Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 44 (Kamar Alan)


__ADS_3

Hari sudah hampir gelap saat Melisa dan Amora sampai di rumah. Setelah makan siang bersama, Amora membawa Melisa ke salon untuk mengubah gaya rambut mereka. Rambut Melisa yang lurus dibuat sedikit bergelombang. Sedangkan Amora mengubah warna rambutnya yang awalnya cokelat tua, sekarang menjadi merah menyala. Dia memang suka mengekspresikan dirinya melalui warna rambut dan gaya berpakaian. Amora memiliki sifat yang humble dan ceria.


"Kalian dari mana saja?" Alan menginterogasi mereka yang pulang sesore ini.


"Kami ke salon dulu setelah makan siang tadi. Maaf membuatmu khawatir kak. Lagi pula aku sudah mengirim pesan kan?" Melisa membela diri


"Memang kau mengirim pesan. Tapi kau hanya bilang mau makan siang di luar dengan Amora." Alan mencubit pipi melisa gemas.


"Maaf kak, tadi aku yang mengajak Melisa ke salon." Amora menundukkan pandangannya dan merasa bersalah. Karena ini semua idenya.


"Kami sudah dewasa kak, bisakah kakak tidak terlalu protektif seperti itu." Gerutu Melisa kesal karena kakaknya itu selalu menganggapnya anak kecil yang selalu butuh perlindungan.


"Ikuti aturan kakak. Ini demi kebaikan kalian." Alan mengecup pucuk kepala Melisa, dan ia juga melakulan hal yang sama kepada Amora.


Semakin hari hubungannya dengan Alan semakin membaik. Bahkan, Alan sudah mulai memperlakukan dirinya seperti selayaknya seorang adik.


"Selamat ra, ku rasa kau akan segera mendapatkan hak mu sebagai seorang adik." Melisa memeluk Amora yang mematung karena terlalu bahagia dengan apa yang baru saja Alan lakukan padanya.


***


Hari ini adalah hari terakhir Kevin magang di kantor pusat Yong ju Group. Ia pulang terlambat karena mengadakan perpisahan kecil-kecilan di kafe dekat perusahaan. Melisa yang mulai kesal menunggu kepulangan Kevin akhirnya memutuskan untuk menghubunginya.


"Apa kau akan menginap di kantor? Atau jam di kantor mati? Atau memang sengaja tidak pulang? Melisa meluapkan kekesalannya dengan menghujani Kevin dengan pertanyaan bernada membunuh.


" Iya iya maaf sayang. Ini hari terakhirku magang. Jadi kami mengadakan perpisahan kecil-kecilan di kafe. Aku akan segera pulang." Kevin melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat. Pantas saja istrinya itu mengeluarkan taringnya 😁.


"Gue pamit bro.. Thanks untuk kerjasama kalian selama ini." Kevin berjabat tangan dan memeluk semua teman teman magangnya. Setelah itu, dia bergegas pulang dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setelah sampai di kediaman Yong ju, dia setengah berlari menuju kamarnya


"Shitt!!" Kevin mengumpat saat tidak menemukan Melisa di kamar ataupun di kamar mandi. Dia sudah bisa menebak bahwa istrinya sedang ngambek dan saat ini sedang mengungsi di kamar kakaknya. Bisa dipastikan akan ada drama lagi setelah ini.


Sedangkan di kamar Alan, Melisa sudah tidur dengan nyenyaknya dengan posisi kaki berada di pangkuan Alan. Alan memijit telapak kaki Melisa saat dirinya mengeluh kakinya sakit. Kakinya juga terlihat bengkak.


Alan membenarkan posisi tidur Melisa lalu menyelimutinya. Tak lupa ia memberi kecupan hangat di kening adiknya.


"Good night honey." Setelah mengucapkan selamat malam, Alan tidak langsung tidur. Ia keluar untuk menemui Kevin.


"Melisa tidur di kamarku." Ucap Alan ketika mendapati Kevin merebahkan diri di sofa dan masih menggunakan kemeja yang ia pakai bekerja seharian tadi.


"Apa dia baik-baik saja?"


"Ya, dia baik-baik saja. Tapi saat ini mood nya sedang kurang baik."


"I know it. Dia marah karena aku pulang terlambat." Kevin menghela nafas.

__ADS_1


"Dia sedang labil. Mungkin karena hormon kehamilan. Bersabarlah menghadapi Melisa."


"Tentu. Aku sangat mencintainya."


"Tidurlah di kamarku, temani Melisa." Alan berusaha memberi jalan untuk memperbaiki masalah keduanya agar tidak berlarut-larut. Dan Kevin pun mengiyakan saran dari Alan.


Setelah selesai mandi, Kevin segera ke kamar Alan untuk menemui Melisa. Ia merebahkan diri di sampingnya.


"Maaf, aku sering membuatmu kesal." Kevin memandangi wajah istrinya dalam-dalam. Ia merasa belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik.


Kevin memeluk Melisa dan mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama ia pun tertidur.


Saat malam menjelang pagi, Melisa terbangun karena merasa haus. Setengah sadar, ia melepaskan pelukan yang melingkar di tubuhnya. Ia masih belum sadar bahwa yang tidur di sebelahnya itu bukanlah kakaknya, melainkan suaminya.


Melisa mengguncang-guncang lengan kokoh itu dengan pelan. "Kak, aku haus."


Kevin terbangun dan mendapati Melisa sudah duduk tapi masih dengan mata terpejam. Ia tersenyum karena pasti Melisa saat ini mengira dirinya adalah Alan. Ia segera menyodorkan segelas air putih yang sudah di sediakan di atas nakas. Dan Melisa menenggak seluruh isinya tanpa sisa.


