Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 50 (Tragedi)


__ADS_3

"Sayang, kau mau membantuku?" Ucap Alan kepada Melisa


"Apa dulu? Kalau untuk merayu kak Sofia lagi, aku tidak mau." Melisa tertawa renyah.


"Itu tidak perlu. Dia sudah sangat tergila-gila padaku."Jawab Alan dengan pedenya.


"Hahaha, baiklah sekarang kita bicara serius. Apa yang bisa ku bantu?"


"Apa kau tau kenapa aku dan Sofi batal bertunangan?"


Melisa menggelengkan kepalanya.


"Ini semua karena mama. Dia mendatangi rumah Sofi dan menawari mereka uang dengan syarat harus menjauhiku. Tentu saja mereka marah dan merasa harga dirinya telah di injak."


Melisa sedikit terkejut dengan apa yang di sampaikan Alan. Ia tak menyangka Evelyn bisa berbuat serendah itu.


"Orang tua Sofia marah dan tidak mengizinkan Sofia berhubungan denganku lagi. Aku bisa memakluminya. Dan sekarang aku butuh bantuanmu untuk membujuk mereka, agar merestui hubungan kami kembali."


"Kak Sofia akan menjadi milikmu lagi. I promise."


Keesokan harinya Melisa mengunjungi rumah Sofia tanpa sepengetahuan Alan dan Sofia.


"Sayang, apa yang kau lakukan. Jika kau perlu sesuatu, biar kakak yang kesana." Ucap Sofia penuh kekhawatiran.


"Im fine. Jangan terlalu mengkhawatirkanku kak." Jawab Melisa dengan senyuman khas nya.


"Apa Alan tau kau kemari?"


"No, aku tidak memberitahunya. Dia pasti akan melarangku jika aku mengatakannya." Jawab Melisa santai.


"Dia akan membunuhku jika sampai terjadi sesuatu denganmu sayang."


"Itu tidak mungkin. Dia sangat mencintaimu melebihi dirinya sendiri."


"Ah ya, apa paman dan bibik ada? Ada yang ingin aku bicarakan dengan mereka." Imbuhnya lagi."


"Mereka ada di dalam. Ah, maaf aku sampai lupa mengajakmu masuk."


"Ayah, ibu. Ada tamu untuk kalian."


Tak berselang lama Hanum dan Hendra keluar. Mereka sedikit terkejut melihat Melisa. Pasalnya, dia baru beberapa minggu yang lalu melahirkan.

__ADS_1


"Nak, apa yang kau lakukan. Bahkan jahitan di perutmu belum kering." Ucap Hanum dengan perasaan ngilu membayangkan dirinya dulu. Ia tau betul kondisi Melisa saat ini. Karena ia juga melahirkan Sofia melalui operasi caesar.


"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepada paman dan bibik."


"Jika memang seperti itu, kau bisa meminta kami datang kerumahmu nak. Jangan membahayakan dirimu seperti ini." Jawab Hendra yang memahami kekhawatiran Hanum.


Melisa hanya menjawab dengan senyuman. Setelah itu dia mulai menceritakan apa tujuannya kemari. Ia menceritakan bagaimana rumitnya hubungan Alan dan Evelyn. Hubungan antara ibu dan anak yang seharusnya penuh kasih sayang, justru di penuhi kenangan buruk dan berimbas sampai sekarang.


"Aku turut prihatin dengan apa yang di alami Alan. Tapi mengertilah nak, Bibik hanya tidak ingin Sofia terluka. Nyonya Evelyn tidak menginginkannya." Hanum mencoba memberi pengertian kepada Melisa.


"Yang bibik lakukan sekarang ini lebih melukai kak Sofia. Akan lebih menyakitkan baginya jika kehilangan seseorang yang sangat ia cintai." Melisa tak patah arang. Ia akan terus membujuk orang tua Sofia sampai luluh.


"Yang di katakan Melisa benar bu. Biarkan Sofia mengambil keputusannya sendiri. Kita hanya perlu mendukungnya." Hendra membenarkan ucapan Melisa.


Dan akhirnya Hanum menyerah dan menyerahkan semua keputusan kepada Sofia. Tentu saja itu menjadi angin segar untuknya.


"Aku akan menikah dengannya bu. Rasa cintaku sudah terlanjur dalam.Aku tidak sanggup kehilangannya." Ucap Sofia yang penuh keyakinan.


