
Saat tiba di UGD, dokter segera memeriksa keadaan Melisa dan kandungannya. Kevin masuk dan mendampingi istrinya. Sedangkan Alan tampak mondar mandir di depan pintu ruang pemeriksaan.
"Tenangkan dirimu. Melisa gadis yang kuat." Sofia menghampiri Alan dan menepuk pelan bahunya.
"Aku tidak bisa tenang sebelum tau kondisinya." Alan berjalan menuju kursi tunggu dan duduk bersandar sembari memejamkan mata.
Dokter tampak keluar dari ruang pemeriksaan. Alan berlari menghampiri dokter yang baru saja memeriksa Melisa. Sofia berjalan cepat mengikuti Alan
"Bagaimana keadaan adik saya dok?"
"Mari ikut ke ruangan saya." Dokter berjalan menuju ruangannya diikuti Alan dan Sofia.
"Pasien mengalami solusio plasenta. Suatu komplikasi kehamilan dimana plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum proses persalinan."
"Apa yang menyebabkan hal itu terjadi dok?" Alan masih belum bisa mengendalikan kepanikannya.
"Bisa jadi karena pasien hamil di usia yang masih terlalu dini. Kehamilan di usia remaja rentan mengalami hal seperti ini tuan. Pendarahan yang dialami terlalu banyak, dan kami harus melakukan tindakan operasi caesar sekarang juga."
"Lakukan apapun yang terbaik untuk adik saya." Ucap Alan penuh harap.
Setelah surat persetujuan operasi di tandatangani, Melisa di bawa ke ruang operasi. Ia merasakan sakit yang luar biasa saat dokter memberikan suntik anastesi di punggungnya. Beberapa saat kemudian Melisa merasakan berat di kakinya dan menjalar hinga atas perut. Setelah itu ia tidak merasakan apapun. Ia mencoba menghilangkan ketegangannya dengan membayangkan bayi perempuan yang sangat lucu dan menggemaskan.
Semua orang yang menunggu di depan ruang operasi tampak sangat tegang, terlebih Alan.
Setelah beberapa saat kemudian, terdengar tangisan bayi yang begitu keras. Kevin menangis haru mendengar tangis bayinya. Ia masih tak percaya dirinya kini resmi menjadi seorang ayah. Sungguh semua ini bagaikan sebuah mimpi.
Dokter keluar dari ruang operasi dan mengatakan bahwa kondisi Melisa stabil dan bayinya sehat. Ia telah melahirkan bayi perempuan. Saat itu juga Alan menangis terisak dan memeluk erat Sofia.
Sofia membalas pelukan Alan. Ia juga tengah menangis bahagia .
Melisa dipindahkan ke ruang rawat VIP sedangkan bayinya masih berada dalam inkubator.
Seminggu berlalu, Melisa sudah di perbolehkan untuk pulang. Tapi tidak untuk bayinya, sebab masih harus di pantau karena kelahirannya yang prematur.
__ADS_1
"Keisa Arabella." Ucap Melisa sambil memandangi bayinya dari balik dinding kaca sebelum pulang dari rumah sakit. "Itu nama bayi kita. Keisa adalah gabungan dari nama kita. Arabella artinya perempuan cantik. Bukankah dia sangat cantik?" Melisa memandang ke arah Kevin dan tersenyum lepas.
"Ya, kau benar sayang. Dia sangat cantik, seperti ibunya." Kevin memberi kecupan di kepala Melisa yang tengah duduk di kursi roda.
***
Sofia sudah beberapa hari menginap di rumah Alan. Ia dengan telaten membantu Melisa memompa asi nya untuk di kirim ke rumah sakit dan di berikan kepada baby Keisa. Tak hanya itu, Sofia juga mengurus semua keperluan Melisa.
Evelyn terlihat menghampiri Sofia yang sedang mengambil air minum di dapur.
"Apa yang kau inginkan? Apa kau mau mengambil hati anakku lagi. Sungguh lucu sekali. Kau memang benar-benar penjilat ternyata." Evelyn tersenyum sinis.
"Apa hanya itu yang ingin anda katakan? Jika iya maka saya permisi. Saya terlalu sibuk untuk berdebat dengan anda." Sofia berlalu meninggalkan Evelyn yang terlihat sangat kesal.
Amora yang melihat kejadian itu segera menghampiri sang ibu.
