
Inilah usaha terakhir Farhan untuk menyelamatkan diririnya. Ia membayar beberapa orang suruhan untuk menjaga Sofia yang terkulai lemah dengan posisi tangan dan kaki terikat.
"Lepaskan aku. Apa mau kalian." Berteriak dan memberontak berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya.
"Hahaha. Kami tidak mau apa-apa cantik, jadi diam dan jadilah anak manis. Jangan menyusahkan begitu." Jawab salah satu penjaga sambil membelai wajah dan bibir Sofia.
"Cih, jangan sentuh aku!"
"Hahahaha." Mereka tertawa karena merasa mendapatkan mainan baru.
Sementara itu Farhan menghubungi Kevin dan berniat mengadakan negosiasi. Kevin mengurungkan niatnya untuk melaporkan Farhan kepada polisi, karena Alan menghubunginya dan memberitahu bahwa Sofia di culik dan di jadikan tawanan.
"Wow, aku tidak menyangka memiliki ayah yang luar biasa sepertimu." Kevin bertepuk tangan dan menghampiri ayahnya."
"Hahaha, kau kagum dengan kehebatan ayahmu ini kan, hahahaha."
"Cih, itu bukan kehebatan, tapi kelicikan. Apa mau anda sekarang tuan Farhan." Menyebut ayahnya dengan sebutan nama, karena baginya ia bukan ayahnya lagi.
"Sebenarnya mudah saja. Kalian lepaskan aku, aku lepaskan gadis itu."
"Sofia pantas di bebaskan, karena dia gadis baik. Kau menyeret orang yang tidak tau apa-apa untuk melancarkan kebusukanmu. Tapi lihatlah dirimu, apa pantas pembunuh licik sepertimu dilepaskan? Sungguh menyedihkan sekali." Tersenyum kecut kepada Farhan.
"Baiklah kalau itu maumu, gadis itu akan lenyap di tanganku."
"Katakan apa maumu." Menarik krah kemeja yang melekat di tubuh Farhan.
"Serahkan ini kepada Alan. Suruh dia menandatangani." Menyodorkan surat perjanjian yang ia buat. Surat perjanjian itu bertuliskan bahwa Alan harus berjanji tidak menuntutnya atas kematian Jhonatan Yong ju.
"Baiklah, akan ku serahkan ini kepada kak Alan." Berlalu pergi meninggalkan Farhan.
Di tengah perjalanan Kevin menghapus air mata yang tanpa ia sadari lolos dari pelupuk matanya. Ia begitu terluka atas apa yang telah terjadi. Ia melawan ayah kandungnya sendiri. Tapi kebenaran memang seharusnya ditegakkan bukan?
Sesampainya rumahsakit Kevin memberikan map berisi perjanjian itu kepada Alan.
"Ayahmu sungguh luar biasa. Apa kau tidak kagum dengan ayahmu ini?" M*r*mas kertas yang ia pegang hingga tak berbentuk lagi.
"Apa rencanamu kak?"
"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tau dimana Sofia di sekap."
__ADS_1
"Apa kau yakin akan berhasil menemukannya?"
"Tentu saja. Selama ini orang-orangku bekerja dengan sangat baik dan tidak pernah gagal."
"Bagaimana keadaan Melisa?"
"Tadi dia sudah siuman, sekarang dia tidur."
"Apa dia bertanya sesuatu saat sudah sadar?"
"Ya, dia bertanya apakah Farhan ikut andil dalam pembunuhan ayahnya."
"Apa jawabanmu?"
"Aku tidak menjawab, aku meyuruhnya isrtirahat agat segera sembuh dan bisa segera pulang kerumah."
"Jangan beri tau Melisa kalau Sofia jadi tawanan Farhan."
"Hei, kau pikir aku sudah gila." Melempar Kevin dengan bola kertas yang ia pegang.
Belum sempat Kevin masuk kedalam ruang rawat Melisa, ia dikejutkan dengan kehadiran Aldo yang tiba-tiba datang.
"Tadi Melisa tidak masuk sekolah, jadi aku putuskan mampir ke rumah kalian kak. Kata bibik Melisa sakit dan di rawat di sini."
Di tengah obrolan Kevin dan Aldo, Alan datang dan menyampaikan bahwa orang suruhannya sudah berhasil menemukan lokasi tempat penyekapan Sofia.
"Kevin, aku pergi. Mereka sudah menemukan tempatnya."
"Tunggu kak, aku ikut."
"Kau disini saja, jaga Melisa."
Kevin melirik Aldo yang berdiri di sampingnya
"Al, kau bisa menemani Melisa sampai kami kembali kan?" Tanya Kevin kepafa Aldo.
"Tentu saja kak, pergilah, aku akan menjaga Melisa dengan senang hati."
Sebenarnya hati Kevin tidak rela membiarkan Aldo bersama Melisa. Tapi tidak ada pilihan lain. Ia harus mengesampingkan egonya kali ini.
__ADS_1
"Nanti jika Melisa bangun, bilang saja aku dan Kevin ada urusan sebentar. Dan jika terjadi sesuatu cepat kau bilang kepada mereka. Mereka orang-orangku." Menunjuk beberapa orang yang berpakaian formal selayaknya bodyguard.
"Baik kak."
***
Mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat tujuan. Disinilah Farhan menyekap Sofia dan menjadikannya tawanan.
Dengan langkah hati-hati, mereka masuk dengan mode waspada.
"Apa kakak yakin tidak menghubungi polisi? Bagaimana jika jumlah mereka banyak?"
"Aku membawa banyak pengawal bayangan. mereka akan masuk saat aku memerintahkan. Setelah kita mendapatkan Sofia, aku akan hubungi polisi. Ini demi keselamatan Sofia juga."
"Jadi kau benar-benar menyukainya?" Goda Kevin.
"Kau mau mati?" Langkahnya terhenti dan menatap Kevin dengan tatapan membunuh.
"Sudah terus terang saja, bahkan kau sudah memaksanya untuk menjadi pacarmu kan?" Ucap Kevin sambil terkekeh senang.
"Sebenarnya tujuanmu kesini untuk membantuku atau hanya untuk membuatku emosi?" Kali ini Alan benar-benar marah.
"Astaga aku sampai lupa, ayo kita lanjutkan misi kita." Berjalan mendahului Alan.
"Dasar kau." Gerutu Alan.
Mereka masuk menelusuri ruang demi ruang gedung kosong ini. Sampai akhirnya mereka menemukan Sofia yang sedang terduduk tak berdaya di atas kursi, dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Sial, banyak sekali orang yang berjaga di sana." Umpat Alan.
"Hei siapa kalian!" Teriak salah satu penjaga yang menyadari kedatangan mereka.
"Lepaskan dia atau kau akan menyesal."
"Hahaha, kau mau menjadi pahlawan untuk gadis itu?"
"Jangan banyak bicara kau!" Alan memangil pengawal bayangan yang ia bawa. Jumlahnya hampir seimbang dengan orang-orang yang berjaga di sana.
Perkelahian pun tidak terelakkan lagi. Sofia hanya bisa menjerit saat melihat Alan terkena pukulan. Ada perasaan tidak rela ketika melihat bosnya itu terluka.
__ADS_1
Bersambung...