
Sebuah notifikasi pesan masuk menghentikan obrolan Melisa dan Kevin yang sedang dalam perjalanan pulang. Pesan singkat itu ternyata dari Maya.
Maya : Apa hari ini kita bisa bertemu?
Melisa : Ada apa? Aku sibuk, kau bisa bicara lewat telepon kan?
Maya : Ini penting, tidak bisa di bicarakan lewat telepon. Ini menyangkut ayah mertuamu. Dan satu lagi, Jangan sampai ada yang tau. Baik itu Kevin ataupun Kakakmu.
Melisa : Baiklah, setelah jam makan siang temui aku di taman kota.
"Siapa Mel?" Kevin bertanya tanpa menoleh karena sedang fokus mengemudi.
"Temanku, nanti setelah makan siang aku akan kerumahnya. Kita akan membicarakan kegiatan sosial." Dalam hati, Melisa merasa sangat bersalah. Lagi lagi dia terpaksa harus berbohong.
"Baiklah kalau begitu nanti aku akan mengantarmu."
"Aaa, tidak perlu. Biar pak sopir saja yang mengantarku. Nanti sekalian kita mau girl's time. Kalau kak Kevin ikut nanti yang ada teman temanku jadi canggung."
"Oke, fine. Tapi jangan terlalu sore pulangnya."
"Siap pak komandan." Melisa menaruh tangannya ke pelipis seperti seorang prajurit yang sedang memberi salam hormat.
***
Di taman kota terlihat sudah ada Maya yang duduk di salah satu bangku taman. Mungkin dia sudah menunggu dari tadi karena di sebelahnya ada dua botol minuman yang sudah kosong.
"Kau datang dengan Kevin?"
"Tidak, aku di antar sopir."
"Good. Ikut aku sekarang."
"Kemana?"
"Menemui Paman Farhan."
"Kau tau dimana dia?"
Tanpa menjawab, Maya langsung membukakan pintu mobilnya dan mengisyaratkan agar Melisa segera masuk ke dalam mobil.
"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?"
"Bukannya tadi sudah aku beri tau ya? Kita akan menemui paman Farhan."
"Aku tau, tapi dimana?"
"Hhhh, nanti kau juga tau." Maya tersenyum licik.
Melisa malas berbicara pada Maya. Ia lebih memilih untuk diam. Dari tadi ucapan Maya hanya berbelit belit saja.
"Kita sudah sampai. Turunlah."
"Dimana ini?" Melisa mengedarkan pandangannya. Sebuah bangunan yang sepertinya tidak berpenghuni. Rumput liar dan dedaunan kering menghiasi seluruh halaman luar dan menambah kesan menakutkan.
__ADS_1
"Ayo masuk. Dia ada di atas gedung."
Melisa melangkahkan kaki mengikuti kemana arah Maya melangkah. Mereka menaiki tangga hingga tibalah mereka di atap bangunan berlantai empat tersebut.
Terlihat seseorang tengah berdiri di tepi atap gedung dan berpegangan pagar pembatas. Itu dia Farhan Sanjaya.
"Kau sudah datang rupanya." Ucap Farhan seraya membalikkan badan, setelah mendengar langkah kaki di belakangnya yang semakin mendekat.
"Kenapa yah? Kenapa selalu menghindar dan lari dari tanggung jawabmu."
"Melisa Yong ju, hahaha. Kau masih sudi memanggilku dengan sebutan ayah rupanya. Bahkan anak kandungku sendiri sudah tidak sudi memanggilku ayah." Farhan tertunduk dan tersenyum getir mengingat hubungannya dengan Kevin yang sudah hancur saat ini. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat menyayangi Kevin. Ayah mana yang mampu membenci anaknya? Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah mustahil untuk diperbaiki.
"Apa tujuan kalian membawaku kemari?" Melisa memandangi Farhan dan Maya secara bergantian.
"Aku ingin kau membebaskanku!" Farhan berbicara dengan lantang.
"Membebaskan ayah? haha, terlalu banyak kejahatan yang ayah lakukan. Bahkan aku sendiri tidak tau bagaimana cara menyelamatkan ayah."
"Caranya? Mudah saja. Kau tinggal menyuruh kakakmu mencabut tuntutannya."
"Kau juga harus menandatangani ini." Kali ini Maya yang berbicar. Ia melangahkan kaki mendekati Melisa, lalu menyodorkan lembaran kertas.
Melisa mengambil lembaran kertas yang di sodorkan Maya dan membacanya.
"Apa ini?"
"Itu surat gugatan cerai kepada Kevin. Kau harus menandatanganinya."
"Astaga, jadi kalian sedang bersekongkol? Hahaha. Lucu sekali."
"Nyawa Alan dalam genggamanku. Ada peledak di kantornya. Lebih tepatnya, peledak itu ada di ruang kerjanya."
Ancaman Farhan mampu menghentikan Melisa.
"Apa lagi yah? Semua sudah kau hancurkan, apa lagi yang kau inginkan?" Melisa menahan airmatanya yang menumpuk di kelopak mata. Tapi air matanya lolos dari kendalinya.
"Bukankah sudah ku bilang, suruh kakakmu cabut tuntutannya dan tandatangani surat gugatan cerai itu. Dan setelah itu, lanjutkan hidupmu dengan bahagia."
Melisa menghela nafas. Jujur dia tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini.
***
"Farhan mengetahui keberadaan kami tuan. Kami hampir saja menangkapnya di bandara, tapi dia berhasil lolos." Orang suruhan Alan memberikan laporan.
"Akkhh, sial. Bagaimana bisa terjadi."
