9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 52


__ADS_3

Fatma yang baru pulang sekolah mengerutkan kening melihat mobil mewah parkir dihalaman rumahnya. Tak hanya mobil, seorang pria dengan pakaian formal duduk dikursi terasnya. Mata fokus ke arah ponsel dan ditangannya ada sebatang rokok. Pria itu tiba tiba tertawa sendiri, bikin Fatma merinding saja. Kelakuannya sudah mirip orang gila.


"Astaga, jangan jangan dia suaminya teteh. Mobilnya sih cakep, tapi orangnya?" Fatma memutar kedua bola matanya malas.


Felix yang hendak menyeruput teh dikejutkan dengan kehadiran cewek berseragam putih abu didepannya. Dia mengelus dada karena kaget, tapi sesaat kemudian, dia jadi salah tingkah didepan gadis yang menurutnya sangat cantik tersebut.


"Ha, hai," sapa Felix.


"Hai, juga." Sahut Fatma sambil tersenyum kikuk.


"Da, darimana?"


Fatma seketika ilfeel melihat kelakuan pria yang dia pikir kakak iparnya tersebut. Apa pria itu tak melihat jika dia memakai seragam, pertanyaan macam apa itu.


"Oh, dari sekolah ya." Menyadari salah bertanya, Felix menjawab pertanyaannya sendiri. Dalam hati, merutuki diri sendiri yang seringkali terlihat bodoh didepan cewek. Terutama jika cantik.


"Permisi A." Ujar Fatma sopan. Bagaimanapun, dia harus bersikap sopan pada suami tetehnya. Meskipun menurutnya, kualitasnya enggak banget.


Felix hanya mengangguk sambil tersenyum. Tak mengatakan apapun hingga Fatma masuk kedalam rumah.


Didalam rumah, Fatma dibuat kaget karena ternyata tetehnya sedang bersama seorang pria. Duduk bersebelahan dan terlihat si teteh tengah menyuapinya rujak buah.


"Asem sekali." Sabda meringis sambil mengunyah mangga muda yang ada dimulutnya.


Nuri terkekeh melihat ekspresi Sabda yang lucu. Manahan rasa asam hingga matanya menyipit.


"Masak sih, perasaan enak deh." Nuri mengambil sepotong mangga lalu memakannya tanpa merasa keasaman sama sekali. Sabda yang melihat sampai geleng geleng.


"Assalaamualaikum," ucap Fatma.


Nuri dan Sabda, keduanya langsung menoleh kearah pintu sambil menjawab salam.


Fatma, gadis itu terus menatap Sabda. Dia masih bingung, sebenarnya yang mana suami tetehnya.


"Kenalin Fat, ini Aa Sabda, suaminya teteh,"


Fatma reflek melihat kearah teras. Jadi yang tadi bukan suami tetehnya. Syukur deh, batinnya. Fatma mendekat kearah Sabda lalu mencium tangannya.


"Ini Fatma, adikku."


"Yang diluar itu siapa Teh?" tanya Fatma.


"Oh, itu asisten pribadi Aa," sahut Sabda.

__ADS_1


"Oooh." Fatma hanya ber oh ria sambil manggut manggut. Setelah itu, dia pamit masuk kedalam. Tak enak juga kalau berada disini lama lama, takut mengganggu.


"Mau lagi?" Nuri menyodorkan sepotong mangga yang sudah dicocol bumbu kedepan mulut Sabda.


Sabda langsung menggeleng sambil menutup mulutya dengan telapak tangan. Dia tak tahan dengan rasa asamnya.


"Satu lagi dong," bujuk Nuri.


"Enggak, aku gak suka." Sahut Sabda sambil menggeleng.


"Yah....padahal anaknya lagi pengen lihat papanya makan mangga muda."


"Kamu gak lagi ngerjain aku kan?" Sabda menatap Nuri curiga.


"Ya udah nanti kalau anaknya ileran, berarti salah Kakak." Nuri pura pura mengancam.


"Astaga," Sabda membuang nafas kasar. Dia lalu menarik tangan Nuri yang sedang memegang mangga. Mengarahkan kedepan mulutnya lalu memakannya dengan rasa tersiksa. "Puas?" tanya Sabda dengan sedikit melotot.


