
Evelyn berhasil melewati masa kritisnya meskipun saat ini raganya mengalami kelumpuhan total. Dokter mengatakan bahwa hanya keajaiban yang bisa membuatnya sembuh seperti sedia kala. Tentu saja hal itu telah meruntuhkan dunia Amora. Gadis cantik yang dulunya ceria kini berubah menjadi sangat pendiam.
"Makanlah ra, jika kau sakit siapa yang akan merawat ibumu?" Bujuk Aldo yang sengaja datang setiap hari untuk memberi dukungan kepada Amora.
"Aku sama sekali tidak lapar Al." Amora menjawab dengan tatapan kosong.
"Tapi lambungmu membutuhkan sesuatu untuk di cerna. Jika tidak, kau akan sakit."
Amora menggeleng pelan. Aldo berusaha memahami kondisi Amora. Ia memeluk Amora dan mengusap ujung kepala kekasihnya itu. Tak di pungkiri, waktu telah menumbuhkan benih benih cinta di antara mereka.
"Apa kau mencintai diriku Al?"
Aldo melepaskan pelukannya. Ia menangkup pipi Amora dengan kedua tangannya.
"Yes, i am. Entah sejak kapan perasaan ini tumbuh. Yang jelas, aku tidak ingin kehilangan dirimu." Jawab Aldo dengan tatapan penuh keyakinan.
Amora tersenyum. Kebaikan dan sifat lembut Aldo mampu membuatnya jatuh cinta dalam waktu yang singkat. Ia tidak menyangka bisa move on dari Kevin secepat itu.
"Me too." Amora memeluk Aldo dan menangis sesenggukan di dada bidang Aldo. Mereka berpelukan cukup lama hingga akhirnya Amora tertidur karena kelelahan menangis.
Aldo mengangkat tubuh Amora dan menidurkannya di atas sofa. Lalu ia naik ke lantai atas untuk meminta selimut kepada Melisa. Di rumah ini, ia hanya tau kamar Melisa saja. Itupun karena dia pernah menjenguk Melisa saat sakit semasa ia masih mengejar cintanya dulu.
Aldo mengetuk pintu kamar Melisa dengan perlahan.
"Kenapa Al?"
"Amora tertidur di bawah. Aku ingin meminjam selimutmu untuknya."
"Apa dia sudah makan?"
"Belum. Dia tidur dengan perut kosong." Aldo menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Terimakasih Al. Kau menjaganya dengan baik. Ku harap kalian selalu seperti ini."
Aldo hanya tersenyum. Ia bingung harus menjawab apa. Ia sudah berhasil membuka hatinya untuk Amora. Namun jauh di dasar hatinya, perasaannya untuk Melisa masih mendominasi. Tapi setidaknya, kehadiran Amora di hatinya akan menghapus sisa perasaan cintanya kepada Melisa. Ya, dia sangat yakin dengan hal itu.
Setelah memastikan Amora tidur dengan posisi yang nyaman, Aldo beranjak menuju tempat kerjanya. Ia kuliah sambil bekerja part time di begkel. pekerjaan yang ia geluti sejak ia masih duduk di bangku SMA.
Ia berpamitan kepada Melisa melalui chat. Ia tidak ingin mengganggu Melisa yang pasti sedang sibuk karena mempunyai baby.
Sore harinya, Kevin pulang dari kafe dan melewati Amora yang tidur meringkuk di sofa ruang tamu. Sebenarnya ia kasihan karena posisi tidur Amora sangat tidak nyaman karena kepalanya melorot dan berada di bibir sofa. Tapi demi cari aman, ia memanggil bibik pengurus rumah untuk meminta tolong membenarkan posisi kepala Amora. Lehernya akan sakit jika ia di biarkan seperti itu. Jika Kevin yang melakukan hal itu, bisa di pastikan Melisa akan berfikiran yang tidak tidak dan akan ada drama panjang setelahnya.
Hingga malan menjelang, Amora baru terbangun dan menyadari jika ia tertidur di sofa sejak siang tadi. Tubuhnya terasa lemas karena perutnya belum terisi makanan sejak pagi.
