9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 65


__ADS_3

Nuri terpaksa membangunkan Sabda yang terllihat nyenyak sekali tidur. Entah karena kasur yang empuk atau hawa sejuk dikampung, atau malah karena dia sudah merasa lega setelah semalam menumpahkan air mata. Tapi biasanya, setelah menangis, tidur memang terasa lebih nyenyak.


Sabda mengerjabkan mata setelah beberapa kali Nuri menepuk lengannya dan memanggil namanya.


"Bentar lagi subuh, Bapak ngajakin Kakak sholat di mushola."


Sabda mengangguk sambil menguap lalu bangun. Setelah itu dia langsung mandi dan kembali lagi ke kamar untuk siap siap.


"Kak, aku boleh masuk?" Nuri mengetuk pintu kamar. Dia tak mau langsung masuk karena takut jika Sabda sedang ganti baju.


"Masuk saja," sahut Sabda dari dalam.


Nuri masuk dan langsung tersenyum menatap Sabda yang terlihat tampan dengan kemko warna putih. Rambutnya yang basah membuat aura kertampanannya makin keluar.


"Ini." Nuri menyodorkan kopiah rajut warna putih yang dia pinjam dari bapaknya. "Aku tahu, Kakak pasti tidak bawakan?"


Sabda menerima kopiah itu lalu memakainya. Nuri mengalihkan pandangan sambil membuang nafas kasar. Pesona Sabda sungguh tak terbantahkan. Jangan sampai pria itu menyadari jika saat ini, jantungnya tengah berdebar hanya karena melihat penampilan paripurna Sabda.


"Kenapa lihat kearah lain? Takut terpesona ya?" goda Sabda.


Kenapa dia tahu, apa kelihatan banget?


"Ya mau bagaimana lagi, udah terlanjur tampan darisananya. Bahkan kata seorang perempuan, aku pria tertampan diatas bumi ini."


Wajah Nuri langsung memerah karena malu. Dia tahu betul siapa perempuan yang dimaksud Sabda, tak lain tak bukan adalah dirinya.


Panggilan bapak dari luar membuyarkan suasana canggung didalam kamar. Sabda keluar lalu bersama bapak Nuri pergi ke mushola. Sedangkan dirumah, setelah sholat, Nuri, ibunya dan Fatma, menyiapkan sarapan. Dan sikecil Hilma menyapu rumah.


Sepulang dari mushola, Sabda langsung disambut dengan bau harum bawang yang ditumis dan suara berisik spatula yang beradu dengan penggorengan. Entah apa yang dimasak didapur, yang pasti baunya sudah menyebar keseisi rumah.


Mendengar suara salam, Nuri langsung muncul dari dapur.


"Kak, diatas meja teh buat Kakak. Segera diminum mumpung masih hangat," Nuri memberitahu.


"Kopi buat Bapak?" tanya bapak.

__ADS_1


"Sudah dong Pak. Tuh disebelah teh, lengkap dengan pisang goreng juga," sahut Nuri.


"Wah, cocok nih. Yuk Sabda, kita ngopi dan ngeteh dulu sambil nunggu sarapan." Keduanya lalu duduk bersama, mengobrol ringan sambil menikmati cemilan. Sabda pikir tak akan nyambung bicara dengan orang seperti bapak Nuri, tapi ternyata dia salah. Bapak tipe orang yang sangat ramah dan mudah bergaulan. Dan ternyata, meski orang kampung dan kerjaannya hanya kuli bangunan, wawasannya lumayan luas.


Setelah sarapan siap, Fatma langsung menggelar karpet untuk makan lesehan. 2 kali disini, Sabda jadi tahu kalau jam sarapan dirumah ini sangatlah pagi, yakni jam 6.


"Kamu duduk diatas saja kalau susah," ujar Bu Titin pada Nuri.


"Masih bisa kok Bu." Nuri lalu duduk tepat disebelah Sabda.


"Loh, kamu mau kemana Fat, gak sarapan dulu?" tanya Bu Titin saat Fatma sudah terlihat menenteng tas sekolahnya.


"Aku berangkat dulu." Fatma salim pada kedua orangtuanya serta Nuri dan Sabda. "Aku mau mampir kerumah teman buat ngerjain tugas sebentar. Laptop Teteh lemot, tugasku gak selesai semalam."


"Pakai aja laptop Aa," tawar Sabda. "Kerjain dulu dirumah sambil sarapan."


Fatma melihat Nuri, bertanya lewat tatapan mata apakah dia boleh menerima tawaran Sabda.


"Dibolehin kok sama Teteh." Sabda tersenyum sambil melirik Nuri. Dia lalu bangkit untuk mengambil laptop didalam kamar lalu memberikannya pada Fatma.


"Ini," ujar Sabda karena Fatma tak kunjung mengambil laptop yang dia sodorkan.


"Eng, enggak jadi A. Laptop mahal, takut rusak."


"Kalau rusak, A Sabda bisa langsung beli lagi. Kan horang kaya," celetuk Hilma.


"Tuh Hilma ngerti." Sabda langsung menoleh pada Hilma sambil tersenyum. "Udah pakai aja."


