Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 26 (Di Vila Part 2)


__ADS_3

"Kakak ayo lempar bolanya." Teriak Melisa, meminta Alan untuk melempar bola yang terlempar kearahnya. Dia terlihat begitu bahagia, dengan senyum yang mengembang sejak bermain lempar tangkap bola dengan orang yang ia panggil paman Hendra, Itulah Ayah Sofia. Dia begitu senang karena menemukan kembali sosok ayah, setelah hubungannya dengan Farhan kandas.


"Ayo lempar bolanya ke sini ihh.."


"Iya iya.. Alan melempar bola ke arah Melisa, sedetik kemudian, pusat perhatiannya kembali tertuju kepada gadis cantik yang duduk di sampingnya. Bak magnet yang memiliki daya tarik yang begitu kuat, dunia Alan seolah berada dalam gengaman Sofia.


"Ayo paman tangkap bolanya."


"Hups." Hendra terkesiap menangkap lemparan bola dari Melisa.


"Hei nak, pamanmu ini sudah tua ternyata. Baru sebentar bermain denganmu, tapi sepertinya pinggang paman rasanya seperti mau copot saja. Hahaha."


"Ya sudah kita istirahat dulu paman."


Melisa mengedarkan pandangan ke segala penjuru demi mencari sosok yang bernama Kevin Sanjaya.Ya, ia berjanji akan segera menyusul, tapi sudah dua jam berlalu, ia masih belum juga menampakkan batang hidungnya. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke vila.


"Kak Kevin... hello... kak? Kenapa kamarnya kosong? Kemana dia?"


Melisa segera menuju kamar mandi, demi membersihkan pakaian dan tubuhnya yang sangat kotor karena pasir pantai. Saat ia berendam, tiba-tiba saja Kevin masuk dan membuat keduanya menjerit kaget.


"Aaa, kakak aku sedang mandi. Kenapa main masuk begitu saja."


"Maaf aku tidak tau kalau kau ada di dalam. Bukannya tadi kau ada di pantai bersama yang lain."


"Iya, aku menunggumu tapi kau tidak menyusul, huhh benar-benar ya."


"Maaf aku baru selesai dengan tugas kuliahku."


Keduanya masih melanjutkan perbincangan, dan sesekali melontarkan candaan satu sama lain. Tapi entah mengapa obrolan yang mereka lakukan berubah menjadi ungkapan perasaan, yang bukan hanya berupa kata-kata saja. Tapi juga dalam bentuk perbuatan.


Namun akal sehatnya masih mendominasi saat terlintas diingatannya, sebuah janji yang ia deklarasikan kepada Alan, bahwa dirinya akan menjaga kesucian Melisa sampai usianya benar-benar matang dan siap menjadi seorang istri yang seutuhnya. Tapi sedetik kemudian, pertahanan yang susah payah ia ciptakan runtuh begitu saja ketika sebuah kalimat manja terlontar dari bibir ranum Melisa.


"Ambilin handuk dong kak."


Sia -sia sudah pertahanannya yang susah payah ia jaga.


Ia mulai merasai setiap inci raga yang selama ini hanya bisa ia nikmati dengan pandangan mata saja.


Membuat keduanya terbang ke awang-awang, menikmati setiap sentuhan bak sengatan listrik bervoltase tinggi, namun tidak menyakitkan.

__ADS_1


Kevin memulainya dengan lembut dan penuh perasaan.


Mengayun perlahan tapi pasti.


Hingga mengantarkan keduanya pada kenikmatan duniawi yang mutlak dan hakiki. Sampai pada akhirnya menyisakan rasa lelah dan pegal di sana sini.


***


Tok.. tok.. tok..


"Melisa, Kevin, sudah waktunya makan malam."


"Kalian duluan saja kak, nanti kita menyusul. Melisa masih tidur." Ia menatap Alan dengan tatapan yang begitu dalam. ia merasa sangat bersalah karena sudah melanggar janjinya.


"Apa dia baik-baik saja?"


"Dia baik-baik saja. Sepertinya dia kelelahan."


"Ini salahku, aku membiarkannya terlalu lama bermain di pantai."


"Nanti kalau sudah bangun, segera ajak makan malam, dia juga belum meminum obatnya."


"Ya, tentu saja."


Tak terasa, sudah tiga hari mereka menghabiskan liburan akhir tahun di tempat ini. Semua waktu yang terlewati begitu mengesankan bagi mereka. Terlebih untuk Kevin dan Melisa. Setelah adegan di bath up yang begitu menguras tenaga kemarin. Membuat keduanya menjadi semakin menyatu dalam segi perasaan dan perilaku. Itulah episode terindah dalam kehidupan mereka berdua.


