Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 36 (Histeris)


__ADS_3

"Melisa kenapa?"


Kata pertama yang di lontarkan Alan setelah sampai di kediamannya. Ia begitu panik setelah Sofia menghubunginya dan mengatakan Melisa sedang tidak baik-baik saja.


"Lihatlah ke kamar. Dia hanya diam saja sejak pulang dari rumah sakit tadi." Sofia masih tampak panik walaupun sudah ada Alan disini. Ia sudah sangat menyayangi Melisa seperti adiknya sendiri.


"Kau membawanya ke rumahsakit?"


"Iya, katanya sudah izin denganmu untuk menjenguk Amora. Makanya aku berani membawanya keluar. Maaf, aku tidak tau akan jadi seperti ini." Ucap Sofia penuh penyesalan.


Alan masuk ke kamar Melisa dan mendapati adiknya itu sedang melamun. Alan hafal betul jika Melisa seperti ini, pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Sayang, are you ok?" Membelai lembut pipi adiknya.


Melisa hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Apa yang bisa kakak lakukan agar kau merasa lebih baik?"


Dijawab gelengan kepala dan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Please jangan seperti ini. Kakak sangat sedih melihatmu seperti ini."


"Aku baik-baik saja kak. Aku hanya sedikit lemas, dan mungkin aku membutuhkan oksigen agar segera pulih." Melisa melihat adanya air mata yang berusaha di tahan, di balik suara kakaknya yang bergetar. Ia mengumpulkan seluruh hati dan pikirannya untuk sekedar berkata 'aku baik-baik saja' kepada kakaknya. Kalimat yang begitu sederhana tapi begitu berat saat Melisa mengucapkannya.


"Tunhgu sebentar. Kakak ambilkan tabung oksigen."


Alan berjalan menuju tempat tabung oksigen yang biasa di gunakan Melisa dulu, saat keadaan jantungnya belum stabil. And finally, setelah sekian lama alat itu kembali harus di buka. 'Sakit', itulah yang dirasakan Alan saat ini.


"Apa sekarang sudah lebih baik?" Setelah oksigen terpasang, Alan kembali menanyakan keadaan Melisa.


"Ya." Jawabnya pelan, nyaris tak terdengar.


Sofia sejak tadi memperhatikan Alan. Ia masih saja heran melihat Alan yang bisa bersikap selembut dan sehangat itu. Yang membuatnya lebih heran lagi adalah, Alan menunjukkan sikap seperti itu hanya kepada Melisa. Bahkan dirinya yang sudah diproklamirkan sebagai kekasihnya saja masih sering diperlakukan seenaknya.


"Makan dulu ya? Sudah hampir sore, kau melewatkan makan siangmu. Kau juga belum minum obat kan?"


Alan mengambil nampan berisi makanan siang yang sudah dua jam nanngkring di atas nakas dan terlihat tak tersentuh.


Ia segera menghubungi pelayan dan meminta agar mengganti makan siang untuk Melisa dengan yang baru.


Tak berselang lama makanan pun datang. Dengan telaten Alan menyuapi Melisa hingga suapan yang kesekian kali di tolaknya.


"Sudah kak, aku kenyang."


"Sedikit lagi." Pinta Alan.


"Please kak, aku mulai mual."


"Ya sudaah, minum dulu. Dimana obatmu?" Alan terlihat mencari obat Melisa yang biasanya di letakkan di atas nakas, tapi tidak ada di sana."


"Di mana obatmu?" Tanya Alan sekali lagi karena tak kunjung menemukan apa yang dicari.


"Di laci paling bawah." Jawab Melisa dengan ragu-ragu.


Alan terbelalak ketika mendapati obat yang masih utuh.

__ADS_1


Harusnya sudah hampir habis kan?


Ya, memang harusnya sudah habis karena tiga hari lagi jadwal Melisa chek up.


Alan menatap Melisa dalam-dalam. Ia tak tau harus berkata apa. Sementara Melisa sendiri tau betul arti tatapan kakaknya itu. Dia pasti marah dan kecewa karena diam-diam tidak pernah meminum obatnya lagi semenjak hamil.


"Apa ini?" Alan meletakkan setumpuk obat yang di genggamnya ke pangkuan Melisa.


"Maaf." Hanya kata itu yang mampu Melisa ucapkan saat ini.


"Apa maumu sayang? Apa kau mau kakakmu ini cepat mati?"


"Hei, ada apa?" Sofia menggenggam lembut tangan Alan. Ia yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi berusaha menenangkan Alan yang terlihat begitu marah.


"Katakan apa maumu?" Kali ini dengan nada bicara yang sedikit meninggi.


"Stop Alan. Apa yang kau lakukan?" Teriak Sofia yang baru pertama kali melihat Alan begitu marah dengan Melisa.


Alan menepis tangan Sofia dan kembali berbicara dengan nada tinggi.


"Jawab kakak."


"AKU HANYA SEDANG BERUSAHA MENJADI SEORANG IBU UNTUK ANAKKU." Jawab Melisa dengan berteriak sekencang-kencangnya karena sudah tidak tahan lagi memikul segala beban di pundaknya.


"AKU HANYA INGIN YANG TERBAIK UNTUK ANAKKU." Teriak Melisa yang semakin histeris.


Hatinya benar-benar hancur saat ini. Kejadian di rumahsakit saat melihat Kevin menyuapi Amora, sudah membuat hatinya tidak karuan. Dan saat ini, untuk pertama kalinya Seorang Alan Yong ju berteriak kepadanya.


