9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)

9 MONTHS (Perjanjian Pernikahan)
BAB 80


__ADS_3

"Masyaaallah, putri ibu cantik sekali." Bu Titin tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat Nuri yang selesai dirias. Gaun pengantin warna putih dengan model tertutup terlihat sangat pas dibadannya. Meski baru melahirkan, badan Nuri tak terlihat gemuk sama sekali.


Dengan hijab warna senada yang dihiasi flower crown, penampilan Nuri terlihat sangat sempurna.


"White gak rewel kan Bu?" Nuri mengambil alih baby White dari gendongan Bu Titin.


"Rewel sebentar tadi. Tapi setelah ibu kasih susu, bobok lagi."


"Uhhh sayangnya mama." Nuri menghujani wajah White dengan kecupan. "Maaf ya, hari ini mama mengabaikanmu."


"Kamu susuin dulu biar kenyang. Takutnya nanti dia rewel pas ijab kabul." Nuri mengangguk lalu segera menyusuii White. Gaun pengantin Nuri sengaja didesign busui friendly agar tak merepotkannya.


"Teteh." Teriak Hilma yang baru memasuki kamar. Gadis kecil itu terlihat ngos ngosan karena habis berlari. "Kata Bapak, kalau udah selesai disuruh segera turun. Becaknya udah siap didepan hotel."


"Iya, bilangin Bapak, bentar lagi teteh turun," sahut Bu Titin. "Sekarang masih nenenin dede White, biar kenyang dulu."


"Tapi kata Bapak disuruh buruan Bu. Bentar lagi udah sunset. Gak lucukan, kalau nanti pestanya gelap gelapan karena kemalaman nunggu Teteh nenenin. Udah gitu kata Bapak Aa Sabda udah siap ditempat acara. Teteh gak mau kan, Aa ngambek karena nunguin Teteh yang kelamaan?"

__ADS_1


Bu Titin menghela nafas sambil geleng-geleng. Putri ke-3 nya itu memang yang paling cerewet diantara kakak kakaknya. Sementara Nuri, dia tersenyum melihat adik kecilnya hari ini sangat bersemangat.


"Iya, ini dede White udah mau selesai. 5 menit lagi, ok?" Nuri membentuk simbol ok menggunkaan jari sambil mengedipkan sebelah mata.


"Ok 5 minit, jangan sampai lebih." Hilma lalu keluar dari kamar, kembali menemui bapaknya yang ada dilobi hotel bersama Fatma dan beberapa saudara dari kampung.


Selesai menyuusui, Nuri kembali merapikan penampilan. Setelah itu, dia turun kelobi bersama Bu Titin yang menggendong White.


"Bu, aku gugup." Nuri menggenggam erat tangan ibunya.


"Itu wajar Neng. Dinikmati saja prosesnya."


"Ayo." Bapak menggandeng tangan Nuri, menuntunnya menuju becak yang ada didepan hotel.


Nuri tak kuasa menahan tangis melihat becak yang sudah dihias dengan sangat indah. Kenapa pakai becak ketempat ajab kabul? Itu semua karena dahulu, bapak adalah seorang tukang becak. Nuri kecil, selalu diantar pakai becak saat sekolah. Tak ada rasa malu saat itu, dia bangga meski bapaknya hanya seorang tukang becak. Tapi lambat laun, jarang sekali orang yang mau naik becak karena rata rata suah memiliki motor. Penghasilan yang menurun, membuat bapak beralih profesi menjadi kuli bangunan.


Bapak membantu Nuri naik keatas bacak dan merapikan gaunnya. Setelah itu, dia berpindah kebelakangan untuk mengemudikan. Lagi lagi, air matanya meleleh. Putri yang sejak kecil kemana mana selalu dia antar menggunakan becak, hari ini dia antar menggunkan alat transportasi yang sama kepelaminan.

__ADS_1


Sementara pengantin perempuan naik becak, para pengantar jalan kaki karena lokasi ijab kabul memang didekat hotel.


Dari kejauhan, Nuri bisa melihat Sabda yang sudah menunggunya di kursi yang disiapkan untuk ijab kabul. Pria itu terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna putih.


Turun dari becak, Bapak menggandeng Nuri menuju tempat ijab kabul. Disana sudah ada Sabda, seorang ustad, dan 2 orang saksi. Hari ini, yang bertindak sebagai wali nikah adalah bapak sendiri, sama seperti pernikahan Nuri dan Sabda kala itu.


Melihat Nuri yang diapit kedua orang tuanya, Sabda tak bisa menahan tangis. Dihari bahagianya, tak ada satupun keluarga yang mendampinginya. Dia teringat ayahnya, Dennis serta ibunya yang paling terakhir meninggal. Dia hanya bisa memejamkan mata, membayangkan jika semua keluarganya ada disini. Berkumpul dan mengucapkan selamat padanya.


"Sambutlah keluarga barumu, Nak. Jadilah nahkoda yang bisa membawa bahteramu berlabuh di surga." Ayah yang ada disebelah kanannya berbisik.


"Semoga kau dan Nuri bahagia selamanya. Ibu menyayangi kalian." Bu Yulia berbisik sambil tersenyum.


"Wow, cantik sekali pengantinmu, Bang. Berterimakasiah padaku. Karenaku, kau bisa mendapatkan wanita secantik Nuri dan anak setampan White. Jaga mereka baik baik." Giliran Dennis yang ada dibelakangnya berbisik.


Saat membuka mata, Sabda mendapati Nuri sudah duduk disebelahnya. Dia tersenyum sambil menyeka air mata. Istrinya itu terlihat sangat cantik. Meski ini untuk yang ke3 kalinya Sabda melakukan ijab kabul, tetap saja dia merasa grogi.


Tepat saat matahari mengeluarkan sinar jingga keemasan yang sangat indah, Sabda mengikrarkan ijab kabul sambil menjabat tangan bapak.

__ADS_1


SAH


Tidak ada yang lebih melegakan daripada mendengar kata itu menggema. Setelah acara ijab kabul selesai, dilanjutkan dengan resepsi kecil kecilan. Panorama sunset yang sudah sangat indah, bertambah indah saat kedua pengantin dan para undangan bersama sama melepaskan balon berwarna putih ke langit.


__ADS_2