
"Kenapa orang itu memukul ayah? Ada apa sebenarnya?" Sofia yang berusaha meluruskan permasalahan antara ayahnya dan seseorang yang entah siapa, tentu harus mengetahui terlebih dulu pokok permasalahan yang membuat ayahnya dihadiahi sebuah pukulan, hingga membuatnya babak belur.
Tapi apapun permasalahannya, ia merasa bahwa ini tidaklah benar, tidak seharusnya orang itu memukul ayahnya.
"Mungkin orang itu marah, karena ayah tidak jadi membeli pakaian yang ia jual." Hendra menjelaskan duduk persoalan kepada Sofia.
"Ayah anda ini menyentuh semua pakaian mahal kami nona. kalau sampai rusak, memangnya bisa ganti semuanya?"
"Tapi tidak ada yang rusak kan? Lalu kenapa anda memukul ayah saya? Lagi pula, kalau memilih baju pasti akan disentuh dan di coba dulu kan? Dan jika tidak ada yang cocok apa anda akan memaksa untuk membeli setiap barang yang telah di sentuh?" ucap Sofia yang kesal, namun berusaha tetap tenang.
"Apa kau tau sedang berurusan dengan siapa?" Kali ini Alan yang angkat bicara, sembari menggenggam kuat-kuat pundak pemilik toko itu, hingga membuatnya meringis kesakitan.
"Kalau kau belum tau, baiklah, aku akan memperkenalkan diri. Kenalkan, namaku Alan Yong ju. Pemilik pulau yang sedang menjadi tempatmu berpijak saat ini. Dan orang yang kau pukul itu.." Menunjuk Hendra yang tepat berada di sampingnya. "Dia adalah calon mertuaku." Imbuhnya lagi.
Setelah mendengar ucapan Alan, sontak membuat pemilik toko baju itu terkejut. Ia mendekat dan bersimpuh tepat di hadapan Alan, bermaksud meminta pengampunan agar persoalan tidak semakin runyam.
"Maafkan atas kebodohan yang saya lakukan tuan. Maaf juga karena tidak mengenali anda."
Alan masih tak bergeming.
"Tolong maafkan saya tuan. Apakah tuan mau memaafkan saya?" Sekali lagi dia berucap, bahkan kali ini ia merengkuh kaki Alan dan memeluknya erat-erat.
"Singkirkan tangan kotormu itu. Kau sudah mengotori tanganmu dengan menyentuh keluargaku. Sini aku bantu bersihkan."
Diraihnya tangan pemilik toko itu, lalu Alan memutarnya kebelakang dengan satu hentakan. Membuatnya mengaduh dengan begitu keras.
"Auhhhh. Ampuni saya tuan. Tolong ampuni saya."
"Kakak, lepaskan." Teriak Melisa yang baru saja datang. Ia melihat ada kerumunan dan kegaduhan yang menyita perhatiannya. Dan betapa terkejutnya dia, saat melihat kakaknya sedang berlaku kasar terhadap seseorang.
Alan melepaskan orang itu ketika menyadari keberadaan Melisa.
Ia tidak ingin Melisa melihat kekerasan yang ia lakukan.
Setelah itu, dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Cepat kemari. Ada yang harus kau bereskan." Begitu ucapnya kepada seseorang.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengurus orang ini, aku pastikan dia mendapat hukuman setimpal." Alan meyakinkan Sofia, bahwa orang yang memperlakukan ayahnya dengan kasar itu, akan mendapat balasan setimpal.
Sementa Sofia hanya membalas dengan senyum dan sebuah anggukan.
***
"Hhh.. lelah sekali."
Setelah melewati liburan yang begitu menguras energi, tapi begitu menyenangkan, Melisa menjatuhkan diri di atas tempat tidurnya.
Sambil memandangi langi-langit kamarnya, pikirannya kembali mengingat kejadian di bath up bersama Kevin saat di vila kemarin.
Penyatuan cinta yang begitu memabukkan. Membuatnya menginginkan lagi dan lagi.
Please Melisa. What do you think?
Stop it!
__ADS_1
"Hei, senyam senyum." Ucapan Kevin membuyarkan lamunannya.
Entah sejak kapan Kevin ikut merebahkan diri di sampingnya. Dan betapa malunya Melisa jika Kevin tau apa yang ada di dalam pikirannya saat ini
"Aishh, kakak bikin kaget saja. Siapa juga yang melamun?"
"Pasti mikirin yang iya iya. Hahaha." Goda Kevin.
Bughh...
Reflek Melisa menghadiahi Kevin dengan tinju, tepat mengenai lengan kirinya.
Wajahnya kini sudah merah padam karena Kevin bisa menebak pikirannya.
"Mau lagi neng?" Goda Kevin sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Kak Alan... Kak Kevin sedang berusaha menggodaku." Teriak Melisa yang tak begitu jelas, karena tangan kokoh Kevin membungkamnya.
