Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 29 (Dua Garis Merah)


__ADS_3

Pagi yang begitu indah, Alan bangun dari tidurnya dengan hati yang berbunga-bunga.


Entah mimpi apa yang menghiasi tidurnya tadi malam, hingga ia terlihat begitu bahagia dan bersiul ria sepanjang berada di kamar mandi.


Tapi pada kenyataannya, semalam ia justru tidak bisa tidur. Bahkan tidak tidur sama sekali. Saat berusaha memejamkan mata, ia slalu saja gagal menguasai otak dan pikirannya untuk tidak memikirkan Sofia.


Dia berencana melamar Sofia secepatnya.


Sejauh yang ia lihat dan rasakan, Sofia mulai memberi lampu hijau kepadannya. Ia tak ingin menunda-nunda lagi niat baiknya untuk menemui kedua orang tua Sofia.


Tapi sebelum mengambil langkah, tentu saja ia harus membicarakan terlebih dahulu hal ini kepada Melisa. The one and only priority in his life right now.


"Pagi kak, Kakak kelihatannya senang sekali hari ini." Sapa Melisa yang berpapasan di depan ruang tamu.


"Kau benar sekali, kakakmu ini sedang falling in love kesekian kalinya kepada pemilik nama 'Sofia'. Mencubit lembut pipi Melisa.


"Cie cie.. yang lagi falling in love untuk yang kesekian kalinya."Goda Melisa sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Mau joging ya?" Alan yang melihat penampilan Melisa, menebak apa yang akan di lakukan adiknya saat mengenakan kaos oblong dan laging, lengkap dengan sepatu kets sepagi ini.


"He em. Kakak mau ikut?"


"Iya, kakak ikut. Tunggu sebentar, kakak ganti baju dulu."


Kini keduanya sudah siap untuk joging bersama. Tak perlu jauh jauh. Cukup di taman yang letaknya tidak sampai 500 meter dari rumah yang mereka tinggali.


Udara pagi yang segar begitu nyaman dan menyejukkan jiwa. Suasana taman tidak begitu ramai karena masih sangat pagi. Hanya ada beberapa orang saja yang berlalu lalang di area joging. Sementara di area pesepeda, sama sekali tidak terlihat ada aktivitas.


"Sayang, ada yang ingin kak Alan sampaikan kepadamu."


"Aaa, baik kak, kita cari bangku dulu biar lebih enak ngobrolnya."


"Kakak mau bicara apa? sepertinya serus sekali? Tanya Melisa yang sudah penasaran dengan hal yang ingin di sampaikan kakaknya.


"Kakak ingin Melamar Sofia. Apa kau setuju?"


"Tentu saja, ini hal yang sangat membahagiakan. Aku sampai speecless mendengarnya." Memeluk Alan dengan erat. Bahkan air mata bahagia menetes tak terbendung.


"Setelah sekian lama, akhirnya kakak bisa move on dari kak Kania. Jujur aku takut apakah kak Sofia sudah bisa menerima kakak seutuhnya. Aku tidak ingin melihat kakak terluka untuk yang kedua kalinya."


"Kania masih tetap di sini." Alan menunjuk dadanya.


"Iya aku tau, kak Kania masih tersimpan di hati kakak sebagai kenangan manis. Dan semoga kak Sofia akan menjadi masa depan kakak yang paling sempurna. Dan akan menjadikan hari hari kakak selalu dipenuhi cinta dan kebahagiaan." Melisa mengutarakan semua harapannya tentang hubungan Alan dan Sofia.


"Wah, ini harus di rayakan kak."


"Hei, kau ini. Belum apa-apa sudah mau membuat perayaan. Iya kalau di terima. Kalau tidak?"


"Jangan pesimis gitu lah kak. Semangat!" Sambil mengepalkan tangannya ke udara.


"Iya iya, kau ini sudah seperti seorang ibu yang sedang memberi wejangan kepada anaknya." Alan menggeleng gelengkan kepala. Ia merasa sedang di nasehati seorang ibu yang ingin anaknya selalu semangat untuk mendapatkan yang terbaik.


"O iya kak, by the way, bagaimana ya kabar mama Evelyn? Sudah lama kita tidak tau kabarnya kan?"


"Entahlah, Mendengar namanya saja membuat telingaku sakit."

__ADS_1


"Kakak, jangan begitu ih, bagaimanapun juga dia ibu kandungmu."


"Mau bagaimana lagi, kelakuannya yang membuatku seolah kehilangan rasa hormat kepadanya. Dulu aku sempat mengira ayah Jhonatan dan mama Evelyn berpisah karena ibumu. Tapi ternyata mereka berpisah karena mama diam diam memiliki hubungan dengan pria lain, sampai memiliki seorang anak perempuan. Mungkin anaknya sudah seumuranmu." Alan tersenyum getir.


"Pulang yuk kak, aku lelah. Plus hungry. Hehehe."


"Kakak perhatikan akhir-akhir ini kau banyak makan ya?"


"Hehehe. Padahal subuh tadi aku sudah makan nasi goreng buatan kak Kevin. Tapi sudah lapar lagi." Tersenyum hingga menampakkan sederet gigi putihnya.


"Apa? Astaga sayang, kau yakin baik-baik saja. Jangan jangan kau cacingan?"


"Kakak ih, enak saja bilang aku cacingan." Sungutnya kesal.


"Maaf maaf. Udah jangan cemberut gitu ah, jelek tau."


"Ihhh kakak..." Mengejar Alan yang berusaha menghindari cubitan maut dari Melisa.


Keduanya berlari saling kejar, hingga saat berada didepan kediaman mereka, tiba-tiba saja Melisa terhenti sambil memegangi perutnya.