Akhirnya Fatma menerima laptop tersebut.


Sabda kembali duduk ditempatnya. Dan Nuri, dia langsung mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


"Aku bisa ambil sendiri." Sabda kasihan melihat Nuri yang tampak kesusahan karena perut besarnya.


"Tidak apa apa. Toh gak setiap hari." Dulu saat dirumah Sabda, Nuri hanya bisa melihat Fasya melayani Sabda saat makan. Sedangkan dia, dia hanya bisa berandai andai ada diposisi Fasya. Dan sekarang, saat ada kesempatan, mana mungkin dia melewatkannya. Lagipula, pernikahannya dengan Sabda akan segera berakhir setelah dia melahirkan. Setidaknya, biar dia merasakan menjadi istri Sabda meski hanya sebentar.

__ADS_1


"Aku suka kalau ada Aa disini," celoteh Hilma. "Makanannya enak enak." Dia menatap kearah ayam goreng krispi dan langsung mengambil sepotong.


"Tiap hari juga enak. Kan masakan Ibu gak ada duanya." Puji bapak sambil menatap istrinya. Terlihat ibu yang tersipu malu malu. Sabda sampai heran, hingga usia senja, mereka masih terlihat mesra. Bukan mudah menjaga cinta selama itu, dia dan Fasya saja, hanya mampu 3 tahun menjalani rumah tangga.


"Iya enak, tapi cuma tempe dan tahu," sahut Hilma.


"Hilma." Hanya dipanggil namanya dengan nada sedikit penekannan oleh bapak, Hilma langsung mengkeret. "Ingat, syukuri setiap rezeki yang telah diberi Allah. Jangan kufur nikmat. Diluar sana, masih ada yang gak bisa makan."


"Udah-udah, ayo lanjut makan," Bu Titin kembali mencairkan suasana.


Selesai makan, Hilam langsung membawa piringnya kedapur dan mencucinya, begitupun dengan Fatma. Semua anggota keluarga disini mencuci piringnya masing masing. Tapi satu hal yang membuat Sabda heran, Bapak mengambil piring kosong milik Bu Titin lalu membawanya kedapur. Karena jarak yang dekat, dia bisa dengan jika bapak sedang mencuci piring.


"Sini biar aku cuciin," Nuri mengambil piring bekas makan Sabda. Sebenarnya Sabda sungkan karena semua orang mencuci piringnya masing masing. Tapi untuk mencuci piringnya sendiri, dia masih belum yakin. Seumur umur, dia belum pernah melakukan pekerjaan itu.


Sabda mengikuti Nuri kedapur sekalian cuci tangan. Dan yang lebih mengherankan lagi, dia melihat bapak Nuri yang ada dibelakang rumah, terlihat sedang siap siap untuk mencuci baju.


"Bapak nyuci baju sendiri?" Sabda bertanya pelan pada Nuri.


"Sekalian nyuci punya ibu."


Sabda makin heran lagi. Selama ini, dia pikir pekerjaan cuci piring ataupun baju adalah pekerjaan wanita.


"Kata Ibu, sejak mereka menikah sudah seperti itu. Kadang, bukan harta yang membuat seorang wanita bahagia. Melainkan diratukan oleh suaminya. Meski hidup serba pas pasan, ibu tak pernah mengeluh karena bapak bisa menjaga hatinya dan selalu membuatnya nyaman." Nuri yang sudah selesai mencuci piring, mambalikkan badan menatap Sabda.


"Itulah kenapa aku bilang, Kak Fasya kurang bersyukur," lanjut Nuri. "Andai saja dia mau berkaca pada Ibuku atau mungkin wanita lainnya yang hidup serba pas pasan, dia tak mungkin bisa mengkhiantimu. Masih banyak wanita yang bisa setia mesti suaminya tak terlalu tampan dan kondisi serba kekurangan. Jangan hanya karena 1 orang menyakitimu, kamu jadi meragukan yang namanya cinta. Cinta itu ada Kak. Hanya saja, kamu masih belum bertemu dengan orang yang tepat. Aku juga pernah merasakan kecewa, tapi lihatlah, aku masih baik baik sajakan?" Nuri menunjukkan senyum menawanya. "Kakak adalah pria yang sempurna. Dan aku yakin, Tuhan sudah menyiapkan jodoh pengganti Kak Fasya untuk Kakak."


Sabda tiba tiba terkekeh, membuat Nuri mengerutkan dahi.


"Ada yang salah ya dengan kalimatku yang panjang lebar tadi?"


Sabda mengangguk sambil berusaha menghentikan tawanya. Nuri mengingat ingat lagi apa saja yang dia katakan tadi. Mencoba mencari dimana letak kesalahannya.


"Yang mana?" Akhirnya Nuri memilih bertanya karena belum juga tahu dimana letak kalimatnya yang salah.


"Aku bukan laki laki sempurna," jawab Sabda. Dia lalu menoleh kearah Bapak yang sedang mencuci dibelakang rumah. "Sepertinya Bapak lebih sempurna daripada aku."

__ADS_1


Nuri langsung tergelak.


__ADS_2