9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 66


__ADS_3

Selesai sarapan, Nuri mengajak Sabda kepasar sekaligus olah raga jalan kaki. Kata bidan dan ibunya, dia harus sering jalan kaki terutama pagi agar persalinannya mudah.


Sabda terlihat menikmati sekali. Udara dikampung masih sangat bersih, berbeda sekali dengan dikota. Tak hanya itu, setiap mata memandang, yang terlihat adalah pemandangan pepohonan hijau yang menyejukkan mata.


Melihat ada orang memperhatikan mereka, Sabda langsung menggandeng tangan Nuri. Dia teringat ibu ibu yang hari itu mengolok Nuri. Dia ingin menunjukkan pada mereka jika Nuri punya suami.


"Masih jauh?" tanya Sabda setelah mereka jalan lumayan lama.


"Sedikit lagi. Kakak capek?"


Sabda menggeleng. "Justru aku takut kamu yang capek. Pasti beratkan, jalan sambil membawa perut sebesar itu?"


"Berat, tapi dinikmati saja."


Mereka lanjut jalan sambil berbincang. Tapi saat hendak melewati tukang sayur yang sedang ramai diserbu emak emak, Nuri sedikit cemas.


"Ada apa?" Sabda merasakan Nuri mengeratkan pegangang tangan mereka. Nuri hanya menunduk sambil menggeleng.


"Nuri."


Nuri menghela nafas saat apa yang dia takutkan terjadi. Salah satu emak emak memanggilnya. Dan seperti biasanya, mereka pasti memanggil hanya untuk mengoloknya.


"Itu suami kamu ya?"


Nuri hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum terpaksa.


"Wah, kasep pisan atuh suaminya Nuri," puji salah satu ibu ibu.


"Kasep tapi suami orang. Emang situ mau jadi bini kedua? Kalau saya sih ogah," sahut lainnya dengan ketus.


Sabda yang kesal hendak mengeluarkan suara, tapi lengannga ditarik oleh Nuri. Melihat Nuri yang menggeleng, Sabda jadi batal bicara.


"Permisi Ceu, kami lanjut jalan dulu." Nuri lebih memilih mengajak Sabda lanjut jalan. Menanggapi omongan tidak akan membuat mereka berubah simpati. Lagian dia juga tidak butuh simpati siapapun. Sejak dulu, istri kedua selalu dicap buruk. Jadi biarkan saja mereka berasumsi.

__ADS_1


Sabda benar benar heran, bisa bisanya Nuri sesabar itu menghadapi mereka.


"Harusnya kamu jangan di_"


"Sudahlah Kak." Nuri memotong ucapan Sabda. "Lagian yang mereka omongin benar kok."


"Maaf, aku telah menempatkanmu diposisi yang sulit."


Nuri menggeleng. "Bukan salah Kakak. Disini aku yang salah. Kalau saja aku tak berbuat dosa dan hamil diluar nikah, aku juga tak akan seperti ini. Ini semua sanksi sosial yang harus aku terima. Bukankah semua perbuatan ada konsekuensinya?"


Sabda tak bisa berkata kata. Dia makin kagum pada Nuri. Meski usianya jauh dibawahnya, pemikiran Nuri malah berada diatasnya. Mungkin itu yang dimaksud jika tingkat kedewasaan seseoang, tak bisa diukur dengan usia.


Mereka akhirnya sampai dipasar. Melihat kondisi pasar yang terlihat sedikit kotor, Sabda jadi ragu mau masuk.


"Kenapa?" tanya Nuri.


"Yakin mau belanja disini?"


"Sangat yakin. Ayo masuk." Nuri menarik tangan Sabda masuk kedalam pasar. Situasi pasar yang lumayan ramai, membuat Sabda mengkhawatirkan Nuri. Takut istrinya itu tak sengaja tertabrak orang. Dia tak lagi memegang tangan, melainkan melingkarnya lengannya dipinggang Nuri. Dia ingin sebisa mungkin menjaga keselamatan Nuri dan anaknya.


