Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 18 (Salah Paham)


__ADS_3

Hari demi hari terlewati dengan suasana hati yang masih sama. Melisa duduk termenung di sudut kamarnya, tapi kali ini dia benar-benar merasa sendiri.


Biasanya dalam keadaan apapun ada kakaknya yang selalu merangkul dengan penuh kasih sayang. Ada juga suaminya yang selalu mensuport walau hanya sekedar lewat pesan singkat di ponselnya. Tapi dia merasa begitu banyak perubahan yang terjadi kepada Kevin dan Alan. Kevin yang selalu pulang terlambat dengan alasan sedang mengerjakan tugas kuliah, sedangkan Alan yang sibuk dengan pekerjaan kantor dan lebih sering menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Meskipun sedang sakit, Alan masih bekerja dari rumah. Ya, itulah yang dirasakan Melisa saat ini.


Sudah tiga minggu Sofia tinggal di rumah ini. Ia merasa perhatian dan kasih sayang Alan hanya tercurah untuk Sofia. Entah itu hanya perasaannya, atau memang karena kesibukan mereka yang membuat jarang bertegur sapa. Sehingga seperti menimbulkan sebuah jarak antara dirinya dan orang-orang yang dia sayangi.


"Besok siapa yang datang ke sekolahku?" Di sela-sela sarapan Melisa bertanya kepada kakaknya.


"Memangnya ada acara apa sampai harus datang ke sekolah?" Alan bertanya sambil menyodorkan roti yang baru saja ia oles dengan selai kepada Sofia. Hal itu membuat Melisa merasa semakin tidak di pedulikan.


"Ambil rapor hasil ujian semester satu."


"Oh ya, kau sudah ujian? kapan?"


" Seminggu yang lalu."


"Maaf kakak sampai tidak tau kau ada ujian. Kevin, tolong nanti kau yang ambil, hari ini sampai besok jadwalku padat sekali. Kau tau kan sudah tiga minggu aku tidak ke kantor? Banyak hal yang harus aku urus nanti."


"Baik kak, Aku juga tidak terlalu sibuk hari ini. Skripsiku juga sudah hampir selesai."


Melisa terdiam, selama ini Alan tidak pernah absen jika ada udangan apapun dari sekolah. Dia merasa semua perubahan yang terjadi pada kakaknya karena Sofia. Entah kenapa ia merasa iri karena kakaknya lebih perhatian dengan kekasihnya.


Setelah sarapan selesai, Mereka sudah bersiap dengan tujuan masing-masing.


Kevin mengantar Melisa ke sekolahnya. Di sepanjang perjalanan Melisa lebih banyak diam. Kevin mengira ia diam karena masih memikirkan tentang Farhan yang masih menjadi buronan.


"Sudah jangan terlalu banyak pikiran." Menggenggam tangan Melisa dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya fokus memegang kemudi mobil yang mereka tumpangi.


Melisa memilih menjawabnya hanya dengan senyuman.


Di tempat yang berbeda, Alan melajukan kendaraannya menuju Yong ju Group. Sofia yang duduk di sampingnya terlihat ragu-ragu untuk bertanya.


"Emm, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Tentu saja, apa kau mau bertanya kapan aku melamarmu?" Tersenyum dengan pedenya.


"Jangan aneh-aneh ya kamu." Jawab Sofia kesal.


"Memangnya apa yang ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


"Emm, itu, aku perhatikan kau sedikit berbeda. Maksudku sikapmu kepada Melisa. Apa kalian sedang ada masalah?"


"Oh, soal itu. Aku hanya sedikit memberi ruang untuk Melisa dan Kevin. Aku sadar, mereka sudah saling mencintai. Aku juga sudah sangat percaya Melisa akan bahagia dan aman bersama Kevin. Untuk itu aku sedikit menjaga jarak, agar mereka ada ruang untuk menyalurkan perasaan masing-masing."


"Kau benar, selama ini kau selalu menempel dengan adikmu kan. Kalau seperti itu, kapan ada waktu untuk mereka berdua saja."


***


Bel istirahat berbunyi. Melisa melangkahkan kakinya menuju perpustakaan, tapi bukan untuk membaca buku. Tujuannya kesana hanyalah untuk mencari suasana yang tenang. Jauh dari kebisingan yang tercipta dari siswa lainnya.


Aldo yang tidak sengaja melihatnya pun berjalan menghampiri orang yang sangat dikaguminya itu. Lebih tepatnya dicintai.


"Hai Mel, sendirian aja."


