Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 46 (Jadian)


__ADS_3

"Apa ini nyonya?" Tanya Sofia dengan tegas.


"Jumlahnya 500 juta. Ambil uang ini dan jauhi anak saya." Evelin menyodorkan koper itu ke hadapan Sofia.


"Pergi dari sini dan bawa uang anda nyonya." Hanum berbicara dengan tegas dan lantang.


Evelyn tersenyum sinis. Ia mengambil lembaran cek kosong dan meletakkannya di atas meja.


"Tulis berapapun yang kalian inginkan jika ternyata uang yang saya bawa ini kurang banyak. Ternyata uang sebanyak ini belum membuat kalian puas."


Brakkkk....


"Pergi dari sini sebelum ku robek mulut anda. Bawa juga semua uang ini. Kami tidak butuh." Hanum menggebrak meja di depannya dan mulai hilang kendali. Ia tidak terima harga diri keluarganya di injak-injak.


"Baiklah jika kalian menolak uang ini. Tapi tidak akan saya biarkan kalian menguasai anak saya dan hartanya." Evelyn beranjak pergi meninggalkan ruangan itu, tapi tiba tiba saja sesuatu mendarat di punggungnya cukup keras.


Bughhh...


Hanum melempar sendal jepit lusuhnya ke arah punggung Evelyn dan mendarat sempurna di sana.


"Berani beraninya kau." Geram Evelyn.


"Pergi dari sini sebelum benda yang lain ikut mendarat ke tubuh anda. Anda tidak perlu khawatir. Setelah ini Sofia tidak akan berhubungan lagi dengan Alan, karena aku tidak sudi memiliki besan yang tidak waras seperti anda."Teriak Hanum dengan tangan yang memegang vas bunga dan menengadahkannya ke atas.


"Ibu sudah, jangan kotori tanganmu karena wanita rendah akhlak seperti dia." Ayah Sofia merebut vas bunga dari tangan istrinya dan mencoba menenangkannya.


Evelyn pergi dengan penuh emosi. Tapi setidaknya ia yakin bahwa setelah ini hubungan Sofia dengan anaknya akan segera berakhir.


Hanum menangis sejadi jadinya. Hatinya begitu terluka dengan apa yang baru saja terjadi.


Sebelumnya ia sangat bahagia ada laki-laki kaya yang melamar anaknya. Karena dengan begitu kehidupan anaknya akan terjamin dan tidak akan menderita seperti dirinya. Tapi ternyata ia salah, karena justru hinaan lah yang mereka dapat.


"Sudah bu, jangan seperti ini." Sofia memeluk ibunya yang sedari tadi menangis.


"Jangan lanjutkan hubungan kalian" Ucap Hendra dengan mata sayu.


"Tapi ayah, aku sudah terlanjur mencintainya. Kami saling mencintai. Beri kami kesempatan untuk mencari jalan keluar dari masalah ini."


"Apa hinaan ini kurang bagimu nak? bukan hanya ibu dan ayah yang dia injak-injak. Tapi kau juga nak. Pikirkan dengan jernih. Dan yang melakukan ini adalah ibu kandung Alan bukan? Jadi sudah jelas kalian harus mengakhiri semua ini. Batalkan pertunangan kalian, dan jangan bekerja lagi di perusahaan miliknya." Hanum berkata dengan bibir bergetar. Ia berada dalam pilihan yang sulit.


Keesokan harinya Sofia mendatangi Perusahaan Yong ju Group pusat. Tapi kali ini bukan untuk bekerja seperti biasanya, melainkan untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Dan ia menyerahkan langsung kepada Alan.


"Bagus. Memang aku berencana untuk menyuruhmu berhenti kerja setelah kita menikah. Tugasmu hanya dirumah dan menjadi istri yang baik. Ucap Alan saat membaca surat pengunduran diri dari Sofia"


"Aku berhenti bukan karena itu. Dan maaf, sepertinya kita harus membatalkan rencana pertunangan ini."


"Apa? Bercandamu keterlaluan Sofia!" Alan menghancurkan surat pengunduran diri dari Sofia di genggamannya.


"Aku tidak sedang bercanda Alan, kemarin ibumu datang kerumah. Dia menawari kami uang dengan syarat aku harus mengakhiri hubungan kita. Itu membuat kami sangat terluka Alan. Tolong mengerti posisi kami. Aku harus pergi. I love you, so much."