"Amora? Are you ok?" Alan yang baru pulang dari perusahaan melihat Amora yang bersandar di sofa dengan selimut yang masih menempel.
Amora menggelengkan kepala. "Apa menurutmu mama bisa sembuh kak? Apakah dia akan baik-baik saja?" Lelehan air mata kembali menetes dari netra hitamnya.
"Aku akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan mama. Kau tenang saja."
"Dia hanya seorang dokter, bukan Tuhan. Kau berdo'a saja. Semoga mama bisa sembuh dan kembali sehat seperti sebelumnya."
"Apa kau sudah makan?" Tanya Alan.
Amora menggeleng. Bahkan ia sama sekali tidak merasa lapar walaupun belum makan apapun sejak pagi.
"Makanlah, akan ku temani. Jangan sampai kau sakit. Jika kau sakit, aku tidak bisa fokus dengan kesembuhan mama karena harus membagi fokus kepadamu. Aku sudah sangat sibuk ra. Bahkan perhatianku kepada Melisa berkurang karena banyak yang harus ku urus.
Amora mengangguk dan maksakan diri untuk makan walau hanya beberapa suapan.
Mereka menghabiskan makan malam tanpa obrolan. Setelah itu, Alan mengantar Amora pergi ke kamarnya.
"Tidurlah. Jangan terlalu banyak pikiran. Good night." Alan mencium kening Amora dan mematikan lampu kamar. Setelah itu ia beranjak menuju kamarnya dan berendam di bath up cukup lama.
__ADS_1
Saat tengah malam, Alan terbangun karena mendengar tangisan baby Keisa. Ia bangun dan berniat menemui keponakan barunya itu.
"Hei, keponakan uncle kenapa menangis?" Alan mengambil alih baby Keisa dari gendongan Melisa.
"Dia terbangun karena aku baru saja mengganti popoknya."
"Tidurlah sayang, biar aku dan Kevin yang menjaga baby Keisa. Kau pasti lelah." Ucap Alan yang sedang berusaha menenangkan keponakan kecilnya di dalam dekapannya.
Melisa menyetujuinya karena memang kepalanya terasa berat dan sedikit pusing karena menahan kantuk. Tak butuh waktu lama untuk Melisa tertidur pulas.
***
Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya diputuskan bahwa pernikahan Alan dan Sofia Akan di gelar minggu depan. Sofia terlihat sibuk melakukan persiapan pernikahannya. Ia mencoba gaun yang akan ia pakai saat menikah nanti. Gaun tanpa lengan berwarna putih gading terlihat begitu cantik saat melekat di tubuh Sofia.
"Bagaimana menurutmu?" Sofia berputar putar dengan gaun yang ia kenakan. Ia ingin meminta pendapat Alan yang saat ini tengah menemaninya untuk mencoba gaun pernikahannya.
"Perfect." Alan terlihat takjub melihat Sofia yang kecantikannya berlipat ganda saat mengunakan gaun yang ia kenakan saat ini.
Waktu terus berlalu hingga tibalah hari pernikahan mereka. Acara di buat sesederhana mungkin dan hanya di hadiri keluarga serta kerabat dekat saja. Semua ini atas permintaan Sofia. Ia akan merasa jahat sekali jika menggelar pesta pernikahan yang besar dan mewah sedangkan ibunya Alan kini sedang terbaring tak berdaya di rumahsakit.
"Mereka sangat serasi." Bisik Melisa kepada Kevin.
"Ya. Seperti kita. Aku jadi ingin cepat-cepat membawamu ke kamar, honey." Jawab Kevin dengan tatapan menggoda.
"Hei, jangan genit seperti itu. Lakukan itu nanti malam saat di ranjang." Goda Melisa yang menyadari jika suaminya sedang menginginkan dirinya.
"Kenapa harus menunggu nanti malam sayang? kita bisa melakukannya sekarang jika kau mau."
"Astaga, ini hari pernikahan kakakku. Aku kan mengikuti acara ini sampai selesai. Setelah itu, aku milikmu seutuhnya sayang." Ucap Melisa tepat di tengkuk leher Kevin dan hal itu semakin membuatnya gemas ingin segera melahab habis istrinya.
Bersambung...
__ADS_1