
Pagi ini, Melisa tak seperti biasanya.
Ia merasa sangat malas untuk pergi ke sekolah. Bahkan untuk sekedar bangun dari tempat tidur pun ia merasa enggan.
"Sayang, hei, bangun." Kevin mengusap lembut pipi Melisa.
"Hemmm." Jawab Melisa sambil menggeliat malas.
"Hei, bangun ah. Nanti kamu bisa terlambat ke sekolah."
"Emmmp. Hari ini aku malas sekali berangkat ke sekolah kak."
"Apa kau sakit?" Kevin menempelkan punggung tangannya di kening Melisa.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya lagi mager (malas gerak) saja."
"Tumben kau malas sekolah. Biasanya, meski sedang sakit sekalipun kau selalu memaksakan diri ke sekolah."
"Hehe, kali ini luar biasa." Jawab Melisa sambil terkekeh.
"Ya sudah kalau begitu bangun lalu sarapan."
"Nanti ihh," Sahutnya kesal.
"Sarapan dulu, kau harus sarapan dan minum obatmu." Menarik tubuh Melisa lalu menggendongnya ala bridal style, dan membawanya ke meja makan.
"Break fast dulu, minum obat. And after that, it's up to you what you want." Sambil menaruh nasi goreng ke piring Melisa.
"Pedes nggak nasgor nya? Tanya Melisa sambil mengerjapkan mata demi mengusir kantuk yang masih menggelayuti kelopak matanya.
"Without chilli. Sesuai seleramu." Jawab Kevin santai.
"Kak Kevin.."
"Hemm.."
"Kak Alan mana?"
"Sudah berangkat dari tadi."
"CEO berangkatnya sepagi ini? Tidak sekalian berangkat subuh saja? Jam segini mah cleaning service nya aja pasti belum berangkat." Gerutunya kesal.
"Dia jemput Sofia dulu, Kalau agak siangan keburu Sofianya berangkat duluan."
"Kan ada teknologi yang namanya Handphone. Bisa janjian dulu kali, biar kak Sofia nungguin. Ampun deh." Sungutnya berapi-api.
"Kau tau sendiri kan Sofia itu seperti apa. Mana mau dia menunggunya. Tapi sejauh yang ku lihat, sepertinya Sofia sudah mulai bisa membuka hatinya untuk kakakmu."
"Semoga mereka berjodoh. Kak Sofia itu pacar pertama kak Alan. Meskipun bukan cinta pertamanya."
"Benarkah? Aku tidak percaya orang seperti kak Alan belum pernah pacaran." Cibir Kevin.
"Aku berkata benar, banyak perempuan yang mendekati kak Alan, bahkan beberapa dari mereka ada yang to the poin menyatakan cinta. Tapi tetap saja tak ada yang berhasil memikat hatinya."
"Lalu, siapa cinta pertamanya yang kau ceritakan tadi?"
"Namanya Kania. Dia cinta pertama kak Alan. Mereka saling mencintai. Tapi sayangnya ia sudah meninggal karena sakit."
Kania adalah sosok gadis yang humble dan penuh kasih sayang. Penampilannya pun anggun dan elegan.
Delapan tahun silam, Alan dan Kania bertemu. Mereka kuliah di univesitas yang sama. Kedekatan mulai terjalin setelah satu tahun mereka berteman.
__ADS_1
Suatu ketika, Alan mengungkapkan cintanya kepada Kania di sebuah kapal Yacht. Ia sangat yakin Kania akan menerima cintanya.
Namun pemikirannya ternyata salah. Kania menolak cintanya mentah-mentah. Hubungan keduanya mulai renggang saat itu. Lebih tepatnya, Kania selalu menghindar dari Alan.
Sebulan kemudian terdengar kabar Kania meninggal.
Dari situlah Alan tau kenapa Kania menolak cintanya. Menurut penuturan sahabat dekat Kania, ia menolak Alan bukan karena ia tidak mencintainya. Melainkan karena ia menderita penyakit serius dan di vonis umurnya tak lama lagi. Dan ia tak mau membuat Alan terluka karena itu.
***
"Apa kau tidak kenyang. Sekotak black forest sudah tak tersisa lagi, sekarang masih mau minta salad buah." Cibir Kevin.
"Ya sudah kalau tidak mau membelikannya. Aku bisa pergi sendiri." Kini matanya sudah memanas, dan airmatanya keluar tanpa bisa di cegah. Akhir-akhir ini ia sangat emosional dan mudah sekali menangis karena hal sepele.
"Iya iya, tunggu di rumah, akan ku carikan salad buah yang paling enak. Tapi jangan nangis gitu ah, sejak kapan kau jadi cengeng begini." Menghapus air mata di pipi Melisa.
"Tuh kan, ngeledek."
"Bukan ngeledek, tapi itu fakta. Hahaha" Kevin justru terbahak melihat tingkah laku aneh Melisa.
"Aku ikut." Rengek Melisa
"Ayo. Dari pada nangis lagi kan."
Keduanya menuju Food courd mall terdekat mengunakan motor sport, sesuai permintaan Melisa.
"Biar lebih romantis". Begitu katanya.
Satu cup besar salad buah sudah di depan mata.
Eits..., bukan hanya itu. Beberapa camilam juga ikut nampang di atas meja.