Sofia berlalu pergi dan meneteskan air mata di sepanjang perjalanannya. Sedangkan Alan masih terpaku di tempat duduknya saat ini. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah pulang dan membuat perhitungan dengan ibunya.


Alan mengumpat sepanjang perjalanan pulang. Ia tidak tau apa yang akan ia lakukan jika bertemu dengan ibunya nanti.


Sesampainya di rumah, ia berteriak kepada Amora yang tidak tau apa-apa.


"DI MANA IBUMU?"


"Mama di kamar kak. Ada apa?"

__ADS_1


Alan segera menuju kamar Evelyn tanpa menjawab pertanyaan dari Amora.


Ia membuka pintu kamar dengan keras. "Nyonya Evelyn! Aku akan membuat perhitungan denganmu." Bahkan Alan mulai enggan menyebut mama kepada Evelyn.


"Apa yang sudah kau lakukan dengan Sofia dan keluarganya?" Imbuhnya lagi.


"Mama hanya menawari mereka uang. Kau harus sadar bahwa yang mereka inginkan hanya uangmu. Kau harusnya berterimakasih karena mama menyelamatkanmu dari mereka."


"Tidak semua orang seperti anda, yang hanya memikirkan uang saja. Kau menikahi Ayahku karena uang. Dan setelah kau mendapatkannya, kau pergi dengan laki-laki brengsek itu. Dan lihatlah, kau kembali setelah uangmu habis karena laki-laki itu menipumu. Bagus sekali nyonya Evelyn."


"Cukup Alan! Kau jangan kurang ajar dengan mama."


"Aku tidak akan kurang ajar jika anda tidak memulainya."


Alan berlalu pergi setelah merasa hampir kehilangan kendali. Ia takut akan lepas kendali dan memukul ibu kandungnya sendiri. Dalam hati kecilnya, betapa ia sangat mencintai orang yang sudah melahirkannya itu.


Amora melihat semua itu. Ia sangat terluka melihat mamanya bertengkar dengan sang kakak. Dan ia juga sangat sedih ketika Alan menyebut ayahnya laki-laki brengsek. Ia pergi begitu saja tanpa ada tujuan. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa peduli resikonya.


Hingga akhirnya ia menghentikan mobilnya di sebuah taman kecil di depan pertokoan. Lama ia berada di sana. Tak ada yang ia lakukan selain menangis dan sesekali menyeka air matanya.


Tanpa ia sadari hari sudah mulai sore. Air mata yang sejak tadi mengalir kini mulai mengering. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


Saat berjalan, tiba-tiba saja tubuhnya menabrak seseorang yang sedang berjalan terburu-buru.


"Maaf nona, aku tidak sengaja. Aku buru-buru tadi." Orang yang bertabrakan dengan Amora segera mengulurkan tangannya karena Amora sampai tersugkur di tanah. Ia merasa bersalah dan berniat membantunya untuk berdiri.


"Tidak, Aku yang tidak melihat jalanan tadi." Amora segera bangkit dan menerima uluran tangannya.


Dan betapa terkejutnya Amora saat melihat ternyata Aldo lah yang baru saja bertabrakan dengannya.


"Kau?"


"I'm fine. Kau kenapa bisa ada di sini?"


"Harusnya aku yang bertanya kenapa kau bisa di sini. Aku kerja part time di bengkel itu." Aldo menunjuk sebuah bengkel di seberang jalan yang berada di antara pertokoan.


"Oh." Jawab Amora singkat, sambil berusaha menyembunyikan wajahnya yang entah bagaimana wujudnya sekarang.


"Kau menangis?"


"Tidak."


"Jangan bohong. Kau menangis dan itu membuat make up mu berantakan sekali." Aldo tersenyum saat melihat reaksi Amora yang langsung menyalakan kamera ponsel untuk melihat wajahnya.


"Astaga. I like zombie." Amora terkejut melihat wajahnya. Terlihat maskara dan eyeliner di area matanya luntur dan tak berbentuk lagi. "Boleh aku numpang ke toilet tempat kerjamu? Aku ingin mencuci wajahku."


"Tentu saja, Ayo ku antar." Aldo menarik tangan Amora dan membawanya ke bengkel tempatnya bekerja.


"Sweettt swettt... Gebetan baru ya Al."


"Cie.. cie.. Nemu bidadari dari mana lo."