"Tapi kami berhasil masang GPS di taksi yang ia tumpangi tuan, kita pasti akan menemukannya."
"Cari dan ikuti dia sekarang juga!" Perintah Alan.
"Baik tuan."
"Tunggu, aku ikut kalian. Kali ini aku tidak ingin gagal lagi." Alan menyambar ponselnya yang ia letakkan di meja dan berjalan menuju tempat mobilnya terparkir.
__ADS_1
Kali ini perasaan Alan benar-benar tidak enak. Di tengah perjalanan ia memutuskan untuk menghubungi Melisa. Satu kali, dua kali, tiga kali, hingga belasan kali ia berusaha menghubungi adiknya. Tersambung, tapi tidak di angkat.
Kecemasannya pun bertambah, lalu ia mencoba menanyakan keadaan Melisa kepada Kevin.
Alan : Vin, Melisa ada sama kamu kan?
Kevin : Enggak, tadi dia pergi di antar supir. Katanya mau kerumah temannya.
Alan : Kenap kamu biarin Melisa pergi sendirian. Kamu tau kan Farhan masih berkeliaran bebas. Bagaimana jika dia berbuat sesuatu yang buruk kepada Melisa.
Deg..
Kenapa aku tidak kepikiran sampai kesitu. Bagaimana jika ucapan kak Alan benar terjadi.
Kevin : Baiklah akan ku cari. Semoga yang kau fikirkan itu tidak terjadi.
Setengah jam berlalu. Mobil Alan berhenti di depan sebuah bangunan tua empat lantai. Ia segera turun dari mobilnya, dan menghampiri mobil orang suruhannya yang terparkir tepat di depan mobil miliknya. Sebelum masuk, ia menyempatkan untuk mengabari Kevin lewat pesan singkat. Pesan itu berisi bahwa dia berada di tempat yang di duga menjadi tempat persembunyian Farhan. Ia juga share lokasi keberadaannya sekarang ke smart phone Kevin.
"Apa benar disini dia bersembunyi?"
"Harusnya benar disini tuan, coba kita cari kedalam saja untuk memastikan."
Mereka melangkahkan kaki dengan hati-hati untuk meminimalisir suara hentakan sepatu yang mereka kenakan. Langkah demi langkah menyusuri setiap ruangan yang meteka lewati. Dari lantai satu hingga lantai empat, mereka tidak menemukan siapapun.
"Tidak ada siapapun disini. Akhhh, sial!" Alan mengepalkan tangan dan meninju dinding di depannya.
"Ada satu tempat yang kita lewatkan tuan. Kita belum memeriksa atap gedung." Ucap salah satu anak buah Alan.
"Ya, kau benar."
Mereka melangkah menuju atap gedung. Sayup-sayup terdengar suara dari atas gedung. Dan benar saja, Farhan ada disana. Dan yang lebih membuat Alan terkejut adalah, Melisa juga ada disana. Dan satu lagi, wanita yang sepertinya tidak asing baginya. Dia adalah Maya.
"Melisa! Kenapa kau ada disini? Kau tidak apa-apa kan? Apa Farhan melukaimu?" Alan memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi kepada adik kesayangannya.
"Aku tidak apa-apa kak. Tapi dia mengancamku. Dia bilang dia memasang peledak di ruang kerja kakak, dan akan meledakkannya jika aku tidak mengikuti keinginan mereka." Melisa menunjuk Farhan dan Maya.
"Kau lihat kan ayah Farhan? Kakakku ada di sini dan dia baik-baik saja. Jadi aku tidak perlu mengikuti apa maumu kan?"
"Hahahaha. Kau salah besar nak. Kakakmu memang selamat karena dia tidak berada di kantornya. Tapi perlu kalian ingat, ada orang lain di sana. Kira-kira bagaimana nasib Sekertaris kesayangan kakakmu itu setelah ini?"
"Berani kau melukainya, akan ku habisi kau tanpa ampun." Alan semakin tersulut emosi dan mendekati Farhan. Tangannya mengepal dan hampir saja meninju wajah Farhan. Tapi tangannya terhenti setelah mendengar kalimat ancaman dari Maya.
"Stop. Kalau kalian berani macam-macam, akan ku telepon anak buahku. Akan ku pastikan sebuah ledakan hebat menghancurkan kantormu dan orang-orang di dalamnya."
Kevin yang tengah bersembunyi terkejut mendengarkan ucapan perempuan yang ia anggap sahabatnya itu. Bahkan ia sudah menganggap Maya seperti adiknya sendiri.
Dia memutuskan untuk menyusul Alan karena ia tidak menemukan Melisa. Awalnya ia menghubungi Aldo, dan menghubungi semua kontak teman sekolah Melisa yang ia dapat dari Aldo. Kevin terkejut ketika semua teman teman Melisa bilang bahwa tidak ada kegiatan sosial seperti yang di katakan Melisa. Dari situ dia curiga bahwa mungkin saja Melisa diam-diam menemui Farhan. Dan ternyata dugaannya itu benar.
Kevin segeta ambil tindakan. Ia menghubungi polisi dan mengatakan bahwa Farhan Sanjaya, buronan yang selama ini mereka cari ada di sini. Ia juga memberitahukan bahwa ada peledak di kantor pusat Yong Ju Group.
Prok.. prok... prok...
"Hebat, hebat. Kemarin ayahku yang bertindak kriminal dan membuat masalah. Dan sekarang orang yang sangat aku sayangi dan aku hormati sebagai sahabat, ternyata melakukan perbuatan yang tak kalah keji. Huh.. sepertinya begitu banyak hal yang tidak ku sadari selama ini..
__ADS_1
Betsambung...