
Sabda maupun Nuri, keduanya sama sama diam. Tapi sorot mata mereka memancarkan cinta yang sangat besar. Jantung mereka berdebar kencang. Sabda menyentuh rambut panjang Nuri, menatap kedua netranya hingga membuat wanita yang baru dilamar itu salah tingkah.
Perlahan Sabda mendekatkan wajah mereka. Nuri yang grogi, memejamkan mata saat merasakan hembusan nafas Sabda menyapu wajahnya. Jantungnya seperti mau meledak saat hidung Sabda menyentuh puncak hidungnya. Dan dalam hitungan detik, dia bisa merasakan sesuatu yang basah menyentuh bibirnya.
Kring kring
Dering ponsel membuat ciuman yang baru mau dimulai terpaksa terhenti. Nuri menunduk malu dengan wajah bersemu. Sementara Sabda, hatinya langsung dongkol. Dia beranjak dari ranjang. Mengambil ponsel yang tadi sempat dia letakkan diatas nakas. Seketika dia langsung mengumpat saat melihat nama Felix dilayar.
"Awas saja kalau gak ada yang penting," gerutunya sambil bersungut sungut.
Nuri tak bisa menahan tawanya mendengar gerutuan Sabda. Dia membekap mulutnya agar suara tawanya tak keluar.
"Hallo," ucap Sabda dengan nada jengkel. Dia melirik Nuri saat mendengar suara tawa wanita itu.
"Hallo Pak," sahut Felix dari seberang sana.
"Ada apa?"
"Polisi sudah berhasil mengantongi identitas pengendara mobil hitam yang kabur setelah menabrak alm. Bu Yulia. Dari rekaman cctv, terlihat sekali jika peristiwa penabrakan itu disengaja."
Sabda mengepalkan kedua telapak tanganya. Siapa orang tersebut, apa motif dia menabrak ibunya? Siapapun pelakukanya, dia bersumpah akan membuatnya membusuk dipenjara.
"Siapa pelakunya?" tanya Sabda dengan suara bergetar.
"Jaya alias Ringgo. Dan sekarang, pria itu sedang dalam pencarian polisi."
Sabda mencengkeram kuat pinggiran nakas.
Semoga kamu tak terlibat atas semua ini, Fasya. Jika kau sampai terlibat, aku tak akan memaafkanmu seumur hidup.
__ADS_1
Setelah sambungan telepon terputus, Sabda kembali duduk disebelah Nuri.
"Ada apa Kak?" Wajah keruh Sabda membuat Nuri yakin jika ada sesuatu.
Sabda meraih kedua telapak tangan Nuri lalu menggenggamnya. Saat ini, hanya Nuri dan anak dalam kandungannya yang dia punya. Dia tak akan sanggup kehilangan lagi. Dia takut jika semua ini ada kaitannya dengan Fasya. Jangan sampai setelah ibunya, kemudian giliran Nuri.
"Kemasi barang-barangmu. Ikut aku pulang kerumah."
Nuri membeo. Pulang ke rumah? Apakah itu keputusan yang tepat. Saat ini masih ada Fasya dirumah itu. Nuri tak yakin Fasya bisa akur denganya saat mereka berada dalam satu atap.
"Ta, tapi Kak."
"Aku mohon jangan mendebatku saat ini. Aku tak mau kehilangan lagi, Nuri. Hanya kamu dan anak dalam kandunganmu yang aku punya. Aku ingin kamu selalu ada dalam jangkauanku. Tak ada tempat yang lebih aman kecuali disisiku. Aku tak sanggup jika harus kehilangan sekali lagi." Air mata Sabda menetes. Dia bersumpah akan melindungi Nuri dan anak dalam kandungannya meski nyawanya sendiri jadi taruhannya.
"Baiklah." Nuri lalu mengemasi barang-barangnya.
.
.
.
"Ayo." Sabda menggendeng tangan Nuri. Mengajaknya masuk kedalam rumah.
Fasya, wanita itu terkejut melihat Sabda membawa pulang Nuri kerumah. Rasanya seperti kembali ke beberapa bulan yang lalu, saat Sabda pertama kali membawa Nuri saat suasana rumah dalam kondisi berkabung.
Dengan kedua tangan yang terkepal, Fasya menghampiri mereka.
"Selama kita belum bercerai, aku tak mau ada dia dirumah ini. Hanya boleh ada 1 ratu didalam rumah." Uajr Fasya sambil menatap Nuri penuh kebencian.
__ADS_1
"Ya, aku setuju. Hanya boleh ada 1 ratu didalam istanaku," sahut Sabda.
Nuri langsung menoleh kearah Sabda. Jika memang seperti itu, kenapa dia ajak pulang?
"Dan dia." Sabda mengangkat tangan Nuri. "Yang akan menjadi ratu dirumah ini."
Fasya meremat gaunnya. Wajahnya memerah denga nafas memburu. "Puas kamu setelah menghancurkan rumah tanggaku? Pelakor!"
Nuri menunduk, ada sedikit rasa bersalah dihatinya. Apakah dia adalah seorang pelakor? Nuri membuang jauh jauh pikiran itu. Bukan, dia bukan pelakor. Dan dia tak akan merebut Sabda jika Fasya tidak selingkuh.
"Keluar dari rumahku."
Mata Fasya melotot mendengar Sabda terang terangan mengusirnya. Dia menggeleng cepat. "Tidak bisa. Kita belum resmi bercerai, jadi aku masih berhak tinggal dirumah ini." Fasya mengarahkan telunjuknya kebawah.
"Kau hanya berhak mendapatkan nafkah sebelum kita resmi bercerai. Rumah ini milik ayahku. Dan dalam sertifikat tertulis jelas nama beliau. Ini bukan rumah kita berdua. Dan sebagai ahli waris, aku berhak menentukan siapa yang boleh atau tidak tinggal disini. Dan Ibu, aku yakin dia juga tak rela jika kau masih ada dirumahnya."
"Tapi tempat tinggal juga bagian dari nafkah," ujar Fasya.
"Ya, kau benar. Tapi kau tak usah khawatir. Aku akan memberimu uang lebih. Terserah kau mau tinggal dihotel atau dimanapun. Bahkan jika kau mau, kau juga bisa tinggal bersama selingkuhanmu. Tapi yang jelas, bukan dirumah ini."
Fasya mendengus sebal.
"Untuk harta gono gini, kau tetap akan mendapatkan. Aku mau proses perceraian kita berjalan cepat. Kalau kau masih berusaha untuk mempersulit, aku akan melaporkan kasus pemalsuan tanda tangan. Aku yakin, kau yang paling tahu siapa yang telah memalsukan tanda tanganku saat proses jual beli tanah?"
Wajah Fasya seketika pucat. Badannya gemetaran, dia tak mau masuk penjara gara gara memalsukan tanda tangan Sabda.
"Kekasihmu sedang dalam pengejaran polisi." Fasya yang sedang menunduk langsung mengangkat wajahnya. "Aku tak pernah punya masalah dengan pria yang bernama Ringgo itu sebelumnya. Semoga kau tak terlibat dalam kasus kematian ibuku."
Tubuh Fasya seketik lemas. Tidak, dia tak ada hubunganya. Dia tak pernah menyuruh Ringgo.
__ADS_1
"Cepat kemasi barang barangmu. Keluar dari rumahku."
Setelah mengatakan itu, Sabda membawa Nuri menuju kamar tamu. Melewati Fasya yang masih mematung ditempat dengan wajah pucat pasi.