
Pagi ini Melisa terlihat sangat antusias karena hari ini ia akan mengikuti ujian nasional. Meski dengan perut yang membuncit, dia tidak ambil pusing dengan hal itu.
Hari terus bergulir. Hingga tak terasa Melisa sudah melewati ujian nasional tanpa kendala yang berarti. Meski ia harus bolak-balik ke toilet karena di usia kandungannya yang ke tujuh bulan ini membuatnya sangat sering buang air kecil.
Melisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Dan Kevin pun telah menyelesaikan kuliahnya. Kevin belum memikirkan apakah ia akan lanjut menempuh pendidikan S2 atau tidak. Karena prioritasnya saat ini adalah Melisa dan bayi yang di kandungnya.
"Kak Kevin, apa kau mau membantuku?" Tanya Melisa yang sedang berada dalam pelukan Kevin.
"Katakanlah, apa yang kau inginkan."
"Aku memikirkan sebuah rencana. Can you help me carry out my plan?"
"Tell me what should i do." Ucap Kevin yang sedang sibuk bermain-main dengan rambut Melisa.
"Aku akan membuat kak Alan dan kak Sofia kembali bersama. I know they love each other."
"So?" Kevin terlihat menyipitkan sebelah matanya.
"Katakan pada kak Alan aku kurang sehat dan katakan juga padanya aku mengigau nama kak Sofia." Melisa akan menggunakan kelemahan Alan dalam rencananya kali ini.
"That's not good idea honey."
"Please, Hanya dengan cara itu kak Alan akan mendengarkanku."Melisa mengatupkan kedua tangannya.
"Hhhh, baiklah. Sekarang tidurlah sayang, ini sudah malam."
"Aku ingin kau melakukannya sekarang." Rengek Melisa.
"Oh God. Baiklah tuan putri." Kevin melangkahkan kakinya dengan malas karena dia sudah sangat mengantuk.
Saat Kevin akan mengetuk pintu kamar Alan, Kebetulan Alan sedang membuka pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Selidik Alan penuh curiga. "Apa Melisa sedang membuat drama dan kau kewalahan menghadapinya?" Tanya Alan dengan senyum mengejek.
Kevin mulai berakting dengan susah payah, karena ia sama sekali tidak berbakat dalam hal ini.
"Melisa kurang sehat, dan dia beberapa kali mengigau nama Sofia."
Seketika raut wajah Alan berubah panik. Ia bergegas melihat keadaan Melisa dan meninggalkan Kevin tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Alan menghampiri Melisa yang sudah bersiap menjalankan misinya. Bahkan Melisa sedikit memoles bibirnya dengan bedak demi memberi efek pucat di bibirnya😁.
"Honey, are you ok?" Alan menempelkan punggung tangannya ke kening Melisa.
"Entahlah. Aku hanya merasa sangat merindukan kak Sofia. Bisakah dia menemuiku?" Melisa berbicara dengan suara lemah. Aktingnya terlihat sangat totalitas. Sepertinya ia memang memiliki bakat terpendam.
"Tentu. Aku akan membawanya kemari untukmu."
"Bisakah sekarang? Please."
"Dia selalu menghindar dariku sayang. Tapi akan ku coba untuk menemuinya." Alan memeluk Melisa sebelum pergi menemui Sofia. Sedangkan Melisa tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya kepada Kevin yang berada di belakang Alan.
Setengah jam kemudian Alan sudah sampai di kediaman Sofia. Ia mendapat sambutan kurang baik dari Hanum.
"Ibu, bisakah aku menemui Sofia?" Pinta Alan.
"Maaf nak, sebaiknya jangan temui Sofia lagi. Dan tolong, jangan panggil aku dengan sebutan ibu." Tegas Hanum.
"Siapa yang datang bu?" Sofia tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya.
"Kau?" Langkah Sofia terhenti saat mendapati Alan yang sedang duduk di ruang tamu.
"Sofia, Melisa sedang sakit. Dia beberapa kali mengigau namamu. Bisakah kau menjenguknya?"
Hanum sudah sangat akrab dengan Melisa. Bahkan ia sudah menganggap Melisa seperti anak kandungnya sendiri. Karena itulah dia mengizinkan Sofia untuk menjenguk Melisa.
Alan segera membawa Sofia ke rumahnya. Suasana canggung tercipta saat keduanya berada di dalam mobil. Tak ada sepatah kata pun di sepanjang perjalanan mereka.