Nuri tak bisa menahan tawa. Ternyata sangat mudah mengerjai pria itu. Dengan alasan ngidam, semua akan diwujudkan oleh Sabda.


"Kamu senangkan sekarang sayang." Nuri menunduk sambil mengusap perutnya. Dan tiba tiba janin didalam yang tadinya tenang itu bergerak. Tak mau kehilangan momen, Nuri meraih telapak tangan Sabda lalu menempelkan diperutnya. "Dia gerak gerak."


Sabda menatap takjub perut Nuri yang kelihatan meleyot. Tangannya terus mengusap lembut mengikuti arah pergerakan janin.


"Sedikit, tapi aku senang. Karena itu tandanya, dia sehat didalam sana. Aku menyukai momen momen seperti ini." Wajah Nuri tampak berseri seri.


Begitu janin berhenti bergerak, Sabda mendekatkan wajahnya diperut Nuri lalu menciumnya. "I love you."


Jantung Nuri seketika berhenti berdetak. Sabda menyatakan cinta?


"Boy."


Kata lanjutan itu membuat Nuri langsung tersadar. Beberapa detik yang lalu, dia merasa ada awang awang. Dan sekarang, bagai langsung dihempaskan ketanah.


Kau terlalu berharap Nuri.


.


.


.


Yulia, wanita itu syok saat melihat video yang baru saja dikirim satpam ke ponselnya. Tangannya bergetar, rasanya masih tak percaya jika Fasya tega melakukan ini, berselingkuh dibelakang Sabda.

__ADS_1


Dia memperbesar gambar diponsel. Memperhatikan wajah pria yang sedang bersama Fasya dan menggandeng tangannya.


"Dia..." Yulia merasa pernah melihat. Di berusaha untuk mengingat ingat. Setelah cukup lama, akhirnya dia ingat jika itu adalah pria yang waktu itu dirumah sakit bersama Fasya. "Kurang ajar, jadi dia membohongiku saat itu."


Yulia mengepalkan kedua telapak tangannya. Sabda yang diselingkuhi, tapi dia ikut merasa sakit hati.


"Awas kamu ja lang. Berani beraninya melakukan ini pada anakku." Kedua telapak tangan Yulia mengepal kuat. Dia manatap tas diatas maja. Tas yang hari itu dibelikan Fasya dari Singapura.


Emosi Yulia makin meledak. Dia mengambil tas tersebut, membanting lalu menginjak injaknya hingga lelah.


Yulia tak sabar ingin memberi tahu Sabda. Dia mencari kontak Sabda lalu meneleponnya. Tak perlu menunggu lama, Sabda langsung menjawab panggilannya.


"Cepat pulang, ada yang ingin ibu bicarakan denganmu." Masalah sebesar ini, tak mungkin Yulia ceritakan lewat ponsel. Selain itu, dia tahu jika Sabda sangat mencintai Fasya. Anaknya itu pasti akan sangat terpukul.


"Sepertinya tidak bisa Bu. Aku ada diluar kota." Sabda menoleh kearah Nuri yang duduk disebelahnya.


"Tapi ini penting."


Sabda mengira jika ibunya pasti mau membahas soal tanah milik mereka yang telah dikuasai orang lain.


"Tidak bisa sekarang Bu."


"Tapi Sab_"


Nuri, sini sebentar Nak.


Deg


Yulia tak sengaja mendengar orang memanggil Nuri.


"Ka, kamu sedang bersama Nuri?"


"Hah!" Sabda tak mengira jika ibunya mendengar suara Bu Titin yang sedang memanggil Nuri. "Ti, tidak Bu."


"Ibu dengar ada yang memanggil Nuri? Kamu sedang bersamanya?" Yulia yakin dia tak salah dengar tadi.


"Ibu salah dengar. Sabda sedang meeting Bu, sudah dulu ya." Sabda langsung mematikan sambungan telepon. Dia tak mau ibunya tahu dia bersama Nuri.


.


Untuk 3 orang di rangking teratas, silakan chat author. Ada pulsa 20k untuk setiap orang.


Terimakasih

__ADS_1



__ADS_2