
Di sinilah Melisa berada. Di sebuah ruangan terlihat seorang dokter perempuan tengah mengaplikasikan gel diatas perut Melisa, lalu menaruh alat USG dan menggerakkannya ke seluruh bagian perut Melisa.
"Semuanya terlihat bagus. Kandungannya sehat. Usianya sudah hampir empat minggu." Dokter menerangkan dengan detail kondisi kehamilan Melisa.
"Bagaimana dengan obat-obatan yang selama ini di konsumsi adik saya dok? Apakah akan berdampak pada janinnya?" Inilah hal yang paling ditakutkan Alan saat ini.
"Itu tidak bagus karena akan mempengaruhi kesehatan janin. Saran saya, bicarakan dengan dokter spesialis jantung yang menangani nona Melisa. Kemungkinan dia akan mengganti obat adik anda dengan obat yang lebih aman untuk ibu hamil. Atau bisa jadi harus stop sementara semua obat yang dikonsumsi. Tapi jelas ada resiko yang harus diambil."
Penuturan dari dokter justru membuatnya semakin tidak tenang. Apa maksud dari 'resiko yang harus di ambil'? Apa itu artinya Melisa sedang bertaruh nyawa demi kehamilannya?
Sedangkan saat ini, Kevin tak mampu berkata apapun. Perasaannya saat ini begitu sulit di realisasikan dalam bentuk kata-kata.
Ia hanya diam dan memeluk erat-erat Melisa.
"Jangan khawatirkan aku. Semua baik-baik saja." Ucap Melisa berusaha menenangkan Kakak dan suaminya yang terlihat begitu mencemaskannya.
"Aku sudah stop obat-obatan sejak mengetahui bahwa aku sedang hamil. Diam diam aku membuangnya saat kak Kevin memberiku obat. Dan lihatlah, aku baik-baik saja tanpa semua obat itu." Imbuhnya lagi.
Sebuah kehidupan baru sedang tumbuh dan berkembang di rahimnya. Ia akan menjadi seorang ibu. Ini adalah anugrah terindah di sepanjang hidupnya.
"Sekarang kita temui dokter Juna." Ucap Alan.
Dokter Juna adalah dokter spesialis jantung yang menangani Melisa selama beberapa tahun terakhir. Sebelumnya dokter Harun lah yang menangani Melisa. Tapi sejak beliau wafat akibat sebuah kecelakaan, dokter Juna menggantikannya dengan baik. Dia memang masih muda, tapi kemampuannya menangani pasien tak kalah bagusnya dengan dokter yang sudah senior dan memiliki banyak jam terbang.
"Besok saja kak bertemu dokter Juna nya. Aku lelah sekali." Melisa sudah mulai kelelahan karena memang sejak pagi dia joging lumayan lama, sampai akirnya mengalami kram perut. Untung saja kandungannya baik-baik saja.
Begitu banyak hal yang membuat seorang Alan Yong ju begitu sibuk sampai-sampai dia tidak terlalu menyadari perubahan-perubahan yang di alami Melisa. Mulai dari mood yang sering berubah, menjadi gadis yang manja, banyak maunya dan jika tidak dituruti auto ngambek. Lebih banyak makan, bahkan dalam sehari bisa sampai enam kali.
Sungguh sangat bertolak belakang dengan Melisa yang dulu.
Sesampainya di rumah, mereka mendapatkan kejutan besar.
Seorang perempuan paruh baya, namun tetap terlihat modis, tengah duduk dan menikmati secangkir teh jahe dengan gaya yang begitu elegan.
"Panjang umur. Baru tadi pagi dibicarakan." Ucap Melisa kepda kakaknya.
Sedangkan Alan hanya bersikap acuh.
Mau apa dia kemari?
__ADS_1
"Mama Evelyn? Apa kabar ma?" Sapa Melisa kepada ibu tirinya.
"Baik."
Seperti biasa, Sikapnya kepada Melisa masih sama seperti dulu. Dingin, seperti gunung es.
"Apa yang membuat Mama sampai harus repot-repot datang kemari? Tanya Alan dengan suara Datar.
"Mama ingin lihat keadaanmu. Sudah lama kan mama tidak menjengukmu?"
"Ternyata masih ingat punnya anak laki-laki disini? Aku saja sampai lupa kalau aku masih punya ibu." Berlalu meninggalkan Mamanya yang belum selesai bicara.
"Mama, maafkan kak Alan ya." Dan lagi-lagi ucapan Melisa hanya di anggap angin lalu oleh Evelyn.
"Sayang, masuklah ke kamarmu. Kau butuh istirahat." Pinta Kevin kepada Melisa.
"Baik kak."
Kevin menyusul Melisa yang sedang berjalan menuju kamar. Tapi sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk mengatakan sesuatu kepada Evelyn.
