung biaya hidup kedua orang tuanya. Dan pilihan yang paling tepat, adalah bertahan bersama Sabda apapun kondisi pria itu.


Saat hendak membayar tagihan rumah sakit Sabda, Fasya dikejutkan dengan kedatangan Ringgo.


"Kenapa kau tidak pernah menjawab teleponku?" Ringgo tampak kesal. Sudah seminggu ini, Fasya mengabaikannnya. Tak menjawab teleponnya apalagi membalas pesannya. "Kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Aku baik baik saja, sekarang pergilah." Jawab Fasya datar. Dia lalu kembali fokus ke petugas administrasi.


"Kau mengusirku," Ringgo menarik kasar lengan Fasya agar wanita itu menghadap kearahnya. Tampak sekali raut emosi diwajahnya.


"Kita harus bicara," tekan Ringgo. Dia sama sekali tak mau melepaskan tangan Fasya.


"Baiklah." Fasya menyelesaikan pembayaran lalu pergi bersama Ringgo ketempat yang lebih sepi.


"Aku ingin mengakhiri semuanya." Ucap Fasya lirih. Dia tak ingin lagi punya urusan apapun dengan pria itu.


"Apa kau bilang?" Ringgo makin emosi. Setelah seminggu tak ada kabar, ternyata ini alasannya. Fasya ingin mengakhiri semunya.


"Aku rasa kalimatku sudah jelas. Aku ingin mengakhiri semuanya."


Ringgo langsung mencengkeram kedua bahu Fasya dengan kuat. "Kau tak bisa mencampakkanku seperti ini."


Fasya berusaha berontak hingga akhirnya cengkeraman Ringgo terlepas.


"Kita tak pernah ada ikatan apapun. Jadi tak ada istilah mencampakkan disini," sahut Fasya.

__ADS_1


"Kita memang tak ada ikatan saat ini. Tapi bagaimana jika didalam sana, benihku sudah berkembang." Ringgo menunjuk kearah perut Fasya.


Wajah Fasya mendadak pias. Selama seminggu ini, dia juga pusing karena hal ini. Semoga saja tak ada yang sedang berkembang dirahimnya sekarang.


"Aku tak terima dicampakkan begitu saja. Sampai kapanpun, kau harus tetap menjadi wanitaku."


"Jangan gila!" pekik Fasya.


Beberapa orang yang lewat sampai melihat kearahnya karena dia memekik lumayan keras. Fasya kemudian menunduk saat menyadari itu. Jangan sampai dia dan Ringgo jadi pusat perhatian.


"Aku tak peduli jika kau memberitahu pada seluruh dunia jika itu anak Sabda. Aku juga tak peduli jika selamanya, hanya menjadi yang kedua bagimu. Tapi aku tekankan satu hal, aku tak terima dicampakkan. Aku akan memberitahu Sabda semuanya jika kau sampai berani pergi dariku."


Fasya langsung melotot mendengar ancaman Ringgo. Dia menarik lengan Ringgo saat pria itu hendak pergi.


"Jangan berani beraninya mengancamku," gertak Fasya. Dia mencengkeram kuat lengan Ringgo sambil menatap pria itu nyalang.


"Fasya."


Deg


Jantung Fasya hampir saja copot saat mendengar Yulia memanggilnya. Cepat cepat dia melepaskan tangan Ringgo.


"Aku pergi dulu, bye." Ringgo mengedipkan sebelah mata lalu pergi.


Fasya mengumpat dalam hati melihat Ringgo seberani itu melakukan hal tersebut didepan Yulia. Sementara Yulia, dia kaget melihat seorang pria mengedipkan sebelah mata pada menantunya.


"Siapa dia? Ada hubungan apa kalian?" selidik Yulia.


Fasya berusaha untuk terlihat tenang. Jangan sampai Yulia mengetahui hubungan terlarangnya dengan Ringgo.


"A, aku gak kenal Bu. Kayaknya orang depresi deh. Tiba tiba dia tadi bilang jika aku istrinya, sarap kan dia?"


Yulia mengerutkan kening. "Tapi wajahnya kayak orang bener, masa iya dia depresi? Dan kamu, kenapa malah kamu yang pegang tangnnya," Yulia tampak tak puas dengan jawaban Fasya.


"I, itu karena dia tadi mau macam macam sama aku Bu. Aku bukan memegang tangannya, tapi mencengkeram lengannya, menusuk dengan kuku agar dia tak macam macam."


Entah kenapa, Yulia rasanya tak percaya. Jelas jelas tadi dia mendengar Fasya bilang jangan mengancamnya. Dan wajah Fasya tampak tegang. Mana mungkin dia cemas hanya gara gara orang depresi yang tidak dia kenal.

__ADS_1


"Ayo kita keruangan Mas Sabda. Dia pasti sudah menunggu untuk segera pulang."


__ADS_2