"Haus banget ya?" Tanya Kevin dengan senyum jailnya.


Melisa membelalakkan matanya ketika menyadari itu adalah suara khas milik suaminya. Ia menoleh secepat kilat demi memastikan apakah pendengarannya yang bermasalah, atau memang benar-benar Kevin tidur di sampingnya dan memeluknya semalaman.


Dan benar saja, itu memang benar Kevin.


"Kak Alan tidur di kamar kita. Kau masih marah padaku?"


Melisa hanya diam tanpa ada niat untuk menjawab. Ia masih dalam mode kesal.


Cupp..


Kevin mencium bibir Melisa sekilas. "Jangan marah lagi. Kau mengemaskan jika sedang marah. Aku bisa memakanmu jika seperti ini." Bisik Kevin tepat di telinga Melisa.


Wajah Melisa memerah, dan Kevin menyadari itu. Lalu ia kembali mencium bibir mungil Melisa tanpa aba-aba. Tapi kali ini bukan sekedar ciuman singkat.


Tidak ada penolakan dari Melisa, karena memang dia juga menginginkannya. Dia bahkan memberi akses dengan membuka sedikit mulutnya agar Kevin dapat bermain lebih leluasa.


Kini tangan kekar itu mulai bermain di balik baju tidur Melisa yang tipis, dan berhasil membuat suara asing lolos begitu saja dari mulut Melisa.


Keduanya semakin terbakar gairah yang menggebu, hingga akhirnya keduanya melakukan penyatuan inti. Kevin sedikit menahan hasratnya untuk bermain liar. Ia akan melakukannya dengan pelan mengingat saat ini Melisa sedang hamil.


***


Sofia masih tak percaya bahwa Alan benar-benar melamarnya kemarin. Hari ini dia berangkat ke kantor dengan perasaan yang sedikit canggung. Sebelum sebelumnya ia selalu cuek dan biasa saja jika bertemu dengan Alan. Tapi kali ini ia merasakan sangat grogi. Bahkan ia pergi ke toilet dulu sebelum masuk ke ruang kerjanya yang berada satu ruangan dengan Alan.


Sofia bercermin cukup lama, ia memoleskan kembali bedak dan lipstik berwarna soft pink yang tadi dia pakai sebelum berangkat ke kantor. Ia ingin tampil sempurna di depan Alan. Setelah itu, Sofia bergegas menuju ruang kerjanya.

__ADS_1


"Pagi." Sapa Sofia kepada Alan yang sedang duduk bersandar dan memainkan pulpennya.


"Kau lama sekali." Keluh Alan.


Sofia mengernyitkan dahi lalu melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


"Ini belum terlambat pak Alan, bahkan aku berangkat lebih pagi dari biasanya." Protes Sofia.


"Mungkin karena aku terlalu merindukanmu." Alan beranjak dari duduknya dan memeluk Sofia dari belakang.


"Lepas pak, ini di kantor." Sofia berusaha melepas pelukan Alan, tapi justru Alan semakin mempererat pelukannya.


"Jangan pangil aku Bapak saat kita sedang berdua. Kau tenang saja, tidak akan ada yang berani masuk kesini." Bisik Alan yang menyandarkan dagunya di bahu Sofia.


Kaki Sofia gemetar karena menahan degupan jantungnya yang serasa ingin loncat. Dan hal itu di sadari Alan.


"Kau gugup?"


Sofia mengangguk pelan. Mereka berpelukan cukup lama hingga akhirnya Alan melepaskan pelukannya ketika telepon yang berada di meja kerjanya berdering.


"Huh. mengganggu saja." Gerutu Alan.


Sementara Sofia terlihat merapikan kembali pakaiannya dan memulai pekerjaannya dengan senyum yang masih mengembang.


Alan memperhatika Sofia sejak tadi. Meski saat ini ia sedang menerima telepon dan mendapat laporan tentang masalah serius dari kantor cabang, ia menangapinya dengan santai. Biasanya ia akan marah dan membentak jika ada anak buahnya yang ia anggap tidak pecus dalam bekerja. Mood nya sedang sangat baik saat ini. Dan itu karena Sofia.


Selesai menelpon, Alan kembali menghampiri Sofia. Ia menarik lembut tangan Sofia dan membawanya ke ruang privat miliknya, yang sering ia gunakan untuk istirahat atau sekedar melepas penat saat jenuh dengan pekerjaan.


"Alan, ini jam kerja. Kau mau apa?" Sofia panik saat Alan membawanya ke ruangan yang terlihat seperti kamar itu.


"Aku merindukanmu." Ucap Alan sambil memeluk Sofia dari belakang, karena tadi ia belum puas melakukannya.


"Seharusnya kita bekerja." Sofia tertawa pelan.


"Ini juga bekerja." Jawab Alan yang juga ikut terkekeh.


"Aku mencintaimu." Bisik Alan tepat di cekuk leher Sofia. Hal itu membuat tubuhnya merespon.


"Me too." Jawab Sofia pelan.


Alan menggendong Sofia dan merebahkannya di atas ranjang berukuran king size. Tanpa aba-aba Alan mengecup singkat bibir Sofia. Lalu ia melanjutkannya dengan lebih dari sekedar kecupan. Ia ******* rakus bibir ranum itu.


Ini pertama kalinya bagi Sofia. Ia tak pernah menyangka bahwa ciuman yang seperti ini bisa membuat tubuhnya bergetar hebat, seperti tersengat aliran listrik. Dan itu membuat sesuatu yang di bawah sana menjadi basah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2