Hanum menghela nafas panjang. " Baiklah jika itu keputusanmu. Ayah dan ibumu hanya bisa mendo'akan kenahagiaanmu."


***


Alan memincingkan sebelah matanya.


Ia bena-benar tidak bisa menebak apa yang akan Melisa katakan kali ini.


"Kau akan menikah secepatnya kak."


Alan semakin tak mengerti arah pembicaraan Melisa.


"Hei, seperti itu kah ekspresi kakak setelah aku berhasil membuat orang tua kak Sofia merestui kalian?" Melisa heran dengan sikap Alan yang terlihat seperti orang bingung.


"Berbicaralah dengan jelas. Jangan membuat teka teki." Ucap Alan pada akhirnya.


"Kemarin aku datang ke rumah kak Sofia. Aku berbicara dari hati ke hati dengan orang tuanya. Dan kakak tau, mereka mendengarkan semua kata-kataku dan merestui hubungan kalian. Aku hebat kan?" Ucap Melisa dengan wajah tanpa dosa.


"Kau sudah gila sayang. kau baru saja melahirkan. Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Kau benar-benar membuatku marah."


"Kakak yang memintaku untuk membujuk orang tua kak Sofi jika kakak lupa."


"Tapi tidak untuk saat ini. Kau bisa melakukannya nanti, ketika kau sudah pulih. Aku benar-benar menyesal mengatakan itu padamu kemarin."

__ADS_1


"Maaf. Tapi setidaknya aku baik-baik saja kan? dan usahaku tidak sia-sia juga. Keberuntungan sedang berpihak padaku." Jawab Melisa tersemyum menampakkan deretan gigi putihnya.


Obrolan mereka terhenti saat panggilan suara masuk dan membuat ponsel Alan berdering. Terlulis nama Amora di layar ponselnya.


"Siapa kak?" Tanya Melisa.


"Amora."


"Angkatlah, itu pasti sangat penting." Ada sedikit kekhawatiran di hati Melisa. Ia tau betul jika Amora tidak mungkin menelpon Alan jika jika tidak ada hal penting.


Alan mengangkat telponnya. Ia terkejut mendengar Amora berbicara sambil menangis histeris.


"Katakan ada apa?"


"Baiklah aku akan segera kesana."


Suara Alan sudah cukup menjelaskan bahwa terjadi sesuatu dengan Amora. Melisa sangat peka dengan hal ini.


"Ada apa kak? Amora baik-baik saja kan?"


"Ya, dia baik-baik saja. Tapi," Kalimat Alan menggantung di udara.


"Tapi apa?" Melisa semakin khawatir karena Alan teihat berat menyelesaikan ucapannya.


"Mama sedang koma. Dia baru saja mengalami kecelakaan."


Melisa terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan. Ia terduduk ke lantai dengan keras. Dan itu membuat luka di perutnya mengalami guncangan. Tapi ia mengabaikan rasa sakitnya karena mendengar Evelyn kecelakaan sangat membuatnya terpukul. Meski hubungannya dengan Evelyn tidak terlalu dekat, karena Evelyn selalu membuat jarak di antara mereka. Tapi Melisa sangat menyayanginya seperti ibunya sendiri.


Melisa menangis di pelukan Alan. Alan menahan diri untuk tidak menangis di hadapan Melisa. Meski ia tak pernah akur dengan sang ibu, tapi hubungan darah yang begitu kuat membuat hatinya tercabik ketika mendengar ibunya hampir meregang nyawa.


Alan mengangkat tubuh Melisa dan membawanya ke atas ranjang.


"Tenangkan dirimu. Jangan seperti ini. Kasihan bayimu jika kau seperti ini."


"I'm fine. Pergilah. Amora pasti sangat terpukul. Dia sedang membutuhkanmu." Ucap Melisa di sela isakannya.


"No. Aku akan menghubungi Kevin dan akan ke rumahsakit setelah Kevin datang."


Alan menghubungi Kevin yang sedang berada di kafe miliknya. Kevin merintis bisnis barunya benar-benar dari nol tanpa campur tangan dari Alan. Ia ingin mandiri dan bertanggung jawab penuh atas kebutuhan Melisa dan anaknya. Meskipun pada kenyataannya Alan masih terus mentransfer uang bulanan ke rekening Melisa dalam jumlah yang fantastis.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2