
Sesampainya di kediaman Yong ju, lagi-lagi Mereka di sambut dengan sikap aneh Alan. Dia begitu khawatir seolah-olah terjadi sesuatu kepada Melisa.
"Mel, kau baik-baik saja? Kau tidak apa-apa kan?" Memutar tubuh adiknya untuk memastikan tidak ada lecet sedikitpun di tubuh adiknya itu.
"Kakak tidak usah khawatir, selama bersamaku Melisa akan baik2 saja. Jangan bersikap berlebihan seperti ini." Kevin mencoba menjelaskan agar Alan bersikap sewajarnya.
Alan tersenyum sinis mendengarnya. Justru ia sangat khawatir jika Melisa berada di dekat Kevin. Karena dia anak Farhan, Ada kemungkinan dia bersekongkol dengan ayahnya itu.
"Melisa, masuklah ke kamar, istirahatlah. Dan kau Kevin, kita perlu bicara."
"Baik kak." Melisa berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Apa yang sedang kau rencanakan?" Alan menarik kerah baju Kevin dan mendorongnya hingga ke tembok.
"Apa yang kakak bicarakan?"
"Jangan berpura-pura tidak tau." Menghempas tubuh Kevin dengan kasar.
"Sebenarnya ada apa ini, memangnya aku dukun bisa menebak isi pikiranmu." Dalam situasi seperti ini masih saja Kevin mengeluarkan banyolannya.
"Hei aku sedang serius!!!"
"Aku juga serius! Sebenarnya ada apa?
"Kau bersekongkol dengan ayahmu untuk menghancurkan kami kan? katakan!!!"
"Hei..., lelucon apa ini? Kau menilai orang seenaknya."
"Ini bukan lelucon."
Bugggghhh...
Alan melemparkan beberapa lembaran kertas ke depan Kevin.
"Baca!" Teriak Alan.
"Itu bukti transaksi Farhan sanjaya dengan orang yang sudah menghabisi nyawa ayahku dan juga yang berusaha membunuhku. Dan dia juga telah membuat keadaan Melisa menjadi seperti ini. Melisa harus menjalani sisa hidupnya dengan jantung yang bermasalah."
Tubuh Kevin membeku, ia masih tidak percaya dengan fakta di depannya.
"Apa ini artinya ayahku yang membunuh paman Jhonatan dan melukai Melisa?"
"Ya, dan perjodohan ini adalah rencana busuknya juga."
__ADS_1
Kevin tersentak kaget dengan fakta kedua yang di lontarkan Alan.
"Kenapa kau kaget begitu? Bukankah kau terlibat didalamnya?"
"Aku tegaskan kepadamu TUAN ALAN YONG JU YANG TERHORMAT. Pertama, aku tidak tau menau tentang pembunuhan paman jhonatan. Dan jika memang terbukti ayahku yang melakukannya, aku sendiri yang akan menyeretnya kedalam penjara. Kedua, dari awal aku menolak perjodohan ini lalu Melisa datang memohon kepadaku untuk menerima perjodohan ini. Ketiga, sekarang aku sangat mencintai istriku dan kami sudah saling mencintai."
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?"
"Apa perlu kita ke kantor polisi sekarang?
"Tidak perlu, dan tolong rahasiakan ini dari Melisa, dia tidak bisa mendengar kabar buruk seperti ini."
Kevin mengangguk paham, dia tau betul kondisi kesehatan Melisa seperti apa.
"Jika kau tidak terlibat dengan semua ini, bantulah aku mendapat bukti lain untuk menjebloskan Farhan ke penjara. Apa kau mau melakukannya?"
"Tentu saja, Kebenaran harus di tegakkan, Meskipun itu ayah kandungku, dia harus mempertanggungjawabkannya."
"Baiklah aku percaya padamu." Menepuk-nepuk bahu Kevin.
"Kakak bisa pegang kata-kataku."
Setelah perbincangan sengit itu keduanya kembali bersikap seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apapun. Tentunya agar Melisa tidak merasa curiga ada hal besar yang mereka sembunyikan.