Kevin hanya bisa mengernyitkan keningnya tanpa berkomentar apapun. Ia cari aman saja. Salah salah malah jadi ngambek lagi kan tuan putrinya.
Pertanyaan dari Kevin hanya di jawab dengan anggukan karena masih mengunyah makanan.
"Pulang yuk, aku ngantuk banget." Sambil menguap dan menutupinya dengan punggung tangan.
"Iya lah ngantuk, lambung bekerja sangat ekstra." Cibirnya pelan, namun ternyata terdengar oleh Melisa.
Bughhh....
Tangan mungil Melisa mendarat di bahu Kevin. Sepertinya akhir-akhir ini ia hobi sekali memukul Kevin jika sedang kesal seperti sekarang ini.
"Bisa tidak sih nggak usah ngatain aku terus." Dan lagi lagi matanya memanas, tapi tidak sampai mengeluarkan air mata.
"Maaf sayang, keceplosan. Kamu lagi dapet ya? Dari kemarin baperan terus." Pertanyaan Kevin membuat Melisa menyadari sesuatu.
"Harusnya sih sudah, tapi tumben nih telat. Telat dua minggu kayaknya." Jawab Melisa sedikit ragu.
"Apa?" Kevin kaget mendengar jawaban Melisa yang di luar dugaan.
"Kamu yakin sudah telat dua minggu? Tanyanya lagi untuk memastikan.
"Kayaknya sih."
"Apa jangan-jangan kamu..."
"Jangan-jangan kenapa kak? Tanya Melisa tidak mengerti.
"Ah, tidak. Ayo kita pulang." Kevin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia ingin memastikannya dulu sebelum berkata apapun kepada Melisa.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Melisa langsung bergegas ke kamar dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Hanya dalam hitungan menit ia sudah tertidur pulas, ditandai dengan dengkuran halus yang terdengar darinya.
Kevin menatap dalam-dalam wajah istrinya yang sudah berada di alam mimpi.
"Jika yang ku khawatirkan ini benar, aku tidak tau harus bahagia atau sedih. Maafkan aku sayang." Menyingkirkan anak rambut Melisa yang berantakan ke belakang telinga. Lalu mengecup keningnya cukup lama.
Setelah itu ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Melisa, sampai akhirnya ia juga terlelap.
Setelah cukup lama tertidur, Melisa merasa tubuhnya lebih rileks dan segar. Mood nya juga menjadi lebih baik saat ini.
Setelah nyawanya terkumpul penuh, ia baru menyadari jika Kevin ikut tertidur di sampingnya. Ia menatap wajah suaminya dengan perasaan bersalah. Ia sudah banyak merepotkannya beberapa hari ini.
Diliriknya jam yang berada tepat di samping tempat tidur. Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Sudah sore ternyata."
Ia berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ia meras ada yang aneh dalam dirinya saat memegang sikat gigi yang sudah ia aplikasikan dengan pasta gigi favoritnya. Kali ini ia sangat membenci aroma pasta gigi yang sebelumnya ia sukai. Aroma mint khas pasta gigi yang biasanya segar, kini justru membuatnya mual.
Ia beralih mengambil pasta gigi milik Kevin. Tapi lagi-lagi indra penciumannya menangkap aroma yang sama. Ia begitu membenci aroma mint saat ini.
Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk menggosok gigi tanpa pasta gigi. Dari pada tidak.
Setelah urusannya di kamar mandi selesai, ia masih mendapati Kevin tidur dengan pulas.
Ia beranjak menuju kamar Alan, jika tidak lembur biasanya jam segini kakaknya itu sudah pulang.
Tanpa mengetuk pintu, Melisa langsung menerobos kamar Alan.Dan benar saja, kakaknya sudah pulang dan kini tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Kangen." Ucap Melisa sambil memeluk kakaknya.
"Kangen gimana. Tiap hari ketemu juga."
"Biarin, yee." Jawab Melisa asal asalan.
"Kak, beliin pasta gigi yang rasa mixed berries dong."
"Emang ada pasta gigi yang seperti itu?" Menghentikan aktivitasnya mengeringkan rambut dan menoleh heran.
"Ada lah, tapi pasta gigi untuk anak-anak." Jawabnya sambil cengingiran.
"Beli pasta gigi anak-anak buat apa?"
"Ya buat gosok gigi lah. Masak iya di pakai buat keramas."
"Buat siapa maksudnya?" Mencubit gemas pipi Melisa.
"Buat aku lah kak. Aku tadi gosok gigi tanpa odol tau kak."
"Memangnya sudah habis, harusnya ada stok kan dirumah? Kenapa bisa sampai kehabisan seperti ini. Nanti biar kakak tegur bik Asri karena lalai mengurus keperluan kamu."
"Jangan!! bik Asri bekerja dengan baik kak. Dia selalu mengurusku dengan benar. Hanya saja aku tidak mau pakai pasta gigi aroma mint. Aku mual mencium baunya."
"Kenapa?"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu."
"Ya sudah nanti kakak suruh bibik beli pasta gigi yang kau inginkan. Sekalian biar belanja kebutuhan yang sudah habis."
"Tidak mau. Maunya di beliin kakak." Rengeknya dengan intonasi manja.
"Iya iya. Apa sih yang tidak untuk adik kesayangan kakak yang satu ini." Mengusap lembut ujung kepala adiknya."
__ADS_1
Bersambung...