"Mama, sudahlah. Kau tidak akan berhasil memisahkan mereka. Justru kau mempertaruhkan hubunganmu dengan kak Alan."
"Jangan campuri urusan mama. Yang harus kau lakukan saat ini hanyalah kuliah dengar benar." Evelyn pergi dengan emosi yang memuncak.
***
Alan pulang dari perusahaan lebih awal. Ia ingin memastikan keadaan Melisa. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia segera menuju kamar Melisa. Tampak Sofia sedang berada di sana.
"Bagaimana kodisi Melisa? Apa dia masih sering mengeluh sakit di luka bekas operasinya?" Tanya Alan kepada Sofia.
"Dia sudah lebih baik. Dia baru saja tidur setelah aku memberikan obatnya."
"Terimaksih karena kau telah merawat Melisa dengan baik. Dia pasti akan segera pulih karena kau merawatnya dengan penuh kasih sayang."
"Hmm." Jawab Sofia singkat di sertai senyum ringan.
Sofia, bisakah kita bangun kembali hubungan kita? Aku ingin menikahimu."
__ADS_1
"Untuk apa? Bukankah sudah jelas jika ibumu tidak memberi restu kepada kita." Sofia membuang muka. Ia berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.
"Pikirkan lagi. Melisa sudah sangat menyayangimu. Dia juga sangat membutuhkanmu."
"Jika itu alasanmu, jangan khawatir. Aku akan sering menjenguknya."
"Bukan hanya itu. Aku, aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa kehilangan dirimu." Alan memeluk Sofia dari belakang. "Menikahlah denganku. Ku mohon."
"Aku mencintaimu Alan. Sangat mencintaimu. Apa kau pikir aku tidak terluka dengan semua ini? Aku sangat sakit Alan. Bahkan lebih sakit dari yang kau rasakan."
"Lalu kenapa kita tidak mempertahankan hubungan ini?" Alan melepas pelukannya dan membalikkan tubuh Sofia ke hadapannya.
"Orang tuaku melarangku melanjutkan hubungan ini. Mereka tidak ingin aku lebih terluka lagi dengan penolakan dari ibumu."
Sofia melangkahkan kaki dan beranjak pergi. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Melisa dan menoleh ke belakang.
"Jika kau serius dengan ucapanmu, yakinkanlah kembali kedua orang tuaku agar mereka mengizinkan kita menikah." Sofia memberi kesempatan Alan untuk memperbaiki hubungan mereka.
Senyum mengembang di bibir Alan. Setidaknya Sofia memberinya kesempatan untuk dirinya. Sekarang dia hanya tinggal memikirkan cara untuk meyakinkan kedua orang tua Sofia. Dalam hal ini, tentu ia sangat membutuhka peran Melisa. Karena kedua orang tua Sofia cukup dekat dengannya.
Keesokan harinya, baby Keisa sudah diperbolehkan untuk di bawa pulang. Semua penghuni rumah sangat antusias menyambut kedatangannya. Terkecuali Evelyn tentunya. Tapi tak ada yang mempermasalahkan semua itu. Dan hal itu sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan mereka.
"Bayimu cantik sekali Mel." Amora terlihat begitu gemas melihat bayi Melisa yang menurutnya seperti boneka.
"Cepatlah menikah dengan Aldo. Dan kau akan mendapat bayi cantik seperti ini." Goda Melisa.
"Wait. Aldo? Aldo dulu selalu menempel padamu itu?" Tanya Kevin yang sangat familiar dengan nama Aldo.
"Hmm. Amora dan Aldo sedang menjalin hubungan."
"Lihatlah, semudah itu dia move on darimu. itu artinya dia tidak sungguh sungguh mengejarmu." Ucap Kevin yang terlihat seperti sedang meremehkan.
"Ini sama sekali tidak mudah kak Kevin. Aku dan Aldo menjalin hubungan agar kami sama sama bisa move on dari kalian. Tapi ini sungguh sangat menyakitkan. Kau meremehkan kami." Batin Amora.
__ADS_1
"Selamat ya. semoga kau bahagia dengan hubunganmu dengan Aldo." Alan memberi ucapan selamat kepada Amora. Ini pertama kalinya ia berbicara penuh kasih sayang kepada Amora. Bahkan di akhir kalimat ia mencium ujung kepala Amora.
Bersambung...