Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 40 (Back to Shool)


__ADS_3

Semua siswa begitu antusias menyambut kedatangan Melisa di sekolah. Jujur ia merasa sangat terharu karena begitu banyak teman yang merindukannya.


"Melisa, selama kamu tidak masuk, pangeran kamu terlihat tidak bersemangat untuk ke sekolah. Do'i jadi sering mampir ke ruang BK karena terlambat akir-akhir ini." Goda seorang siswa yang lumayan dekat dengan Aldo. Dia adalah Nathan.


"Aku? Melisa bingung harus menanggapi apa, karena tidak ada hubungan spesial diantara mereka selain persahabatan.


Akhirnya Melisa hanya tersenyum dan menarik Aldo pergi dari sana.


"Cie cie... yang lagi mau kangen kangenan." Teriak siswa itu lagi.


Melisa tertawa mendengar ucapan Nathan. Ia merasa lucu saja, karena mereka selalu mengira ada hubungan spesial di antara dirinya dengan Aldo.


"Apa ada yang lucu?"


Pertanyaan Aldo membuat Melisa menghentikan tawanya.


"Apakah seandainya yang di ucpkan Nathan itu benar, terlihat lucu dimatamu?" Kini raut wajah Aldo berubah menjadi serius.


"Ya, aku memang Menyukaimu lebih dari sekedar sahabat sejak dulu. Dan Nathan tau itu." Imbuhnya lagi.


"What?" Melisa begitu terkejut mendengar pengakuan dari Aldo. "Jadi selama ini kamu-," Bahkan Melisa tak kuasa melanjutkan kalimatnya.


Beberapa saat kemudian, Aldo meraih kedua tangan Melisa dan menggenggamnya.


"Dengan segala kekuranganku, aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu, Melisa Yong ju."


Melisa menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak, ini tidak mungkin. Kau hanya bercanda kan?" Melisa masih mengira bahwa Aldo sedang bercanda, mengingat sahabatnya itu sering melakukan candaan candaan konyol. Tapi mungkinkah ia bercanda tentang hal seperti ini?


"Al, please. Jangan seperti ini. Berhentilah bercanda tentang hal sensitive seperti ini."


"Aku tidak sedang bercanda." Sekali lagi Aldo menegaskan bahwa ia benar-benar serius kali ini.


"I'm so sorry, aku tidak bisa." Melisa melepaskan genggaman tangan Aldo dan mundur beberapa langkah.


"Kenapa? Apa karena derajat dan status sosial kita yang bagaikan bumi dan langit?"

__ADS_1


"Al, please. Bukan begitu. Mengertilah bahwa perasaan cinta itu tidak bisa di paksakan. Dan maaf, aku menyayangimu sebagai sahabat. Tidak lebih dari itu."


"Please, beri aku kesempatan untuk membuatmu merasakan hal yang sama. Satu bulan. Beri aku waktu satu bulan. Dan jika dalam sebulan kau masih tidak bisa mencintaiku, maka aku akan merelakanmu."


Entah ide gila apa yang sedang ia sampaikan kepada Melisa saat ini. Tapi yang jelas, dalam waktu tiga tahun ini membuatnya merasakan cinta yang teramat dalam kepada perempuan berparas ayu di depannya ini. Dan ia tak ingin melepaskannya begitu saja.


"Al, aku tidak bisa. Maaf."


"Tolong beri aku penjelasan, kenapa kau menutup diri. Bahkan sedikitpun kau tidak mau memberi kesempatan."


"Aku tidak bisa memberi tau alasannya."


"Katakan saja, jika memang karena aku ini miskin dan tidak selevel denganmu. Aku tidak akan memintamu memberi kesempatan, karena sudah pasti aku tidak bisa memantaskan diri untukmu."


"Cukup Al, aku pikir kau sangat mengenalku. Ternyata aku salah. Kau sama sekali tidak mengenalku. Bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu." Melisa sangat kecewa dengan apa yang dikatakan Aldo. Sedangkan ia sedikitpun tak pernah memandang derajat seseorang dari materi.


"Lalu alasan apa yang lebih masuk akal dari itu?"


"Aku sudah menikah." Mata Aldo seketika membulat mendengar pernyataan dari Melisa.


"Terserah kau percaya atau tidak. Yang jelas, aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku. Dan perlu kau tau, saat ini aku sedang hamil."


Aldo semakin shock mendengar semua yang di ucapkan Melisa. Ia hanya terpaku saat Melisa berlalu pergi entah ke arah mana.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang tidak sengaja mendengar saat Melisa mengatakan bahwa dirinya sedang hamil.


