
Setelah melalui hari yang melelahkan, ditambah lagi dengan pesta kejutan ulang tahun yang begitu meriah, hal itu membuat Melisa memilih langsung bergegas istirahat dan tidur. Waktu menunjukkan pukul 10.00 malam. Sebelum tidur ia memilih untuk mandi lagi karena badannya terasa lengket oleh keringat. Ia berendam cukup lama, beberapa tetes aroma terapy yang ia tambahkan di bath up membuatnya nyaman dan kembali relaks.
Selesai mandi ia memakai jubah handuknya dan menuju walk in closet lalu berganti pakaian tidur. Kali ini ia memilih baju tidur berbentuk jubah yang bahannya tidak terlalu tebal. Warna pink mendominasi baju yang melekat di tubuh gadis cantik ini.
"Mandi sudah, wangi sudah, ahh.. segarnya, sekarang tinggal bobok cantik." Oceh Melisa sambil mengikat tali di pinggang jubah tidurnya.
Setelah selesai Melisa bergegas menuju tempat tidur dan ingin segera merebahkan diri. Tapi ia melihat ada seseorang yang tengah tidur disana.
Ah, kak Alan ingin menemaniku tidur rupanya. Batin Melisa.
Melisa merebahkan diri di kasur empuknya. Tanpa pikir panjang ia memeluk dari belakang pria yang tidur dengan posisi miring dan memunggunginya. Karena dalam pikirannya itu adalah Alan, kakaknya.
"Kakak bobok disini, kangen ya sama aku. Kakak sih sok-sokan jaga jarak sama aku, biar aku bisa lebih dekat dengan kak Kevin.
Sekarang kangen baru tau rasa. hihihi." Melisa terkikik bermaksud meledek kakaknya.
Pria yang di sangka kakaknya itu membalikkan badan dan membalas pelukannya. Tapi betapa terkejutnya dia karena yang di peluknya bukanlah kakaknya, melainkan suaminya. Ya, pria itu adalah Kevin.
Deg.
Jantung keduanya berdegub kencang. Jarak mereka begitu dekat.
Melisa berusaha melepaskan pelukannya. Tapi yang dilakukan Kevin justru memperat pelukannya.
"Kak Kevin, apa yang kau lakukan di sini? Nanti kalau kak Alan tau..,"
__ADS_1
"Sssttttt." Kevin menempelkan telunjuknya di bibir Melisa.
"Kak Alan tau, dan mulai sekarang kita akan tidur satu kamar." Jawab Kevin dengan enteng.
"Apa?" Melisa terkejut dengan jawaban Kevin.
"Sudah ayo tidur." Kevin pun lebih mempererat pelukannya hingga sama sekali tidak ada jarak bagi kedua.
Cukup lama mereka terdiam. Melisa berusaha Mengatur nafasnya. Baru kali ini ia tidur dengan pria dewasa selain dengan kakaknya. Tentu saja rasanya berbeda.
"Kakak sudah tidur?"
"Hemm."
"Kak, aku tidak melihat Aldo di pestaku tadi."
"Tentu saja kau tidak melihatnya, aku tidak mengundangnya."
"Apa? Kenapa kakak tidak mengundang sahabatku, tapu justru mengundang tamu tak diharapkan itu?" Melisa memukul lengan Kevin cukup keras.
"Siapa maksudmu?"
"Siapa lagi kalau bukan wanita sok tau itu."
Kevin mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak tau siapa orang yang di maksud Melisa.
__ADS_1
"Masih sok berfikir, atau pura-pura tidak tau?"
"Hei kenapa kau malah marah seperti itu padaku, hanya karena aku tidak mengundang Aldo."
"Tentu saja aku marah, ini pestaku kan. Jadi yang harusnya hadir itu teman-teman dan sahabatku. Tapi tadi apa, yang kau undang malah Maya." Jawab Melisa ketus.
"Hei, kau sedang cemburu ya?"
"Mana mungkin aku cemburu, yang ada kak Kevin tuh yang cemburu sama Aldo. Sampai-sampai tak mengundangnya."
"Aku memang cemburu dengan bocah tengil itu. Jadi mulai sekarang jangan dekat dekat dengannya lagi."
"No no no, tidak bisa. Dia sahabat terbaikku. Mana mungkin aku menjauhinya. Yang ada kak Kevin tuh yang harusnya jangan dekat dengan kak Maya. Dia nggak suka dengan hubungan kita."
"Maya itu gadis baik baik, aku sudah bersahabat dengannya sejak belasan tahun yang lalu."
"Yang seperti itu kakak bilang gadis baik? Dia lebih mirip nenek lampir." Celetuk Melisa.
"Cemburu boleh saja. Tapi jangan mengatai orang seperti itu lah. Dia gadis baik, kau malah mengatainya nenek lampir."
"Biarin, tadi kakak juga mengatai Aldo bocah tengil kan?" Protes Melisa. Kali ini ia melepas pelukan Kevin secara paksa dan memilih memiringkan tubuhnya.
"Kevin tersenyum dengan tingkah laku istrinya. Baginya Melisa justru sangat menggemaskan saat sedang cemburu seperti sekarang ini
Bersambung...
__ADS_1