9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 44


__ADS_3

Sudah sebulan Nuri berada di kampung, tapi sekalipun, wanita itu tak pernah keluar rumah. Hari harinya hanya dia habiskan didalam rumah, membantu pekerjaan ibunya. Meski membosankan, tapi lebih baik daripada harus mendengar suara suara sumbang diluar sana.


Brakkk


Nuri yang sedang mencuci piring kaget mendengar suara pintu dibanting dengan kuat. Ternyata Fatma, adiknya yang baru pulang sekolah yang melakukan itu.


"Astaghfirullah Fatma, apa kamu tak bisa pelan dikit. Bagaimana kalau pintunya rusak?" omel ibunya.


Nuri bisa melihat wajah keruh Fatma. Adiknya itu terlihat sedang dalam kondisi emosi.


"Ada apa?" tanya Nuri. "Ada masalah disekolah?"


Fatma menggeleng. "Teh, apa suami Teteh gak bisa kesini sebentar saja?"


Nuri dan ibunya saling menatap dengan dahi mengkerut. Bingung kenapa tiba tiba Fatma bicara soal suami Nuri. Kakak ipar yang bahkan tak pernah dia lihat sama sekali.


"Ada apa ini Fatma?" Ibunya mendekati Fatma, duduk disebelah putrinya yang terlihat kesal.


"Aku tak bisa terima saat orang orang menjelek jelekkan Teteh Bu." Bu Titin langsung memeluk putrinya. Dia tahu kenapa Fatma bicara seperti itu. Putrinya itu pasti sudah muak mendengar tetangga membicarakan Nuri. "Teh, apa benar Teteh menikah dengan suami orang, makanya sekarang Teteh dicerain lalu pulang kerumah?" tanya Fatma sambil menatap Nuri.

__ADS_1


"Itu gak benar," sahut Bu Titin cepat.


"Tapi kalau emang gak enggak, kenapa suami Teteh tak pernah kesini Bu? Bahkan aku dan Hilma saja, tak tahu seperti apa wajah suami teteh. Selain itu, aku juga gak pernah lihat teteh teleponan sama suaminya. Sebenarnya Teteh punya suami apa enggak sih?" Lagi lagi, Fatma menatap Nuri penuh tanya.


Nuri membuang pandangan kearah lain. Matanya memanas dan dadanya sesak. Mana mungkin dia jujur pada Fatma jika saat ini, dia hanya menjalani pernikahan diatas kertas. Dan saat dia melahirkan nanti, pernikahannya akan usai.


"Saat para tetangga bertanya padaku, aku bingung harus menjawab seperti apa Bu. Mereka selalu bertanya, dimana suami Teteh. Apa teteh sudah cerai? Apa teteh hamil diluar nikah? Dan apa teteh menikah dengan suami orang? Rasanya kepalaku mau pecah Bu. Semua orang selalu mencecarku dengan pertanyaan tentang teteh. Dan dari sekian banyak pertanyaan, tak ada satupun pertanyaan yang terdengar postif."


Nuri tak sanggup lagi mendengarnya. Memilih masuk kedalam kamar lalu menangis. Dengan air mata yang masih mengalir, dia menunduk sambil memegangi perutnya. Inilah yang dia takutkan, kehadirannya akan membuat seluruh keluarganya mendapat hujatan dari tetangga.


Tapi selain keluarga ini, dia tak punya siapa siapa lagi. Bahkan Sabda, dia tak tahu apakah pria itu masih menganggapnya ada atau tidak. Sebulan ini, dia tak mendengar kabar tentang Sabda. Dan meskipun tahu keberadaanya, Nuri merasa kecewa karena Sabda sama sekali tak pernah datang untuk menemuinya.


Tok tok tok


Nuri cepat cepat menyeka air mata saat mendengar pintu kamarnya diketuk. Tak lama kemudian, si kecil Hilma masuk.


"Ada apa Hil?"


"Teh, kemarin katanya mau beliin aku sepatu baru. Ayo Teh, kita beli sekarang. Sepatu Hilma sudah bolong." Rengek Hilma sambil menarik narik lengan Nuri.

__ADS_1


"Kamu pergi sama ibu dan Kak Fatma ya, nanti Teteh kasih uangnya."


"Kita pergi bareng bareng aja Teh," Tiba tiba, Fatma muncul dan langsung menyahuti. "Teteh itu kenapa sih, gak pernah mau keluar rumah?" Masih seperti tadi, Fatma masih terlihat kesal. "Jangan jangan apa yang mereka bicarakan bener, Teteh i_"


"FATMA!" bentak Bu Titin. Dia tak mau Fatma sampai bicara yang enggak enggak apalagi didepan Hilma. Adiknya itu masih terlalu kecil untuk tahu masalah orang dewasa.


"Ya sudah, kita pergi sama sama," akhirnya Nuri mengiyakan. Lagipula, sampai kapan dia tetap akan bersembunyi. Mungkin dia memang harus menghadapi masalah, bukan malah sembunyi.


"Besok aja, pasar sudah tutup jam segini," ujar Bu Titin.


"Kan bisa ke mall Bu," celetuk Hilma. "Kita ke mall ya Teh," rengeknya. "Masa sampai kelas 3 SD, aku gak pernah masuk mall."


Nuri tersenyum sambil menyentuh puncak kepala adiknya. Mungkin sekali sekali, dia harus membahagiakan adiknya. "Ya udah, kita ke mall."


Hilma langsung berteriak kegirangan. Sementara Fatma, dia hanya memasang ekspresi datar. Gadis kelas XI itu terlalu banyak pikiran tentang tetehnya. Dia sangat penasaran, rumah tangga seperti apa yang dijalani kakaknya saat ini.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2