Nuri tersenyum mendengar kalimat penuh kekhawatiran itu. "Insyaallah enggak kok. Lagian mereka pasti lebih hati hati kalau deket aku. Ya masa lihat orang hamil gede ditabrak."


"Kamu yakin?"


"Hem." Nuri berusaha menyakinkan Sabda jika dia akan baik baik saja.


Mereka lalu mendatangi lapak demi lapak untuk berbelanja. Sabda yang baru pertama kali belanja di pasar tradisional baru tahu jika dagangan disini ternyata kualitasnya juga bagus. Bahkan sayurnya terlihat lebih fresh daripada di mall. ,


Sabda sama sekali tak mengizinkan Nuri membawa apapun Dia mengambil alih semua barang belanjaan Nuri.


"Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Sabda ketika kedua tangannya sudah penuh dengan keresek belanjaan.


"Udah itu aja." Nuri tak tega mau menambah lagi. Sabda bukan pria yang biasa kerja kasar atau membawa barang barang berat. Dia hanya terbiasa duduk dibalik meja sambil menatap laptop.

__ADS_1


"Aku masih kuat kok."


"Iya aku tahu," sahut Nuri sambil terkekeh. "Tapi kulkas dirumahku yang gak muat buat naruh belanjaan yang terlalu banyak."


.


.


Seharian ini, Sabda terus kepikiran tentang kejadian tadi pagi. Tak hanya tadi, hari itu saat dia pertama kali datang kesini, Nuri juga mendapatkan bullian. Rasanya dia tak tega jika Nuri setiap hari harus mendengar gunjingan tetangga yang menyakitkan. Dia memikirkan mental Nuri. Jangan sampai dia stress dan melahirkan sebelum waktunya.


"Kita pulang ke Jakarta saja. Kamu maukan?" Tanya Sabda saat keduanya tengah duduk santai diruang tamu.


Jakarta? Perasaan Nuri langsung tak enak. Dia masih belum lupa dengan apa yang dilakukan ibu mertuanya. Dan kejadian serupa, masih mungkin bisa terjadi.


Melihat respon Nuri, Sabda langsung paham. Diraihnya kedua tangan Nuri lalu dia genggam erat.


"Kau tak perlu khawatir. Aku tidak menyuruhmu tinggal dirumahku. Aku akan mencarikan tempat tinggal untukmu. Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Aku tak tenang saat kita terpisah jarak yang lumayan jauh seperti ini. Aku ingin kamu terus ada dalam jangkauanku. Aku ingin bisa menemanimu saat melahirkan nanti."


Itu juga yang Nuri mau, melahirkan ditemani Sabda. Tapi kembali ke Jakarta? kenapa rasanya masih berat.


"Ibu justru khawatir jika Nuri tinggal di Jakarta." Sahut Bu Titin yang tiba tiba datang. Saat ada didapur, tak sengaja dia mendengar obrolan Sabda dan Nuri. "Wanita hamil tua tinggal sendirian, itu tidak baik. Takut tiba tiba kontraksi atau terjadi sesuatu, tapi gak ada orang."


"Nuri tidak akan tinggal sendiri, saya akan tinggal bersamanya."


"Ingat, kamu punya 2 istri. Jangan sampai kamu dzolim," Bu Titin mengingatkan. Dia tak mau putrinya menyakiti hati wanita lain dengan mengambil seluruh perhatian suaminya.


"Saya sedang dalam proses perceraian dengan istri pertama saya."


Bu Titin terlihat kaget, begitupun dengan Nuri. Dia tak tahu jika Sabda sudah dalam proses perceraian.


"Saat saya kerja nanti, Nuri juga tak akan sendirian. Saya akan mencarikan asisten rumah tangga untuk menemaninya.


Bu Titin tak bisa berkata kata lagi. Selain itu, Sabda yang paling berhak atas Nuri karena di suaminya. "Kalau begitu, biarkan Nuri yang mengambil keputusan," pungkasnya.

__ADS_1


Sabda menatap Nuri. Dia sangat berharap Nuri mau ikut dengannya ke Jakarta.


"Kamu mau kan, ikut aku ke Jakarta?"


__ADS_2