Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 38 ( Mulai Membaik )


__ADS_3

"Menginaplah disini, Melisa sangat membutuhkanmu." Pinta Alan kepada Sofia, yang saat ini tengah berada di teras untuk menunggu sopir pribadi Alan.


"Sebenarnya aku juga ingin sekali menemani Melisa. Tapi maaf kali ini aku tidak bisa menginap." Sofia sangat menyesal karena tidak bisa memenuhi permintaan Alan untuk Menemani Melisa.


"Menginaplah semalam saja. Ku mohon "


"Bukannya aku tidak mau, tapi aku harus menggantikan ayahku untuk menjaga ibu. Ibu sedang dirawat."


"Ibu sakit? Sakit apa?"


"Asam lambungnya naik, mungkin karena kelelahan. Ku pikir kau sudah tau. Tadi kan aku sudah bilang kalau keadaan Melisa seperti itu setelah menjenguk Amora dan juga ibuku di rumahsakit."


"Maaf aku tidak tau. Mungkin karena aku terlalu fokus dengan Melisa jadi aku tidak ngeh kau bicara seperti itu."


"Ya sudah aku pulang dulu. Sampaikan salamku kepada Melisa saat dia bangun nanti."


"Tentu. Tapi maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang."


"Iya, tidak apa-apa."


Obrolan mereka terhenti saat sopir pribadi Alan berhenti di depan mereka.


Sofia bergegas masuk ke dalam mobil tapi langkahnya terhenti ketika tiba -tiba Alan memanggilnya.


"Sofia tunggu."


"Ya? Kenapa?"


Cuppp...


Sebuah kecupan mendarat darurat dibibir Sofia cukup lama. Sofia yang tersadar ada orang lain di sana segera mendorong tubuh Alan.


"Hei, hentikan. Malu ada orang." Sofia melirik sopir pribadi Alan yang tengah menunduk. Meskipun begitu, ia yakin orang itu tau jika Alan sedang menciumnya.


"Kau tenang saja. Dia tidak akan berani melihat kita."


"Memang iya dia tidak berani melihat kita. Tapi dia pasti tau apa yang sedang kita lakukan ini." Gumam Sofia yang terlihat menggemaskan karena memonyongkan bibirnya.


"Sudah sana pulang."


"Jadi sekarang kau mengusirku. Dasar pria aneh." Cibir Sofia pelan.


"Aku mendengarnya Sofia Olivera." Alan menatap tajam Sofia sedangkan Sofia cengingiran sambil beringsut masuk kedalam mobil Alan. Dari pada terjadi lagi ha-hal yang di inginkan.


Selepas kepergian Sofia, senyum terlihat di wajah lelah Alan. "Terimakasih Sofia, untuk segalanya."


Ia bergegas masuk dan kembali ke kamar Melisa.


"Kita perlu bicara Kevin Sanjaya." Alan membawa Kevin keluar dari kamar Melisa.


"Kau pasti tau apa yang ingin aku bicarakan."

__ADS_1


"Ya, aku tau. Akan ku jelaskan kenapa aku bisa berada di rumahsakit dan menyuapi Amora."


"Untuk kedua kalinya kau melukai Melisa karena orang yang sama. Aku pastikan ini terakhir kali kau melukai Melisaku. Karena aku ingin kau menjauhi Amora."


"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Amora. Tadi siang tante Evelyn meminta tolong padaku. Dia bilang dia ada urusan sebentar dan memintaku menjaga Amora karena tidak tega meninggalkannya sendiri. Kebetulan sedang jam istirahat kantor, jadi aku pikir tidak ada salahnya aku kesana sekalian menjenguk Amora. Dan saat tiba disana aku melihatnya kesulitan untuk makan, karena tangan kanannya terpasang selang infus. Dan aku hanya membantunya, tidak lebih." Kevin memberi penjelasan panjang kali lebar. Meskipun begitu, tetap saja Kevin bersalah di mata Alan karena telah membuat kesayangannya terluka.


"Pastikan kau menjauhi Amora. Jika tidak, aku akan membuat perhitungan denganmu bung."


Kevin terdiam melihat punggung Alan yang kini sedang berjalan meninggalkannya.


Kau memintaku menjauhi Amora sedangkan kita tinggal di rumah yang sama dan bekerja di kantor yang sama. yang benar saja. Kenapa tidak sekalian kau cekik saja leherku tuan Alan Yong ju. Dasar .


***


Saat pagi hari tiba, Melisa mulai mengerjapkan matanya yang berat. Entah itu karena pengaruh obat penenang, atau karena kemarin malam ia menangis terlalu lama. Entahlah, tapi yang jelas suasana hatinya saat ini menjadi lebih baik.


"Kau sudah bangun sayang?"


Melisa menjawab Alan dengan senyum dan anggukan.


"Makan ya? Kau belum makan apapun sejak kemarin. Kasihan anakmu." Alan membelai lembut perut Melisa.


"Aku sarapan di bawah saja, bosan di kamar terus." Melisa beranjak dari tempat tidur karena ingin membersihkan diri. Ia tidak menyadari jika di tangannya masih terpasang infus.


"Auhhh,," Teriak Melisa saat selang infusnya tertarik cukup kuat.


"Hati-hati, ada infus di tanganmu." Alan membantu Melisa beranjak dari tempat tidur.


"Ke kamar mandi. Badanku lengket, dari kemarin tidak mandi." Ucap Melisa sambil mengendus tubuhnya sendiri.


Alan tersenyum karena sepertinya keadaan Melisa sudah lebih baik dari kemarin.


"Kakak panggil Kevin dulu, biar dia membantumu mandi. Pasti akan sulit mandi sendiri karena selang infus ini."