Goda teman-teman Aldo yang sedang memperhatikan tangan Aldo dan Amora yang saling bertautan.


Aldo hanya tersenyum dan berlalu menuju ruangan paling belakang yang merupakan toilet fasilitas dari bengkel. Sedangkan Amora, ia berjalan menunduk mengikuti langkah Aldo sambil berusaha menutupi wajahnya dengan rambutnya.


Setelah selesai membersihkan wajahnya, Amora keluar dengan tampilan berbeda. Rambutnya di ikat sembarang dan wajahnya tampak lebih cantik natural tanpa riasan mata yang menjadi cirikhasnya selama ini.


"Hei." Panggil Amora saat mendapati Aldo diam terpaku menatap dirinya.

__ADS_1


"Ah, iya. Sudah selesai?" Tanya Aldo gugup.


"Hmm." Jawab Amra lirih.


"Aku antar pulang ya? Kau terlihat kacau."


"Tidak usah, lagipula kau kan sedang bekerja." Tolak Amora karena tidak enak hati mengganggu pekerjaan Aldo.


"Tidak masalah, aku bisa izin sebentar."


"Bro, nanti kalau bos nanyain gue, bilang gue izin bentar. Paling cuma sejam." Pamit Aldo kepada salah satu teman keejanya.


"Oke bro, hati-hati bawa anak gadis orang. Jangan sampai lecet." Canda salah satu teman Aldo.


Mereka pun berlalu meninggalkan bengkel dan menuju tempat tinggal Amora menggunakan mobil Amora.


"Aku tidak keberatan mendengarkan keluh kesahmu." Ucap Aldo membuyarkan keheningan di antara mereka.


"Terimakasih. Tapi sepertinya tidak ada yang harus ku ceritakan padamu." Amora tidak ingin masalah keluarganya di ketahui siapapun, karena ia menganggap bahwa ini adalah aib keluarga yang seharusnya tidak di ceritakan kepada orang luar.


"Baiklah kalau begitu. By the way kau tinggal di tempat yang sama kan demgan Melisa?"


"Ya, kau sudah pernah ke sana?"


"Dulu sering." Jawab Aldo dengan senyum getir.


"Saat klian masih bersahabat?"


Aldo menoleh ke arah Amora. "Kau tau cerita kami?"


"Ya, Melisa tidak pernah menyembunyikan apapun kepadaku. Apa kau tau, sebenarnya kita ini senasib."


"Maksudnya?"


"Kita sama-sama mencintai orang yang ternyata sudah memiliki ikatan. Kau mencintai Melisa dan aku mencintai Kevin, suami Melisa."


"Apa kau sudah gila? Melisa itu saudaramu sendiri, seharusnya kau bisa mengendalikan perasaanmu agar tidak semakin dalam dan membuat Melisa terluka pada akhirnya."


"Tidak sesimpel itu Al. Aku sudah terlalu dalam mencintai Kevin sejak SMA, jauh sebelum Kevin menikah. Dan pada akhirnya takdir mempertemukan kami kembali sebagai saudara ipar. Ini sangat tidak mudah bagiku." Amora menghembuskan nafas panjang. Ia masih belum bisa move on meski sudah berusaha keras.


"Ya, kau benar. Ini sangat tidak mudah." Aldo pun merasakan hal yang sama.


"Bagaimana jika kita saling membantu untuk melupakan perasaan itu?" Tawar Amora penuh antusias.


"Caranya?"


"Kita pacaran. Akan lebih mudah melupakan jika ada seseorang yang perlahan masuk dan mengikis perasaan cinta yang salah ini." Amora begitu to the point menembak Aldo."


"Astaga, kau sedang menembakku? Kau menginggatkanku pada seseorang." Aldo menggeleng gelengkan kepala.


"Enak saja, Aku tidak seperti Chika tau. Aku lebih terhormat karena tidak akan pernah bertindak kriminal demi berpacaran denganmu." Sahut Amora dengan kesal.


"Kau tau itu juga?"


"Ya, Sudah ku bilang kan jika Melisa tidak pernah menyembunyikan apapun dariku. Jadi bagaimana? Apa kau setuju jika kita mencoba menjalin hubungan?"


"Baiklah, kita coba. Tapi jika gagal, aku harap kau tidak patah hati."


"Kau tenang saja. Aku akan membuatmu bucin dan tergila gila padaku." Ucap Amora dengan pedenya."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2