"Ampun neng. Jangan laporan ke pak jendral ah." Seloroh Kevin, hingga membuat keduanya tertawa secara bersamaan.
"Mel."
"Ya?" Melisa menoleh ke arah Kevin karena nada bicaranya berubah serius.
"Maafkan aku." Mengusap-usap lembut pipi Melisa.
"It's okay." Melisa menarik senyum ramah. Mengisyaratkan bahwa dia baik baik saja.
"Ngomong-ngomong, apa yang di lakukan kakakmu kepada orang yang sudah memukul ayahnya Sofia kemarin? " Hal itu terlintas kembali di ingatan Kevin
"Benarkah? Itu artinya kakakmu akan menghabisiku jika tau apa yang sudah ku lakukan kepadamu." Kevin tersenyum getir.
"Bukan kak Kevin saja yang melakukannya. Tapi aku juga." Jawaban Melisa meneduhkan hati Kevin.
Obrolan yang semula canda tawa dan hal remeh temeh berubah menjadi lebih intens. Membuat keduanya hanyut dalam perasaan masing-masing dan tengelam dalam gairah cinta yang memabukkan.
Dan lagi.
Keduanya menyatu dalam diam. Hanya suara asing yang sesekali keluar ketika keduanya terbang ke awang-awang.
***
Hari terus berganti.
Di tahun yang baru, tentu banyak harapan yang ingin di raih dalam kehidupan setiap orang.
Seperti halnya Melisa.
Di tahun ini ia berharap bisa lulus ujian akhir nasional yang akan di selenggarakan beberapa bulan lagi.
Ia mulai menyibukkan diri dengan mengikuti pelajaran tambahan dari sekolah, maupun dari tempat bimmbel yang ia ikuti.
"Pagi sayang." Sapa Alan di meja makan.
"Pagi juga." Jawab Melisa dengan senyum merekah.
__ADS_1
Sayang, kau terlihat pucat. Apa kau baik-baik saja? Alan sedikit panik karena mendapati wajah adiknya terlihat kurang sehat.
"Aku baik-baik saja kak. Mungkin karena terlalu sibuk belajar sampai kurang tidur."
"Jaga kesehatanmu. Kakak akhir-akhir ini sangat sibuk sampai tidak bisa memperhatikanmu." Ucap Alan penuh penyesalan.
"Aku tidak apa apa kak. Ada kak Kevin yang menjagaku dengan baik. Tersenyum penuh kasih sayang.
"Di mana dia? "
"Kak Kevin sedang keluar, cari buah durian. Aku kepingin banget makan durian." Jawabnya penuh antusias.
Alan mengernyitkan dahi. Sejak kapan Melisa menyukai durian?
"Kau tidak salah? Seingat kakak, kau paling tidak suka dengan buah durian."
"Entahlah, mungkin karena lihat di televisi tadi. Kelihatannya orang itu lahap sekali makan durian. Aku jadi pengen." Sambil membayangkan sekaligus tidak sabar untuk segera menyantap buah yang di juluki sebagai raja buah itu.
"Kau ini ada-ada saja. Sepagi ini siapa yang menjual buah durian?" tanya Alan dengan heran.
Tak lama kemudian. Kevin datang dengan membawa durian kupas dan durian yang masih utuh dengan kulitnya.
"Woahh, dapat kak duriannya." Melisa melompat kegirangan seperti bocah yang dibelikan mainan.
"Dapat dong, tadi cari di pasar tradisional yang ada di perbatasan kota dan perkampungan sana. Nggak susah sih dapetnya. Soalnya lagi musim. Tapi ya itu tadi, aku harus menunggu satu jam dulu, sampai toko buahnya buka."
"Memangnya kau berangkat pukul berapa." Sahut Alan.
"Dari rumah setengah lima pagi."
"Mau di makan sekarang buah duriannya?"
"Iya dong, sudah lama nunggu juga."
Melisa melahap buah durian dengan hati berbunga bunga. Tapi entah mengapa, baru satu gigitan saja ia sudah tidak mau memakannya lagi.
"Tidak enak kak." Meletakkan kembali durian kupas ke atas meja makan.
"Sini aku coba." Kevin mencicipi duriannya dan melayangkan protes kepada Melisa.
"Ini enak sayang. Coba lagi deh." Menyodorkan durian ke mulut Melisa bermaksud menyuapinya.
Melisa pun menurut dan membuka mulutnya.
"Enak kak. Lagi dong."
Satu suapan kembali di berikan Kevin kepada Melisa.
"Tadi beneran tidak enak kak. Tapi setelah kakak yang menyuapi, rasanya jadi enak." Melisa Terkekeh karena berhasil mengerjai Kevin.
"Kau ini benar-benar ya."
Sedangkan Alan hanya diam menyantap sepotong omelet di depannya, sambil geleng-geleng kepala.
Bersambung...
__ADS_1