Tiba di rumah Alan, Sofia menemui Melisa yang sedang berada di kamarnya. Sofia berpapasan dengan Evelyn di depan tangga. Evelyn menatap tajam Sofia, seolah memberi peringatan keras agar ia tak menginjakkan kakinya di rumah ini lagi.
Sofia hanya meliriknya sekilas, karena tujuannya datang ke rumah ini murni karena ingin melihat keadaan Melisa. Not for other.
"Hai sayang. Ada apa denganmu? Apa yang kau rasakan saat ini?" Sofia terlihat membelai lembut rambut Melisa.
"I'm just missing you. Really realy miss you." Jawab Melisa dengan suara lemah dan mata berkaca-kaca.
Kevin berusaha keras menahan tawanya. Sepertinya ia harus memberikan apresiasi kepada Melisa untuk akting sempurnanya.
"Tidurlah disini bersamaku, please." Melisa menjalankan rencana kedua. Yaitu dengan meminta Sofia menginap. Setidaknya itu bisa mendekatkan kembali Alan dan Sofia.
__ADS_1
"Ya, aku akan disini menjagamu. Tidurlah sayang." Sofia mencium kening Melisa dan menyelimutinya. Alan dan Kevin keluar dari kamar Melisa dan membiarkan mereka saling melepas kerinduan.
Alan menuju kamarnya dengan jantung yang berdebar lebih cepat. Ia menahan kerinduan yang begitu dalam kepada Sofia.
Sedangkan Kevin, ia tidur di kamar tamu di lantai bawah. Begitu masuk kamar, ia tertawa terpingkal-pingkal mengingat akting Melisa yang sunguh seperti nyata. Ia harus ekstra waspada karena ternyata istrinya pandai berakting. Jangan sampai suatu saat Melisa mengerjainya dengan hal serupa😁.
Keesokan harinya, semua penghuni rumah sudah berkumpul di meja makan. Melisa tampak lebih segar dan meminta untuk bergabung dengan yang lain saat sarapan.
Melisa duduk di sebelah Sofia sambil sesekali bergelayut manja di lengannya.
Bisa di bayangkan seperti apa amarah yang membakar perasaan Evelyn kali ini. Bahkan ia tidak menyelesailan sarapan paginya karena keberadaan Sofia membuatnya kehilangan selera makan.
"Melisa, setelah ini kakak harus pulang. Kakak ada interview. Beberapa hari yang lalu kakak melamar pekerjaan baru." Ucap Sofia di sela-sela sarapannya.
"Bisakah kakak menundanya? Aku ingin kakak menemaniku periksa kandungan nanti siang."
"Maaf sayang kakak tidak bisa. Pergilah bersama Kevin." Tolak Sofia secara halus.
Melisa terlihat kecewa dengan jawaban dari Sofia. Saat ini otaknya sedang bekerja keras mencari cara agar Sofia bisa tinggal lebih lama lagi.
Saat sedang berfikir, tiba-tiba saja Melisa merasakan sakit pada perutnya. Ia meringis dan memegangi perutnya.
"Mel, are you ok?" Tanya Amora yang melihat Melisa meringis kesakitan.
Alan dan Sofia menoleh ke arah Melisa. Mereka segera menghampiri Melisa secara bersamaan. Sedangkan Kevin terlihat tenang karena mengira ini adalah bagian dari rencana Melisa.
"Kenapa sayang? Apa perutmu sakit?" Tanya Alan yang melihat Melisa memegangi perutnya.
"Sshhh.. Perutku kak, sakit sekali."
"Kita ke rumah sakit sekarang." Sofia segera mbantu Melisa berdiri. Betapa terkejutnya saat ia melihat ada darah di kursi yang di duduki Melisa. "Sayang, kau mengeluarkan darah?" Kata Sofia dengan panik.
Kevin yang tadinya terlihat tenang seketika ikut merasa panik.
Dengan cepat Alan mengendong Melisa dan membawanya ke rumah sakit.
"Kevin, siapkan mobil." Perintah Alan.
"Aku akan ikut ke rumah sakit." Sofia berlari mengejar Alan yang sudah berada di luar.
__ADS_1
Kevin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja jalanan tidak terlalu padat kendaraan, karena memang masih dalam masa libur sekolah.
Bersambung...