"Hai Al."


"Pelit amat jawabnya." Mencubit lengan Melisa dengan maksud ingin menghiburnya. Dari raut wajah yang ia lihat, Melisa tampak tidak baik-baik saja.


"Ih apaan sih Al. Sakit tau." Mengibas tangan Aldo.


"Lagian kamu itu, dimana-mana kalau ke perpus itu tujuannya membaca buku, atau mencari buku. Ini kamu malah ngelamun."


"Mikir apa? Mikirin aku ya, hayo ngaku."


"Dihh, pede tingkat dewa ya kamu. Aku itu lagi mikir, gimana caranya nyomblangin kamu sama Chika. Hahaha..." Melisa berlari menjauhi Aldo. Aldo pun Mengejar Melisa. Mereka berlari keliling lapangan tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya.


Chika adalah cewek yang mengejar-ngejar Aldo. Dia sudah tiga kali menyatakan cinta kepada Aldo, tapi selalu di tolak. Dan jika sampai dia menembaknya untuk yang keempat kalinya, Aldo akan benar-benar ilfeel kepadanya.


"Kena kau ya." Aldo berhasil menangkap Melisa. Mereka pun tertawa lepas dan berjalan menuju kelas karena waktu istirahat hampir habis.


"Al, makasih sudah membuatku tertawa hari ini."


"It's okay. Asal kamu senang." Tersenyum tulus kepada Melisa.


Kedekatan yang terjalin diantara mereka menimbulkan rumor disekolah. Mereka mengira Aldo dan Melisa ada feeling. Bahkan tak sedikit siswa yang mengira mereka sedang berpacaran. Tapi pada kenyataannya, Melisa hanya menganggap Aldo sahabat. Ia bersyukur memiliki sahabat yang selalu berhasil membuatnya tertawa dan sejenak melupakan segala masalah yang ia pendam di hatinya. Tapi sayangnya, Aldo mengganggap kedekatan yang terjalin di antara mereka karena Melisa memberi lampu hijau kepadanya. Ia merasa Melisa juga memiliki rasa yang sama dan memberinya kesempatan untuk lebih dari sekedar sahabat.


Waktu pulang sekolah pun tiba. Melisa melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah dengan antusias, berharap Kevin yang menjemputnya. Tapi betapa kecewanya ketika yang ia lihat ternyata sopir pribadinya.


Melisa mencari ponselnya di dalam tas. Ia berniat menghubungi Kevin.

__ADS_1


"Halo, kak. Kenapa ngak jemput? Katanya sudah tidak terlalu sibuk."


"Maaf sayang, hari ini pak sopir dulu ya yang jemput kamu. Aku ada tugas kampus yang harus di kerjakan."


"Kenapa tidak bilang dari awal kalau tidak jemput?" Menjawab dengan nada kesal.


"Maaf sayang sebenarnya tadi mau jemput. Tapi Maya telepon kalau dia ada waktunya sekarang."


"Wait, apa hubungannya dengan kak Maya?"


"Aku dan Maya satu team. Kita harus segera menyelesaikan tugas ini sebelum hari sabtu."


"Hanya berdua saja?"


"Tidak, kita ada empat orang dalam satu team."


Mendengar jawaban itu ada kelegaan di hati Melisa. Ia tau betul Maya tidak suka dengan hubungannya dengan Kevin. Entah mengapa ada rasa khawatir jika suatu hari nanti Maya akan berusaha memisahkannya dari Kevin.


Sesampainya di rumah, Melisa tidak tau harus apa. Lagi-lagi dia merasa kesepian.


Satu jam berlalu.


Dua jam berlalu.


Tiga jam berlalu.


Melisa masih saja duduk di ruang tengah tanpa melakukan apapun. Waktu menunjukkan pukul tujuh. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Kevin ataupun Alan.


"Nona, makan malam sudah siap."


"Ya bik, nanti."


"Maaf nona, jangan menunda nanti-nanti. Tuan Alan berpesan harus memastikan nona makan dan minum obat sekarang juga. Kalau tudak saya akan kena hukuman."


"Iya bibik tenang saja." Melisa berjalan menuju meja makan dengan malas. Tapi ia tidak ingin menyusahkan orang di depannya. Asisten rumah tangganya itu yang akan terkena masalah jika ia tidak makan dan minum obat tepat waktu.


Setelah selesai makan, ia berjalan menuju kamar dan menangis sejadi jadinya. Ia merindukan kehangatan keluarga seperti dulu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2