Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 10 (Menghilangkan jejak)


__ADS_3

Seseorang menghampiri Alan dengan langkah tergesa-gesa


"Tuan maafkan saya, orang itu berhasil melenyapkan barang bukti dan menghilangkan jejak. Dia mengetahui kalau kita sedang mencurigainya." Detektif yang di sewa Alan memberikan laporan.


"Apa benar Farhan otak pembunuhan ayahku?"


"Benar tuan, tapi dia sudah melenyapkan barang bukti kedua."


"Apa yang dia lakukan?"


"Dia melenyapkan rekaman cctv di dalam cafe xx saat berbicara dengan eksekutor itu. Tapi barang bukti pertama, berupa rekaman cctv di luar saat dia masuk cafe sudah saya amankan. Selang 5 menit kemudian terpantau eksekutor itu juga masuk kedalam cafe tersebut."


"Terus awasi dia, kau harus segera mendapatkan bukti lain. Aku akan urus sisanya."


"Baik tuan, apa tuan mencurigai ada keterlibatan Kevin Sanjaya di sini?"


"Aku tidak tau, tapi jika memang dia terlibat, nyawa Melisa dalam bahaya. Jika dia berani menyantuh adikku, akan aku hancurkan dia tanpa sisa." Mengepalkan kedua tangannya.


Di lain tempat, ada dua sejoli yang sedang dimabuk cinta. Melisa dan Kevin. Mereka menghabiskan waktu bersama sepanjang hari ini.


"Setelah nonton kita kemana lagi?" Ucap Kevin setelah keluar dari bioskop sambil menggandeng tangan Melisa.


"Bagaimana kalau kita mengunjungi ayah Farhan? Sudah lama kan kita berkunjung kerumahnya kan?" Melisa merasa rindu dengan ayah Mertuanya itu. Baginya Farhan sudah di anggap seperti ayah kandungnya sendiri.


"Baiklah kita kesana sekarang." Kevin menyetujui permintaan istrinya itu.


Sesampainya di rumah Farhan, Melisa terlihat begitu senang. Dia memeluk ayah mertuanya itu dengan mata berkaca-kaca.


"Hei kenapa malah menangis? Kau bilang ingin mengunjungi ayah Farhan? Kevin menghapus sisa air mata yang masih menempel di pelupuk mata Melisa.


"Seandainya ayah Jhonatan masih ada." Kembali menangis, dan kali ini di tambah suara isakan. Dia masih begitu terluka saat teringat hari itu. Hari dimana seseorang merengut nyawa ayahnya dengan senjata api di depan matanya sendiri.


"Sudah jangan menangis, ada aku dan ayah Farhan disini. Kita akan selalu menyayangimu seperti ayah Jhonatan menyayangimu, benarkan yah?


"Benar kata Kevin, berhentilah menangis. Anggap saja aku sebagai ayah kandungmu. Dengan begitu kau tidak akan merasa kehilangan sosok ayah di dalam hidupmu." Dengan tanpa merasa berdosa ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Farhan.

__ADS_1


Melisa hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kevin merangkul dan berusaha menenangkan istrinya. Sementara Farhan memilih untuk kembali ke kamarnya dan membiarkan mereka berdua.


Sementara itu di ruang tamu ada Maya yang datang untuk menemui Kevin. Dia ingin mencari tau kenapa orang yang di cintainya itu tidak datang ke kampus selama beberapa hari. Meskipun pada kenyataannya Kevin hanya mengangapnya sebagai sahabat.


"Kevin dimana bik?" Maya bertanya kepada asisten rumah tangga di kediaman Farhan.


"Tuan Kevin ada di kamarnya nona."


Maya langsung berlari kecil menuju kamar Kevin tanpa meminta izin. Dia memang sangat akrab dengan Farhan dan menganggap rumah ini seperti rumahnya sendiri.


"Nona jangan kesana."


Seketika langkah Maya terhenti. Dia merasa ada yang aneh karena dia sudah biasa keluar masuk rumah ini, bahkan ke kamar Kevin dengan leluasa tanpa ada yang mempermasalahkan.


"Kenapa? Maya bertanya sembari mengerutkan keningnya.


"Tuan Kevin sedang bersama istrinya."


"Apa? Istri? Sejak kapan dia menikah? Kenapa dia tidak bilang padaku? Kau tidak sedang bercanda kan? Tanpa mengharapkan jawaban dia langsung berlari menuju kamar Kevin. Dia ingin mendengar jawaban langsung dari mulut Kevin.


"Apa ini Vin? siapa dia?" Tanpa rasa bersalah karena seenaknya masuk ke kamar orang lain saat sedang bersama istrinya.


"May? Apa yang kau lakukan, harusnya kau mengetuk pintu dulu kalau masuk kamar orang."


"Kau belum menjawab pertanyaanku, siapa perempuan itu?" Menunjuk Melisa yang terdiam karena bingung dengan situasi yang tercipta.


"Dia istriku."


"Kenapa kau menyembunyikan hal sepenting ini kepadaku. Kau sudah tidak menganggapku sahabat lagi?"


"Aku tidak bermaksud menyembunyikan pernikahanku. Baiklah karena kau sudah tau, kenalkan dia Melisa, istriku."


"Hai, aku Melisa." Mengulurkan tangannya.


"Aku Maya." Menjabat tangan Melisa dengan senyuman kecut.

__ADS_1


"Kita ngobrol di bawah saja kak." Melisa yang merasa tidak nyaman dengan situasi ini memilih untuk mengajak mereka ke ruang tamu.


Sesampainya di ruang tamu Kevin meninggalkan mereka karena menerima panggilan telepon.


"Berapa usiamu? Maya bertanya dengan tatapan penuh kebencian.


"17 kak."


"Kau masih sekolah?" kembali bertanya. Lebih tepatnya menginterogasi Melisa.


"Iya, aku kelas 11 jurusan IPA."


"Ternyata kau masih anak ingusan. Setauku tipe Kevin itu perempuan dewasa yang umurnya tidak terpaut jauh darinya."


"Apa maksud kakak bicara seperti itu?"


"Aku dan Kevin bersahabat sudah sangat lama. Aku tau seperti apa dia. Jika dia menikah dengan anak ingusan sepertimu, pasti karena ada sesuatu."


"Asal kakak tau, kami saling mencintai."


Tiba-tiba Kevin datang membuat perbincangan keduanya terhenti.


"Sayang ayo pulang, kakmu menelfon dan marah-marah tidak jelas." Sambil meraih tangan Melisa dan bergegas mengajaknya pulang.


"Ada apa?" Melisa bingung kenapa kakaknya menelfon dan marah-marah kepada Kevin.


"Entahlah aku juga tidak tau "


"Maaf Maya kita harus pergi." Kevin berpamitan kepada Maya.


Disepanjang perjalanan Melisa dan Kevin masih membicarakan tentang kakaknya yang sangat marah hanya karena mereka berkunjung kerumah ayahnya.


"Mel, sepertinya ada sesuatu yang kak Alan sembunyikan." Kevin berbicara dengan nada serius.


"Kakak benar, aku akan cari tau tentang ini."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2