Karena yang ia dengar hanya kalimat 'Saat ini aku sedang hamil', ia menyimpulkan sendiri bahwa Melisa hamil diluar nikah dan orang yang menghamilinya adalah Aldo.


Tentu saja berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Apalagi jika beritanya mengenai aib seseorang, tentu akan lebih cepat menyebar. Dari kelas sepuluh sampai kelas duabelas, gosip itu menjadi trending topik yang selalu mereka bahas.


***


Melisa berjalan gontai ke kamarnya. Ia masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Persahabatannya dengan Aldo yang terjalin selama tiga tahun harus kandas begitu saja. Entah siapa yang bersalah dalam hal ini. Tapi mencintai seseorang bukan hal yang salah kan? Bukankah cinta hadir tanpa di rencanakan?


Harusnya dari awal aku memberi tau Aldo jika aku sudah menikah agar dia tidak berharap lebih dariku. Tapi mana aku tau jika ternyata selama ini Aldo menaruh perasaan kepadaku?


"Aaaarrgggghhh.."

__ADS_1


Melisa semakin frustasi mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, saat sahabatnya itu mengutarakan isi hatinya.


"Kau kenapa?" Amora yang melihat Melisa tampak tidak seperti biasanya mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Tidak ada apa-apa." Melisa menampilkan senyum yang sedikit ia paksakan.


"Jangan bohong, aku tau kau sedang ada masalah. Ceritakan apa masalahmu..Apa kau tau, tidak baik memendam masalah di dalam hati saat sedang hamil. Bukankah dokter Sita selalu mengingatkan hal itu kepadamu?"


Melisa menghembuskan nafasnya kasar. Yang di katakan Amora memanglah benar.


"Sebenarnya aku sedang hancur karena harus kehilangan sahabat terbaikku."


"Why? Apa karena sahabatmu adalah seorang lelaki dan dia ternyata mencintaimu. Dan setelah itu dia kecewa karena ternyata kau sudah menikah?" Tebak Amora asal. Lebih tepatnya ia sedang curhat tentang dirinya yang menyukai Kevin, tapi harus menelan kekecewaan karena forever crush nya itu telah menikah. Bahkan yang ia nikahi adalah saudaranya sendiri. Dan ia semakin tersiksa karena harus menyaksikan kemesraan mereka hampir setiap hari.


"Astaga Amora, apa kau seorang dukun yang bisa membaca pikiran seseorang." Teriak Melisa yang heran karena Amora menebak semuanya dengan sangat tepat.


"Sebenarnya aku hanya asal tebak tadi." Amora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sedikit terkejut ternyata ada orang lain yang nasib percintaannya sama persis dengan yang dia alami. Apalagi yang menjadi sebabnya adalah sepasang suami isrti yang sama, Kevin dan Melisa.


"Jadi aku harus bagaimana?" Tanya Melisa dengan wajah frustasi.


"Tidak ada yang bisa kita perbuat. Karena hanya waktu yang bisa membuatnya menerima kenyataan, bahwa kau sudah jadi milik orang lain." Lagi-lagi Amora curcol alias curhat colongan. Ia seperti sedang membicarakan dirinya sendiri jika seperti ini.


"Dan seandainya suatu saat dia sudah ikhlas melepasmu dari hatinya, tentu persahabatanmu tidak akan seperti dulu lagi. Karena pasti ada rasa canggung jika mengingat kejadian dimasa lalu." Imbuhnya lagi.


"Ya, kau benar." Melisa membenarkan semua ucapan Amora. Karena ia juga sependapat dengannya.


"Yang harus kau lakukan saat ini adalah, tetap lanjutkan kehidupanmu seperti sebelumnya. Meski kau harus kehilangan sahabat baikmu. Tapi percayalah, luka di hati sahabatmu itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Jadi kau jangan terlalu merasa bersalah." Amora berharap ia juga bisa melupakan rasa sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan seiring berjalannya waktu.


"Sepertinya pengalamannmu dalam hal percintaan begitu luas ya." Puji Melisa, namun terdengar seperti ejekan bagi Amora.


"Memang iya."


Keduanya pun saling memandang dan tertawa secara bersamaan.


Dari kejauhan Alan melihat Melisa yang selalu terlihat ceria saat bersama dengan Amora. Karena itulah ia ingin membuka hatinya kepada Amora. Bukan karena ia sudah melupakan rasa sakit dengan semua luka dan penghianatan dari Evelyn. Tapi sebagai wujud terimakasihnya karena selalu membuat Melisa, adik kesayangannya tersenyum bahagia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2