"Tidak usah. Aku masih mau lanjutin marahan sama kak Kevin." Melisa kembali duduk di tepian ranjang sembari mengerucutkan bibirnya.


Alan tersenyum karena jawaban dari Melisa yang harusnya menyedihkan tapi malah terdengar lucu di telinga Alan.


"Kau ini." Mengacak-acak rambut Melisa. "Dia hanya membantu Amora. Semua salahku, karena seharusnya aku yang berada di sana menggantikan mama Evelyn untuk menjaga Amora. Tapi aku menolak."


"Kenapa kak, dia adikmu juga kan. Jangan sampai kakak menyesal untuk yang kedua kali seperti kakak menyesal karena dulu membenci Melisa Yong ju yang cantik dan imut ini." Melisa terkekeh karena baru kali ini dia memuji dirinya sendiri.


"Sudahlah jangan membahasnya lagi. Kau ini jadi mau mandi apa tidak?"


"Susah kak, gimana mandinya?" Sejurus kemudian ide cemerlang terlintas di kepala Melisa. "Kakak saja yang bantuin aku, tapi tutup mata kakak."


Alan membulatkan kedua matanya. Ide gila yang awalnya ia tolak. Tapi pada akhirnya dia menyetujuinya karena melihat Melisa yang sangat tidak nyaman karena tidak mandi sejak kemarin.


Kevin yang sejak semalam tertidur di sofa baru saja terbangun, karena cahaya matahari menyelinap melalui celah jendela kamar dan mendera kelopak matanya.


Ia mengerjab demi mendapatkan penglihatan yang lebih jelas.

__ADS_1


Saat menyadari Melisa tidak ada di tempat tidur, Kevin sedikit panik. Namum beberapa detik kemudian kepanikannya sirna karena mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Ia berjalan menuju kamar mandi karena pasti Melisa akan membutuhkan bantuan. Dalam pikirannya, akan sulit melakukan aktivtas saat ada selang infus di tangannya.


Kevin segera masuk karena memang pintu kamar mandi tidak di kunci.


Ia kaget bukan main ketika melihat Melisa hanya mengenakan pakaian dalam, dan di belakangnya ada Alan dengan mata tertutup berusaha melepas pengait bra.


"Astaga, kalian sedang apa?" Tanya Kevin dengan heran.


"Membantu Melisa mandi. Kau tenang saja, aku membantunya dengan mata tertutup." Jawab Alan dengan santainya.


"Kenapa tidak membangunkanku saja."


"Melisa bilang dia masih ingin lanjut marahan sama kamu." Cubitan maut dari Melisa auto mendarat di tangan Alan karena jawabannya itu.


"Auhh. Sakit sayang." Karena cubitan Melisa lumayan sakit membuat Alan reflek membuka matanya.


"Aaaaa.... kakak tutup matamu." Teriak Melisa ketika menyadari Alan sedang membuka matanya.


"Maaf, kakak reflek. Saran kakak, tunda dulu marahannya sama Kevin. Setelah mandi nanti, baru lanjutkan lagi marahannya." Ucap Alan sambil menutup matanya kembali.


"Biar aku saja kak." Tawar Kevin karena melihat Alan kesulitan membantu Melisa dengan mata tertutup.


"Kau benar, kau saja yang melanjutkan ini." Alan menyerahkan bra yang berhasil ia lepaskan dengan susah payah kepada Kevin. Karena ini kali pertama ia melakukannya. Apalagi dengan mata tertutup seperti sekarang.


Keheningan tercipta di kamar mandi. Kevin berusaha sekuat tenaga menahan godaan di depan matanya.


"Sepertinya aku juga harus membantumu mandi dengan mata tertutup." Kevin menelan kasar salivanya.


Melisa yang tau arah pembicaraan Kevin berusaha menahan tawanya. Ia masih kekeh lanjut marahan dengan suaminya itu.


Andai saja saat ini Melisa tidak sedang sakit dan sedang tidak marah pada dirinya, mungkin saja Kevin sudah tidak bisa menahan diri. Dengan senang hati ia akan melepaskan hasratnya. Tapi lain cerita jika keadaannya seberti ini. Ia justru sangat tersiksa karena sesuatu di bawah sana terbangun dan ia harus bertahan sekuat tenaga agar tidak khilaf.


Setelah urusan mandi selesai, Kevin bernafas lega karena berhasil menahan diri meski dengan susah payah.


Tak lama kemudian dokter Juna dan dokter Sita datang untuk memeriksa Kondisi kesehatan Melisa.


"Pagi cantik. Bagaimana kabarmu?" Tanya dokter Sita.


"Pagi dok, aku merasa jauh lebih baik sekarang." Melisa menjawab dengan senyuman khas nya.


Dokter Juna ikut tersenyum karena melihat Melisa yang bisa kembali tersenyum lepas setelah sekian lama.


Setelah dokter Sita selesai, kini berganti dokter Juna yang memeriksanya.


"Semua bagus, lanjutkan obat anda nona Melisa. Jangan takut ataupun ragu karena ini aman untuk kandunganmu." Dokter Juna kembali mengingatkan Melisa agar tidak melakukan kesalahan yang sama dengan tidak meminum obat rutinnya.


"Baik dok, percayalah aku tidak akan melakukannya lagi. Aku akan menghabiskan obatku."


Setelah selesai memeriksa, dokter Juna dan dokter Sita berpamitan setelah menyerahkan resep yang berisi suplemen tambahan.

__ADS_1


Melisa menghela nafas. Lagi dan lagi. Meskipun bukan obat, tapi suplemen, baginya sama saja. Toh bentuk dan cara meminumnya sama seperti obat. Entah berapa jumlah obat yang harus ia minum setiap harinya. Yang jelas, benda yang kebanyakan berbetuk kapsul dan bulat pipih itu itu membuatnya muak.


__ADS_2