"Selamat datang nyonya. Jika anda belum tau, saya adalah Kevin. Suami Melisa. Sebaiknya anda bersikap lebih baik kepada Anak-anak anda, dan hargailah mereka jika memang anda ingin dihargai."
Evelyn tak menggubris apa yang di katakan Kevin. Ia justru beranjak pergi menuju kamar Alan dan melancarkan tujuannya.
"Alan, suka tidak suka, mau tidak mau, mama tetap ibu kandungmu. Dan masih menjadi istri sah Ayahmu. Jadi mama masih memiliki hak atas rumah ini. Mama akan tinggal disini."
"Terserah apa yang mama inginkan. Tapi satu hal, jangan pernah mengusik kebahahiaan Melisa."
"Tidak akan, Karena itu tidak penting bagiku."
"Dan jangan campuri urusanku." Tegas Alan lagi.
"Mama akan selalu ikut campur apapun yang bersangkutan dengan anak-anak mama." Berlu meninggalkan kamar Alan tanpa menutup pintu kembali.
Di kamarnya, Melisa yang sejak pulang dari dokter kandungan merasakan kantuk dan lelah. Tapi kini sirna karena pikirannya di gelayuti hal-hal tentang mama Evelin. Hal yang paling ia takutkan adalah, mama tirinya itu akan mengusik hubungan Alan dan Sofia. Mengingat seperti apa watak mama Evelyn, yang memandang segala sesuatu dari derajat dan materi. Ia takut kakaknya kembali terluka. Setelah sekian lama, ia bisa melihat kebahagiaan di mata Alan berkat kehadiran Sofia dalam kehidupannya.
"Tidur." Kevin yang sudah memejamkan mata, ternyata masih terjaga karena pergerakan yang di buat Melisa."
"Kak Kevin belum tidur?"
__ADS_1
"Kamu dari tadi guling ke kiri guling ke kanan. Tempat tidur berasa seperti perahu di terjang ombak." Candaannya berbuah cubitan maut dari Melisa.
"Kakak ihh.."
"Kenapa tidak tidur? Jangan banyak pikiran." Kevin membelai lembut pipi Melisa.
"Iya iya aku tidur. Tapi peluk." Pinta Melisa dengan manja.
"Sini sini tuan putri mau di peluk ya."
Keduanya telelap seiring berjalannya malam. Mungkin saat ini sudah tenggelam ke dalam mimpi masing-masing.
Sedangkan di dalam kamar Alan, lampu masih menyala terang. Menandakan jika si empunya belum tidur.
Apalagi memangnya, tentu saja Melisa yang menjadi alasan kenapa ia masih enggan terpejam saat ini. Bahkan waktu bergulir semakin larut, bahkan sudah hampir pagi.
Apa yang ia takutkan? Keselamatan Melisa tentunya. Ia akan melakukan apapun agar adik kesayangannya itu tetap baik-baik saja.
Hingga pagi menjelang. Ia baru bisa terlelap. Mungkin karena lelah dan terlalu banyak hal yang harus di pikirkan. Apalagi kehadiran mama Evelin, tentu saja ada maunya. Entah apa itu. Tapi yang pasti, mamanya itu akan mempersulit kehidupannya. Belum lagi soal niatnya untuk melamar Sofia. Dan seabrek masalah kantor yang harus dia urus. Semua itu benar-benar menguras energinya.
Sinar mentari mulai memasuki celah-celah tirai yang menutupi pintu kaca di kamar Melisa. Tiba saja ia merasakan mual, lalu setengah berlari menuju kamar mandi.
"Hoekk... hoekkk.."
Kevin yang merasakan guncangan di tempat tidurpun terbangun, karena Melisa beranjak ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Sayang, kenapa?" Sambil memijit tengkuk Melisa, berharap yang ia lakukan membuat Melisa merasa lebih baik.
"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Kevin saat Melisa sudah tidak mual-mual lagi.
Melisa menjawab dengan anggukan. Kevin membasuh wajah Melisa dan mengelapnya dengan handuk kecil.
"Ini wajar bagi perempuan yang sedang hamil muda kak. Morning sickness." Melisa berusaha menenangkan Kevin yang terlihat begitu mengkhawatirkannya.
"Iya, aku tau. Tapi tetap saja aku tidak tega melihatmu seperti ini." Mengecup ujung kepala Melisa.
"Mau breakfast di meja makan atau kakak bawakan saja ke kamar?
"Tidak kak, nanti saja. Perutku masih belum nyaman untuk makan sesuatu."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu aku buatkan air jahe ya, biar enakan perutnya." Ucapan Kevin hanya dijawab anggukan oleh Melisa.
Bersambung...