9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 37


__ADS_3

Malam itu juga, Sabda mencari penerbangan ke Jakarta. Dia tak peduli lagi dengan semua pekerjaanya. Baginya, saat ini yang terpenting adalah Nuri. Dia tak punya keluarga di Jakarta, ada dimana kira kira wanita itu sekarang. Dia hanya bisa berdoa agar Nuri dan anaknya baik baik saja.


Sabda mengemasi semua barang-barangnya. Mengalihakan semua pekerjaan pada bawahannya yang ikut ke Jepang. Dini hari, dia terbang meninggalkan Jepang menuju Jakarta.


Selama dalam perjalanan, dia terus memikirkan Nuri. Sampai sekarang, dia belum mendapatkan kabar dari Felix. Sepertinya asistennya itu belum berhasil menemukannya. Entah apa kerjanya, hanya mencari seorang wanita saja, kenapa tak kunjung ketemu.


Sabda tak memberi kabar apapun tentang kedatangannya. Hingga sore itu, Fasya dibuat kaget saat melihat Sabda sudah sampai dirumah.


"Mas, kamu sudah pulang? Bukannya kamu bilang 2 minggu di Jepang?" Fasya berpura pura senang dengan kedatangan Sabda, padahal dalam hati, dia mengumpat pria itu. Baru saja dia hendak keluar untuk bertemu Ringgo, tapi kedatangan Sabda menggagalkan rencanya. "Aku senang kau pulang Mas, aku sangat merindukanmu," Fasya memeluk erat Sabda sambil membenamkan kepala didada bidangnya.


"Mana Ibu?" Sabda melepaskan pelukan Fasya. Saat ini, ada yang lebih penting daripada sekedar melepas rindu.


"Ibu?" Fasya mengerutkan kening. Tiba-tiba, dia merasa gelisah. Jangan-jangan, kedatangan Sabda yang mendadak karena dia tahu Nuri diusir dari rumah ini.


"Ibu, Ibu." Sabda berteriak teriak memanggil ibunya. Melupakan penatnya dan naik keatas menuju kamar Yulia.


Didalam kamar, Yulia yang mendengar suara Sabda memanggil hanya mengabaikan. Dia pikir salah dengar karena saat ini Sabda ada di Jepang. Tapi saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka dari luar, dia kaget melihat putra satu satunya itu berdiri diambang pintu.


Fasya mengekor dibelakang Sabda. Dia yakin akan ada perang besar menanti. Semoga saja, dia tak ikut kena masalah.


"Kenapa Ibu lakukan ini?" Sambil menahan emosi, Sabda masuk kekamar ibunya.

__ADS_1


Yulia yang awalnya duduk santai diatas ranjang sambil bermain ponsel, langsung meletakkan ponsel lalu turun dari ranjang.


"Kenapa lagi-lagi, Ibu mengecewakanku?"


"Apa maksudmu Sabda, ibu tidak mengerti?"


Sabda tersenyum getir sambil menatap ibunya.


"Aku tak mengira, jika ibuku, wanita yang telah melahirkanku, ternyata_" Suara Sabda bergetar, rasanya dia tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ibunya sudah benar benar keterlaluan saat ini. "Aku masih mencoba berfikir positif saat Ibu menaruh sabun cair didepan pintu kamar Nuri. Aku masih berfikiran jika ibuku tak akan mengulangi kesalahan yang sama." Sabda memegang kedua bahu Yulia sambil menatap kedua matanya. "Ibuku punya hati, ibuku bukan wanita yang jahat. Ibuku bukan seperti tokoh antoginis didalam film yang tega untuk melenyapkan nyawa orang. Tapi ternyata aku salah."


Sabda tak mampu menahan air matanya. Dadanya terasa sangat sesak. Kalau sebelumnya dia akan malu menangis didepan Fasya, hari ini dia buang semua rasa malu itu. Hatinya terlalu sakit, terlalu kecewa. Tidak ada seorangpun anak didunia ini menginginkan punya ibu yang jahat, bagitupun dengan dia.


"Kenapa ibu setega itu. Janin itu sudah bernyawa Bu. Dan janin itu cucu Ibu, darah daging Ibu. Dimana hati nurani Ibu?" Sabda mengguncang kedua bahu Yulia.


"Berapa kali ibu bilang, dia bukan cucu ibu." Tekan Yulia sambil menepis tangan Sabda dari bahunya.


"Kalau benar begitu, itu artinya Dennis bukan anak Ibu?"


"Dennis anak ibu, tapi janin yang ada dalam perut wanita murahan itu bu_"


"Stop mengatakan Nuri murahan Bu," bentak Sabda.

__ADS_1


Mulut Yulia menganga, begitupun dengan Fasya. Keduanya tak mengira Sabda akan membentak ibunya demi Nuri.


"Kau mulai jadi anak durhaka Sabda," Yulia balas membentak. "Sungguh hebat wanita itu, bisa membuatmu sampai menjadi anak durhaka hingga berani membentak ibumu."


Sabda tersenyum getir. "Ya, aku seketika menjadi anak durhaka karena membentakmu. Lalu Ibu, sebutan apa yang cocok untuk wanita yang tega berusaha melenyapkan cucunya sendiri?"


Kepala Yulia terasa mengepul. Dia tak menyangka jika Sabda berani membalikkan kata katanya.


"Mas, kenapa kau bicara seperti itu pada Ibu?" Fasya mencari muka dengan membela Yulia.


Sabda membalikkan badan, beralih menatap Fasya. "Bukankah kau juga wanita? Dimana hati nuranimu Fasya? Dimana rasa belas kasihanmu saat melihat wanita yang tengah hamil besar didzolimi didepan matamu. Kau bahkan mendukung ibu saat dia mengusir Nuri."


Mata Fasya langsung berkaca kaca. Hatinya terasa sakit saat Sabda secara jelas membela Nuri didepannya.


"Karena aku benci dia Mas." Fasya tak bisa menyembunyikan perasaannya. "Aku benci wanita yang telah masuk kedalam rumah tanggaku. Aku benci wanita yang telah menjadi duri dalam pernikahanku. Aku benci karena dia maduku," teriak Fasya. Dia tak terima jika dipaksa untuk berbuat baik pada Nuri. Wanita yang dia anggap sebagai saingan. "Kau tanya dimana hati nuraniku, sekarang aku tanya dimana hati nuranimu." Fasya menekan dada Sabda menggunakan telunjuknya. "Dimana hati nuranimu saat kau menduakanku dengan menikahi wanita itu?"


Sabda menarik rambutnya kebelakang menggunakan kedua telapak tangan. Kepalanya terasa mau pecah saat ini. Bukankah hal ini sudah dibahas sebelum dia menikahi Nuri. Tapi kenapa Fasya belum mengerti juga.


"Berulang kali aku bilang, aku menikahinya hanya demi anak dalam kandungannya. Anak yang nanti akan menjadi anak kita." Sabda hendak memegang lengan Fasya, tapi lebih dulu ditepis oleh wanita itu.


"Tapi aku tak ingin anak itu. Aku ingin anak yang lahir dari rahimku sendiri. Anak kandung kita, bukan anak orang lain."

__ADS_1


Arrghh


Sabda berteriak frustasi. Bagaimana dia harus mengatakan pada Fasya jika mereka tak mungkin punya anak. Dan anak dalam kandungan Nuri adalah harapan satu-satunya.


__ADS_2