Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 52 (Keutuhan Keluarga)


__ADS_3

"Sayang, apa tidak sebaiknya mama Evelyn di rawat di rumah saja. Aku rasa akan lebih baik jika kita sendiri yang mengurusnya." Sofia merasa iba dengan apa yang di alami ibu mertuanya itu.


"Apa kau tidak keberatan mengurus mama?" Tanya Alan yang tengah sibuk bermain dengan rambut hitam Sofia.


"Tentu saja tidak. Dia juga ibuku sejak kita menikah. Mungkin jika kita merawatnya dengan penuh kasih sayang, mama merasa lebih nyaman dan tidak kesepian. Mungkin saja itu bisa mempercepat proses penyembuhannya."


"Kenapa kau bisa semudah itu memaafkan mama. Setelah apa yang sudah dia lakukan kepadamu. Bahkan aku saja belum bisa melupakan semua sakit yang ia torehkan di kehidupanku." Alan tersenyun miris.


"Jangan jadi pendendam. Bagaimanapun juga dia ibu kandungmu. Dia sedang berada di titik terendah. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah dukungan dan kasih sayang dari anak-anaknya."


"Andai aku bisa melakukannya. Ini sangat sulit sayang. Dia melukaiku terlalu dalam."


"Kau hanya butuh waktu. Semoga suatu saat kau bisa sepenuhnya memaafkan ibumu." Sofia berbicara dengan lembut dan meneduhkan. Alan semakin bersyukur memiliki Sofia yang selalu bisa membuat mood nya kembali baik.


"Kau selalu berhasil membuatku nyaman. Untuk itu, terimalah hadiahmu." Alan menatap intens wajah cantik Sofia dengan senyum yang sulit di artikan.


Sofia memincingkan sebelah matanya. Ia baru menyadari arti senyuman dari suaminya itu saat Alan memulai serangannya. Tangan Alan sudah mulai menjamah setiap lekuk tubuh istri menggemaskannya.


"Hei. Ini bukan hadiah untukku. Tapi untuk dirimu sendiri. Dasar."


Alan tertawa pelan. Ia melanjutkan aksinya dalam diam. Tak ada penolakan dari Sofia. Justru Sofia menyambutnya dengan sedikit agresif. Dan itu membuat gairah Alan semakin terpancing ketik Sofia menghisap kuat leher jenjang milik Alan.


"Kau sangat liar honey." Seru Alan dengan suara serak menahan hasrat.


"Aku belajar darimu tuan." Sofia terkekeh dengan jawabannya sendiri.


Keduanya mulai hanyut dalam permainan yang semakin membakar gairah masing masing. Raga seolah terbang ketika keduanya mencapai pelepasan hasrat hingga membuat leguhan panjang lolos dari bibir yang masih saling berpagutan.


Keesokan harinya, terlihat Sofia sedang sibuk membantu asisten rumah tangga menata sarapan di meja makan . Hal yang seharusnya tidak ia lakukan. Tapi tak ada yang bisa melarangnya mengingat betapa keras kepalanya seorang Sofia Olivera.


"Kau sudah bangun sayang?" Sofia menyapa Melisa yang berjalan ke meja makan.

__ADS_1


"Hmm. Aku sangat lapar kak. Sepertinya nafsu makanku semakin meningkat."


"Itu wajar sayang. Kau sedang menyusui saat ini. Dan itu sangat mempengaruhi nafsu makanmu."


Alan turun dari tangga dan bergabung dengan dua perempuan yang sangat spesial di kehidupannya.


"Pagi sayang." Sapa Alan kepada Melisa sambil melakukan ritual wajibnya. Yaitu mengecup kening dan ujung kepala Melisa.


"Pagi kak." Jawab Melisa dengan senyum yang sedikit lain dari biasanya. Sofia tertunduk malu dan menaruh tangannya di pelipis, ketika menyadari pandangan Melisa fokus ke arah leher Alan. Terdapat beberapa tanda merah di sana.


"Dasar bodoh kau Sofia. Seharusnya kau melakukannya di tempat yang tak terlihat." Batin Sofia mengutuki dirinya sendiri.


Melisa beralih mandangi Sofia yang wajahnya tampak memerah karena malu. "Sudah jangan malu begitu kak. Aku bahkan sering membuat kissmark di tubuh kak Kevin lebih banyak dari itu. Bedanya aku melakukannya di tempat yang tak terlihat." Ucap Melisa tanpa filter.