Alan menyadari Melisa sudah tidak mengejarnya lagi. Ketika ia berbalik badan, betapa terkejutnya saat ia melihat adiknya tengah terduduk di aspal sambil merintih kesakitan.


"Sayang, kenapa? kau jatuh apa bagaimana?"


"Perutku kak. Auhhh.. " Melisa merasakan sakit yang hebat di bagian perutnya.


Dengan sigap Alan menggendongnya dan membawanya masuk kedalam rumah.


"Melisa kenapa?" Kevin panik saat melihat Alan tengah menggendong Melisa yang sedang tak berdaya.


"Tadi subuh Melisa ingin makan nasi goreng. Lalu aku buatkan nasi goreng."


"Kau jangan sembarangan memberi sesuatu kepada Melisa. Dia sangat sensitif dan banyak pantangan makanan." Seru Alan dengan intonasi suara yang mulai meninggi.


"Memangnya aku sudah tidak waras. Mana mungkin aku memberinya sesuatu yang membahayakan kesehatannya?"


"Aku hamil."


"Apa?" Alan dan Kevin terkejut mendengar pengakuan Melisa.


"Sayang, kau bercanda ya?" Alan mencoba memastikan kebenaran dari ucapan yang barusaja ia dengar dari Melisa.


Bughhh..


Pukulan keras mendarat di wajah Kevin.


"Apa kau sudah melanggar janjimu? Apa kau sudah menyentuh Melisaku?" Teriak Alan dengan sorot mata membunuh.


"Maafkan aku."


Hanya itu kata yang mampu keluar dari mulut Kevin. Sebuah kata 'maaf' yang begitu tulus dan penuh rasa bersalah.


"Sudah kak jangan marah-marah. Memangnya kakak tidak mau mempunyai keponakan baru?" Melisa berusaha meluluhkan amarah yang menguasai Alan saat ini.


Alan memeluk erat-erat adiknya. Jujur ia sangat takut dengan keselamatan Melisa.

__ADS_1


Ia juga khawatir apakah kehamilam Melisa akan berpengaruh terhadap kondisi jantungnya. Meskipun sakit yang ia derita sudah mengalami banyak kemajuan dan sudah mulai terkontrol. Tapi tetap saja, kekhawatiran masih ia rasakan.


"Berapa usianya? Sejak kapan kau tau?" Tanya Alan dengan suara yang sudah melunak.


"Tiga minggu. Aku baru tau seminggu yang lalu, saat aku menyadari sudah telat datang bulan selama dua minggu."


"Maafkan aku sayang." Kevin sudah menduga dari awal tentang hal ini. Tapi ia memilih diam sebelum ia memastikan kebenarannya. Tapi ternyata Melisa sudah mencari tau lebih dulu. Dan betapa terkejutnya saat ia mendengar kata 'Aku hamil' dari bibir Melisa. Antara sedih, senang, terharu, dan merasa bersalah, menjadi satu dan mencabik perasaannya saat ini.


#Flash back


"Maaf sayang, keceplosan. Kamu lagi dapet ya? Dari kemarin baperan terus." Pertanyaan Kevin membuat Melisa menyadari sesuatu.


"Harusnya sih sudah, tapi tumben nih telat. Telat dua minggu kayaknya." Jawab Melisa sedikit ragu.


"Apa?" Kevin kaget mendengar jawaban Melisa yang di luar dugaan.


"Kamu yakin sudah telat dua minggu? Tanyanya lagi untuk memastikan.


"Kayaknya sih."


"Apa jangan-jangan kamu..."


"Jangan-jangan kenapa kak? Tanya Melisa tidak mengerti.


"Ah, tidak. Ayo kita pulang." Kevin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia ingin memastikannya dulu sebelum berkata apapun kepada Melisa.


Hal itu membuat Melisa menyadari sesuatu. Mungkinkah dia sedang hamil saat ini? Dan hal hal aneh yang terjadi pada dirinya akhir akhir ini adalah ngidam?


Aku harus memastikannya sekarang juga.


"Kak, sebelum pulang mampir ke apotek dulu ya. Aku mau beli minyak angin."


"Ini ada minyak angin di kotak p3k sayang."


"Tidak mau yang itu. Aku mau yang aroma lavender."


"Baik tuan putri." Jawabnya sambil terkekeh.


Sesampainya di apotek, Melisa meminta Kevin menunggu di mobil.


"Tunggu di mobil aja, aku cuma sebentar." Di jawab dengan anggukan oleh Kevin.


"Permisi kak, aku mau beli tespack."


Apoteker di depannya memandangi Melisa dengan tatapan aneh. Mungkin ia berpikir anak bau kencur sepertinya mau beli tespack untuk apa. Atau mungkin dia sedang merasa miris karena mengira Melisa adalah gadis nakal yang sudah hamil di luar nikah. Ah, entah apa yang dia pikirkan. What ever.


Melisa juga membeli minyak angin aroma lavender agar Kevin tidak curiga jika ia keluar dari apotek tanpa itu.


Sesampainya di rumah, Melisa segera mencari tau apakak ia benar hamil atau tidak. Tapi karena kantuk telah menggelayuti matanya, ia justru merebahkan diri di tempat tidur sampai akhirnya terlelap. Setelah terbangun ia berniat membersihkan diri ke kamar mandi. Ia merasakan mual ketika mencium aroma mint dari pasta gigi yang ia aplikasikan ke sikat giginya.


Ia teringat kembali tespack yang belum sempat ia gunakan tadi. Setelah selesai membersihkan diri, ia segera mengambil tespack dan langsung mengunakannya sesuai petunjuk yang tertera.


Dan benar saja, tespack yang tengah ia pegang menampilkan dua garis merah yang begitu jelas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2