9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 38


__ADS_3

Demi apapun, Fasya tak akan pernah mau menerim anak itu. Dia tak sudi jika harus menyayangi anak yang bukan berasal dari rahimnya sendiri.


"Kau hanya perlu bersabar Mas, aku akan segera hamil. Kita akan memiliki anak, anak kandung kita."


"Tapi itu tidak mungkin Fasya."


"Apanya yang tidak mungkin?" Emosi Fasya meledak mendengar nada keputus asaan dari kalimat Sabda. "Kita berdua sama sama normal, tak ada masalah. Kita hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Jangan pesimis, diluar sana, bahkan ada orang yang 10 tahun baru memiliki anak. Kita baru jalan tahun ke-4. Aku benci melihatmu pesimis seperti itu."


Sabda tak tahu harus seperti apa menjelaskan pada Fasya. Mungkin sekaranglah, saatnya dia mengatakan yang sebenarnya.


"Maafkan aku Fasya, tapi mungkin kau harus tahu satu hal. Se_"


Sabda tak melanjutkan kalimatnya karena ponselnya berdering. Melihat ada panggilan masuk dari Felix, dia langsung mengangkatnya.


"Kau menemukannya?" tanya Sabda langsung. Dia sangat berharap ada kabar baik dari Felix.


"____"

__ADS_1


"Tunggu aku." Sabda langsung memutus sambungan telepon. Berjalan cepat keluar dari kamar Yulia tanpa pamit. Masuk kedalam kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


"Mas, Mas, kau mau kemana?" Fasya yang sejak tadi mengikuti seketika terkejut melihat Sabda mengambil kunci mobil. Suaminya baru pulang dari Jepang, tak lelahkan pria itu hingga sekarang hendak pergi lagi.


Sabda tak menjawab, dia berjalan cepat lalu berlari menuruni tangga.


"Kau mau kemana Mas?" Fasya mengejernya menuruni tangga.


"Aku harus pergi Fasya." Sahut Sabda tanpa menoleh sedikitpun.


Fasya tak mau menyerah, dia terus berlari menyusul Sabda. Firasatnya mengatakan jika ini ada hubungannya dengan Nuri. Dan dia harus mencegah Sabda agar tak bertemu wanita itu.


"Aku harus pergi Fasya. Tolong lepaskan."


"Jangan bilang kalau kau mau mencari wanita itu?"


"Maafkan aku. Tapi aku harus mencarinya, aku tak mau kehilangan anak itu. Aku sudah menganggapnya sebagai anakku."

__ADS_1


"Tapi dia bukan anakmu," teriak Fasya. "Kau tak boleh pergi. Tetap disini."


"Maaf Fasya, tapi aku harus pergi." Sabda hendak membuka pintu tapi Fasya menggunakan badannya untuk menghalangi pintu. "Minggir Fasya."


"Sadarlah Mas. Anak itu bukan anakku. Jadi tak perlu kau mencarinya. Atau jangan jangan, kau sudah mulai menyukai wanita itu? Makanya kau sangat takut kehilangannya."


"Bicara apa kau Fasya, itu tidak benar."


"Jika memang tidak benar. Maka jangan pergi. Jangan mencarinya lagi karena anak itu bukan anakmu."


Sabda menghembuskan nafas berat. Dia kehabisan kata kata untuk meyakinkan Fasya. "Ya, dia bukan anakku, tapi dia anak Dennis. Sebagai pamannya, aku wajib untuk menjaga anak itu."


"Tidak," tekan Fasya. "Aku tak mengizikannya. Bukan kewajibanmu untuk menjaga anak itu. Meski dia anak Dennis, tapi dia tak bernasab pada Dennis karena dia anak diluar nikah. Bukan kewajibanmu untuk menjaga anak itu."


Sabda mulai kehabisan kesabaran. Dia harus segera menemukan Nuri, dia tak mau sampai kehilangan wanita itu. "Maaf." Dia mendorong tubuh Fasya lalu masuk kedalam mobil dan langsung menyalakan mesin.


"Mas, Mas." Fasya terus mengetuk kaca mobil. Tapi Sabda tak mempedulikannya.

__ADS_1


"Maafkan aku Fasya." Sabda tancap gas meninggalkan halaman rumah. Mengabaikan Fasya yang masih berteriak memanggil namanya.


"Mas!" Pekik Fasya. "Tega kau melakukan ini padaku." Dia berteriak histeris sambil menangis.


__ADS_2