Sontak saja itu malah membuat Sofia semakin malu karena Melisa justru memperjelas ucapannya. Sedangkan Alan hanya tersenyum mendengar ucapan Melisa yang blak-blakan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Ucap Kevin yang baru saja bergabung di meja makan.


Melisa tersenyum melihat kakak iparnya yang terlihat sangat gugup.


"Sudah sayang jangan ganggu kak Sofia. Segera habiskan sarapanmu." Perintah Alan karena tak tega melihat ekspresi wajah Sofia saat ini.


Selesai sarapan, Alan bertolak ke rumahsakit tempat ibunya di rawat. Tampak Amora yang sedang tertidur di tepian ranjang tempat Evelyn terbaring tak berdaya.


"Amora, bangunlah." Ucap Alan sambil menepuk pelan bahu Amora.


Amora mengerjapkan matanya demi mendapati pengelihatan yang lebih jelas.


"Kak Alan? Kakak tidak ke perusahaan?"


"Tidak. Hari ini aku akan mengurus kepulangan mama."

__ADS_1


"Pulang? kenapa pulang? Mama butuh perawatan medis kak. Kenapa kakak ingin membawanya pulang?" Tanya Amora sedikit terbata karena menahan tangisnya.


"Mama akan tetap mendapat perawatan medis. Hanya saja, Kita yang akan merawat dan mengurus mama. Aku rasa itu akan membuatnya lebih nyaman karena selalu dekat dengan anak-anaknya. Dan mungkin dengan cara itu proses penyembuhan mama akan lebih mudah."


"Terimakasih kak. Terimakasih karena kakak mau melakukan semua ini." Amora menghambur ke pelukan Alan. Ia menangis sesenggukan di sana.


"Dia juga ibuku jika kau lupa."


Amora mendongak ke atas demi melihat wajah Alan. Ia melihat keseriusan di wajah Alan ketika menyebut Mama Evelyn juga ibunya. Itu artinya jarak di antara meteka perlahan sudah mulai terkikis. Ini adalah awal yang baik untuk keutuhan keluarganya.


Setelah selesai mengurus perpulangan Evelyn. Alan membawanya pulang dengan segala petalatan medis yang terpasang di tubuh sang ibu.


Sesampainya di rumah, Melisa dan Sofi menyambut haru kedatangan Evelyn. Mereka memcium kening dan punggung tangan wanita paruh baya yang mereka panggil mama itu.


"Selamat datang kembali ke rumah ma. Aku harap mama segera sehat seperti dulu." Melisa menyeka air matanya sebelum menetes.


"Ya. mama harus sehat seperti dulu. Aku akan merawat mama dengan sebaik mungkin." Sofia berusaha membangkitkan kembali semangat hidup Evelyn yang hilang semenjak kecelakaan naas itu.


Evelyn hanya diam, tapi air matanya mengalir tanpa henti. Dalam hatinya ia menyesali semua perbuatannya kepada Sofia dan keluarganya. Ia juga menyesal karena telah menorehkan luka di masalalu Alan, yang hingga kini masih membekas di hati Alan.


Sofia merawat Evelyn dengan penuh kasih sayang. Mulai dari menyuapi, memberi obat, membersihkan tubuh, hingga mengganti popok celana ibu mertuanya dengan sangat telaten tanpa mengeluh.


Evelyn selalu menangis saat Sofia melakukan semua itu. Ia sangat menyesal dan merasa berdosa mengingat apa yang telah ia perbuat kepada Sofia semasa dulu.


Tak hanya Sofia. Amora dan Melisa pun tak pernah absen mennjenguk dan menyemangati Evelyn setiap hari. Dan itu membuat kondisi kesehatan Evelyn mengalami kemajuan pesat.


"Ini sungguh sebuah keajaiban. Kondisi nyonya Evelyn sanggat baik, bahkan tangannya sudah mulai bergerak. Dan besar kemungkinan jika nyonya Evelyn bisa berjalan lagi." Ucap dokter yang memeriksa Evelyn.


Semua penghuni rumah sangat bahagia mendengar kabar baik itu. Bahkan Amora sampai menangis karena rasa haru bercampur bahagia begitu kuat dan menguasai emosinya.


"Sudah ku bilang kan ra, mama pasti sembuh." Ucap Melisa sambil memeluk Amora yang tengah menangis bahagia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2