Plakk...


Sofia menampar pipi Alan.


"Sudah sudah sayang. Tenangkan dirimu. Kau bilang ingin yang terbaik untuk anakmu kan? Meskipun masih di dalam sana, bayimu juga merasakan apa yang kau rasakan. Itu tidak baik untuk pertumbuhannya." Sofia merangkul dan berusaha menenangkan Melisa.


Apa yang dikatakan Sofia berhasil menghentikan teriakan-teriakan Melisa.


Tapi justru Alan semakin panik saat melihat Melisa hanya diam dan tidak berbicara apapun, sementara airmatanya tak henti-hentinya mengalir.


"Biarkan Melisa menenangkan diri." Ucap Sofia sambil menarik tangan Alan untuk keluar dari kamar Melisa.


Bugh...


Alan meninju dinding kamar Melisa berkali-kali sehingga membuat tangannya terluka.


"Alan stop. Apa yang kau lakukan."


"Bodoh! Aku merasa sangat bodoh!" Alan terduduk dan menenggelamkan kepalanya.


"Kau jangan seperti ini. Lihatlah tanganmu terluka. Jika kau kenapa kenapa, bagaimana kau bisa merawat Melisa. Dia sangat membutuhkanmu saat ini."


Sofia berjalan menuju kotak p3k yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


"Sini aku obati lukamu." Sofia membersihkan darah yang mengalir di ruas jari Alan lalu membalutnya dengan perban.


Setelah sesai mengobati luka Alan, Sofia terkejut saat tiba-tiba Alan memeluknya. Dan yang membuatnya lebih terkejut, saat ini Alan sedang terisak dalam pelukannya.

__ADS_1


Ia kembali melihat sisi lain dari seorang Alan Yong ju. Dibalik sikapnya yang dingin dan suka seenak jidatnya sendiri itu, ternyata memiliki sisi yang sangat rapuh. Seperti yang tengah ia saksikan saat ini.


"Menangislah jika itu membuatmu lebih baik, aku disini untukmu." Ucap Sofia dengan tulus.


Alan semakin mempererat pelukannya. Ia bersyukur memiliki Sofia yang selalu bisa mengerti dirinya, meskipun dia sering bersikap semena-mena kepadanya.


"Terimakasih."


Baru kali ini Alan mengucapkan terimakasih Kepada Sofia.


***


Sudah hampir empat jam Melisa hanya diam tampa menatakan sepatah katapun meski Sofia selalu berusaha mengajaknya berkomunikasi.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Alan kepada Sofia yang baru saja keluar dari kamar Melisa.


"Sebaiknya kita panggil dokter. Dia tidak minum dan makan apapun sampai sekarang. Dia juga tidak mau bicara."


"Aku sudah meminta dokter Juna datang kemari. Mungkin sebentar lagi datang."


Dan benar saja, Dokter Juna datang bersamaan dengan Kedatangan Kevin.


"Dokter disini?"


"Iya. Nona Melisa sedang sakit. Aku akan memeriksa keadaannya."


"Kalau begitu silahkan dok. Mari sekalian saya antar ke kamar istri saya."


Setelah tiba di kamar Melisa, dokter juna memeriksa keadaannya. Beberapa pertanyaan yang di lontarkan kepada Melisa bahkan tidak di jawab sama sekali.


"Sebenarnya apa yang terjadi sampai-sampai kondisi nona Melisa drop seperti ini? Padahal tadi siang saya sempat bertemu di rumahsakit dan menyapanya. Dia kelihatan segar dan ceria. Tapi saat ini sepertinya dia mengalami tekanan batin yang begitu kuat."


"Iya dok kami memang ke rumah sakit untuk menjenguk ibu saya, setelah itu Melisa pergi untuk menjenguk saudara perempuannya yang kebetulan di rawat di sana juga. Tapi saat dia kembali tiba-tiba sudah seperti ini." Sofia menjelaskan semua kejadian yang dia lihat saat bersama Melisa tadi siang.


Deg...


Apa itu artinya Melisa ke ruang rawat Amora tadi siang?


Apa dia melihat saat aku menyuapi Amora?


Apa dia seperti ini karena hal itu?


Aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.


Pertanyaan pertanyaan itu berputar-putar di kepala Kevin. Ia harus bicara dari hati ke hati dengan Melisa secepatnya, sebelum semua jadi runyam akibat kesalahpahaman ini.


"Dia juga tidak meminum semua obat yang anda berikan dok." Alan menunjukkan setumpuk obat-obatan rutin Melisa yang terlihat masih utuh.


"Kenapa nona? Apakah karena anda khawatir obat obatan ini akan berdampak buruk untuk janin anda? Kalau memang benar itu yang anda khawatirkan, bukankah sudah saya jelaskan bahwa obat yang saya berikan ini tidak akan membahayakan janin di perut anda?"


Dan lagi-lagi Melisa hanya diam dengan tatapan kosong.


"Sepertinya kita harus membawa nona Melisa ke pskiater." Ucap dokter Juna.


"Sayang, bicaralah! jangan hanya diam saja seperti ini." Alan menggoyang-goyangkan tubuh Melisa yang sedang terduduk lemah bersandar di tempat tidur.

__ADS_1


"Kak, jangan seperti ini. Sebaiknya kita ikuti saran dari dokter juna untuk membawa Melisa ke pskiater. Tenangkan dirimu." Kevin berusaha menenangkan kakak iparnya yang tapak carut marut itu.


Bersambung...


__ADS_2