Di hari ketiga liburan ini, agenda yang mereka rencanakan adalah membeli oleh-oleh dan cinderamata.


Puluhan toko oleh-oleh begitu padat dan ramai oleh pengunjung. Di spot utara, berjajar rapi toko yang menjual barang-barang dan aksesoris. Sementara di spot selatan, menampilkan view sederet pedagang makanan dan jajanan khas pulau ini. Ada yang berupa kedai kecil dan sederhana, ada pula yang berupa bangunan megah mirip cafe elite yang sering mereka jumpai di kota besar tempat mereka tinggal.


"Wah cantik sekali." Puji ibu Sofia terhadap barang yang tengah ia pegang.


"Ibu, letakkan! Itu batu permata. Apa ibu tidak lihat price tag nya." Tunjuk Sofia ke arah price tag yang tergantung di ring batu permata itu.


"Dua puluh lima juta? Apa mereka sudah tidak waras? perhiasan semungil ini di hargai segitu mahalnya." Gerutu perempuan separuh baya yang bernama Hanum itu, yang tak lain adalah ibunya Sofia.


"Sudah, ayo kita cari toko yang lebih sederhana saja. Biasanya mereka menjual barang yang harganya masih dalam jangkauan rakyat kecil seperti kita. Ucapnya Sambil menggandeng tangan bu Hanum untuk pergi mencari toko yang lebih sederhana.


Alan secara tidak sengaja menangkap adegan dan obrolan antara Ibu dan anak tersebut.

__ADS_1


Ia melangkahkan kaki dan masuk ke toko aksesoris yang baru saja mereka tinggalkan, lalu membeli cincin permata yang di pegang bu Hanum tadi. Ia juga membeli dua buah liontin yang paling indah di toko itu. Yang satu liontin dengan batu permata berbentuk love, berwarna ungu muda. Warna Favorit Melisa.


Melisa pasti suka.


Dan yang satunya lagi, Sebuah liontin dengan batu permata yang memiliki bentuk love juga. Tapi yang ini berwarna toska. Warna kesukaan Sofia.


Di lain tempat, terjadi perdebatan antara seorang laki laki paruh baya dengan Hendra, ayahnya Sofia.


Perdebatan yang berakhir pada insiden pemukulan, dan membuat sudut bibir Hendra mengeluarkan darah segar.


"Ada apa itu nak?" Tunjuk Hanum ke arah kegaduhan yang tak jauh dari toko yang mereka masuki.


"Sepertinya ada yang sedang berkelahi bu."


"Ayo kita lihat."


"Jangan bu, jangan ikut campur urusan orang lain."


"Itu seperti... Astaga! Itu bukannya ayahmu?


Sofia memandang dengan seksama, apakah itu benar ayahnya atau bukan.


"Iya bu, itu memang ayah."


Keduanya berlari menghampiri Hendra yang jatuh terduduk karena pukulan yang cukup keras tadi.


"Hei, ada apa ini?" Alan yang juga berada tak jauh dari sana begitu murka melihat calon mertuanya di perlakukan seperti itu. Sedangkan Sofia dan Hanum membantu Hendra untuk berdiri.


#Flash back


Hendra memasuki sebuah toko yang menjual pakaian dan sepatu khusus pria. Dia melihat lihat beberapa pakaian dengan begitu takjub. Tapi sayangnya harga yang tertera membuatnya mengurungkan niatnya untuk membeli pakaian di sana. Ia hanya ingin melihat lihat saja.


"Hei pak, jangan pegang pegang kalau tidak mau beli. Ini pakaian mahal, kalau tidak mampu beli jangan menyentuhnya. Kalau sampai rusak memang bisa ganti?" Ucap pemilik toko dengan ketus.


"Oh maaf tuan, tadinya saya berniat membeli pakaian, tapi sepertinya tidak ada yang cocok."


"Cih, tentu saja tidak ada yang cocok untuk gembel sepertimu. Di sini hanya menjual pakaian mahal dan berkelas."


"Kalau memang aku ini miskin, anda tidak berhak menginjak harga diri saya, tuan yang terhormat." Menarik baju pemilik toko itu, lalu menghempaskannya kembali.

__ADS_1


Hendra berjalan keluar dari toko. Tapi pemilik toko itu mengejarnya dan memukul wajah Hendra hingga tersungkur, dan membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah. Bisa dibayangkan betapa kerasnya hantaman itu.


Bersambung...


__ADS_2