9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 79


__ADS_3

Sesampainya dirumah, Nuri langsung mengambil alih Baby White dari tangan ibunya. Berpisah beberapa jam saja, membuat Nuri sangat merindukan baby gembul berusia 2 bulan itu. Saat ini, kedua orang tua Nuri dan kedua adiknya ada dirumah Sabda karena 3 hari lagi, Sabda dan Nuri akan melangsungkan pernikahan.


Mereka akan mengadakan pernikahan dipinggir pantai dengan pesta kecil kecilan. Mengundang beberapa teman Sabda maupun Nuri. Karena pernikahan mereka sebelumnya sudah tercatat resmi, jadi pernikahan kedua nanti, hanya secara agama saja.


"Ada apa?" Tanya Bu Titin yang melihat wajah kesal putrinya. Semoga saja tak terjadi hal buruk, mengingat baru saja, keduanya pergi kesidang perceraian Sabda dan Fasya.


"Tidak ada apa-apa Bu," sahut Nuri. Melihat Sabda berjalan kearahnya, segera dia pergi menuju kamar.


"Apa ada masalah, Nak Sabda?" Bu Titin cemas, Takut terjadi masalah dan besok pernikahan Nuri malah batal.


"Hanya kesalah pahaman kecil Bu. Ibu tidak usah khawatir," sahut Sabda. Dia lalu pamit untuk menyusul Nuri ke kamar.


Sabda menghampiri Nuri yang duduk disisi ranjang sambil menyu sui baby White. Dia duduk disebelahnya, meski Nuri masih memasang wajah jutek.


"White, mama lagi ngambek. Bantu papa bujuk dong." Sabda mengusap pipi gembul baby White. "Bilang sama mama, papa cuma cinta sama mama. Meski ada seribu wanita didunia itu, hanya mama yang papa pilih."


"Gombal," lirih Nuri sambil menyebikkan bibir.


Sabda menahan tawa melihat ekspresi Nuri. Apa gombalannya barusan sangat garing? Bukannya membuat Nuri senyum malah makin monyong bibirnya.


"Astaga, kenapa kamu malah tidur. Papa kan minta kamu bujukin mama." Sabda memperhatikan mata White yang tertutup. Tapi meskipun begitu, bibirnya masih terus asik menyuusu. "Lihatlah bibirnya, lucu sekali saat meyuusu, padahal matanya tertutup."


Nuri langsung menarik bajunya agar dadanya lebih tertutup. "Gak usah ngintip."

__ADS_1


"Ngapain ngintip, kalau malam juga kamu pamerin didepan aku."


Nuri langsung melotot. Kapan dia pamer?


"Kamukan selalunya ketiduran saat menyuusui White. Dada kamu terlihat kemana mana. Dan kalau udah begitu, aku yang nutup, takut kamu masuk angin." Padahal bohong, aslinya takut gak kuat iman.


Nuri langsung menunduk dengan wajah memerah karena malu. Dia memang sering menyusuii sambil tidur kalau malam. Kalau sudah ketiduran, mana ingat dia mau mengancingkan kembali bajunya.


"Boleh nyicip gak?"


"KAKAK!" Pekik Nuri sambil melototi Sabda.


Oek oek oek


"Ish, gaga-gara Kakak, dia jadi bangun," omel Nuri. Dia lalu berdiri sambil menepuk nepuk bokong White agar kembali tidur


"Loh, kok aku." Sabda menunduk dirinya sendiri. "Kan kamu yang teriak."


Nuri tak menjawab, dia fokus menimang nimang agar White kembali terlelap. Bagitu bayi mungil iti menutup mata, Nuri kembali duduk.


"Lihatlah dia," Sabda manatap kearah baby White. "Dia bersemangat sekali saat menyuusu. Sepertinya rasanya sangat enak. Aku tak sabar menunggu 3 hari lagi untuk bisa mencicipinya."


"Kak Sabda, ihh." Nuri mencubit lengan Sabda. Dia pikir Sabda sudah berhenti membahas soal itu, tapi ternyata dia salah. "Ngomongnya vulgar banget sih."

__ADS_1


"Yang bagian mana?"


"Tauk ah." Sahut Nuri dengan bibir mengerucut kedepan.


Cup


Mata Nuri terbeliak lebar saat Sabda tiba tiba mengecup bibirnya.


"Maaf." Sabda meraih tangan Nuri. "Maaf karena sudah membuatmu sakit hati. Tapi sungguh, kejadian tadi diluar kendaliku. Fasya tiba tiba memelukku. Aku bersumpah, aku sama sekali tak menginginkan pelukan itu apalagi sampai menikmatinya. Aku hanya menginginkan pelukan dari kamu sayang." Sabda meletakkan telapak tangan Nuri didadanya. "Hanya kamu yang bisa membuat jantungku berdebar, bukan wanita lain apalagi Fasya."


Nuri langsung meleleh. Dia menggigit bibir bawahnya agar tak tersenyum gara gara baper. Malukan, tadi udah ngamuk ngamuk, eh...sekarang malah melting.


"Kamu ngerasa gak?" tanya Sabda.


"Apa?"


"Beberapa hari ini, waktu berjalan sangat lambat. Kenapa masih harus menunggu 3 hari lagi? Tak bisakah hari ini saja kita menikah?"


Nuri menarik tangannya dari genggaman Sabda. Menutup mulutnya dengan telapak tangan agar suara tawanya tak terdengar baby White.


"Sabar, 3 hari saja, tidak lama."


"Tapi 3 hari, berasa seperti 3 tahun untukku." Sabda menatap White yang masih belum juga mau melepas puncak dada Nuri. "White, bersiap siaplah, 3 hari lagi, kita akan berbagi sesuatu yang selama 2 bulan ini kau nikmati sendiri."

__ADS_1


__ADS_2