Keesokan harinya semua orang melakukan aktivitasnya seperti biasa. Setelah sarapan mereka bergegas berangkat ke tempat tujuannya masing. Setelah mengantar Melisa sekolah Kevin bergegas menuju tempat kuliahnya. Sedangkan Alan sibuk dengan urusannya di kantor
"Iya iya." Berlari terengah-engah masuk ke ruangan bosnya.
"Bapak bisa tidak kalau memanggil saya tidak teriak-teriak seperti itu."
"Mana ada saya teriak, saya hanya sedikit mengeraskan suara agar kamu dengar."
"Lain kali tidak usah teriak, telinga saya masih normal." Bergumam gumam kecil.
"Apa kau bilang?"
"Aaa tidak pak, bapak ada apa memanggil saya?" Berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Temani saya ke pesta peresmian perusahaan baru nanti malam."
"Apa? itu kan di luar jam kerja saya, kenapa tidak mengajak pacar bapak saja."
"Aku akan mengajak pacarku juga nanti." Menampilkan senyum liciknya.
__ADS_1
"Baiklah terserah bapak, tapi aku mau nanti di hitung jam lembur kantor."
"Baiklah, akan aku lipat gandakan juga gajimu hari ini."
"Benarkah?" Kali ini Sofia tertawa riang karena mendapat gaji double sekaligus uang lembur. Sedangkan Alan geleng-geleng kepala merasa heran kenapa dia sesenang itu hanya karena mendapat uang lembur.
Malam pun tiba, Alan menjemput Sofia lebih awal karena dia juga membawa MUA untuk merias Sofia.
"Bapak ini masih jam setengah tujuh. kenapa sudah kesini." Bukannya menjawab Alan malah menyuruh seseorang untuk masuk.
"Masuklah dan buat dia secantik mungkin, aku tidak ingin malu karena membawa pasangan yang tampilannya biasa-biasa saja." Perintahnya kepada MUA yang di bawanya.
Sofia hanya pasrah karena percuma beradu argumen dengan bosnya itu. Malah yang ada dia bisa di pecat kalau membangkang.
"Pakai gaun ini juga." Sambil menyerahkan papper bag kepada Sofia.
"Iya iya." Memutar kedua bola matanya.
Satu jam kemudian Sofia keluar dengan riasan natural dan gaun tanpa lengan berwarna krem. Meski hanya riasan natural dia terlihat sangat memukau di mata Alan.
"Bagaimana penampilan saya pak?" Sambil memutar tubuhnya.
"Biasa saja."
Seperti itulah Alan Yong ju. Terkadang apa yang dia ucapkan belum tentu sesuai dengan apa yang ada di hatinya.
"Ayo cepat kita bisa terlambat. Kau dandan seperti itu saja lama sekali."
"Hei, orang yang bapak bawa itu yang mendandaniku." Tidak terima dengan perkataan Alan.
"Oh iya bapak bilang akan membawa pacar bapak kan? apa dia akan menyusul nanti? seharusnya bapak datang menjemputnya kan, kenapa malah menjemputku."
"Kau ini cerewet sekali ya."
"Hehe, maaf pak."
Sesampainya di tempat pesta berlangsung mereka disambut para petinggi perusahaan anak cabang Yong Ju Group.
"Selamat datang tuan, silahkan nikmati pesta ini." Ucap salah satu rekan bisnisnya.
"Bapak, aku merasa canggung sekali, aku pulang saja ya." Sofia memandang sekitarnya dengan perasaan minder. pestanya begitu mewah dan tamu undangannya terlihat seperti bukan orang sembarangan. Bahkan ada artis papan atas juga yang turut hadir di sana.
"Kalau kau berani kabur dari pesta ini, kau akan ku pecat."
__ADS_1
Ucapan itu mampu menciutkan nyali Sofia yang memiliki pemikiran untuk kabur dari pesta yang sedang berlangsung itu.
Bersambung...