
Di perjalanan menuju rumah sakit Alan mengalami dilema besar. Bagaimama ia mengatakan kepada Melisa jika kemungkinan ayah mertuanya itu adalah dalang pembunuhan ayah kandungnya. Dan jika memang terbukti Farhan sanjaya yang bersalah, apa itu artinya perjodohan ini rencana busuknya juga? Apa Kevin juga terlibat dengan semua ini?
"Kakak sudah datang." Melisa menyambut kedatangan kakaknya dengan antusias.
"Kapan aku bisa pulang dari sini kak, aku sudah sangat merindukan suasana rumah."
"Kak bicaralah kepada dokter dan katakan aku sudah tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Katakan kalau aku ingin pulang besok pagi."
"Kakak......! Teriak Melisa kesal karena semua ucapannya tidak di respon sama sekali oleh Alan.
"Eh, Iya sayang kenapa?" Jawab Alan bingung kenapa Melisa kesal kepadanya.
"Dari tadi aku bicara panjang lebar kakak tidak mendengarkan?"
"Maaf tadi kakak tidak fokus, jadi kakak tidak tau kalau kamu sedang berbicara pada kakak."
"Apa yang sedang mengganggu fikiran kakak? Apa ada masalah?"
"Tidak sayang, mungkin karena kakak kurang tidur tadi malam." Alan berusaha menutupi tentang masalah yang mungkin melibatkan mertua dan suami adiknya itu.
"Maaf kak, gara-gara menjagaku kakak jadi kurang istirahat."
"Hei jangan bicara seperti itu, sudah kewajiban kakak menjaga dan melindungimu." Memeluk adiknya dengan penuh kehangatan.
"Dimana Kevin? Kenapa dia meninggalkanmu sendiri?"
"Kak Kevin sedang mencarikan aku makan malam. Aku bosan makanan rumah sakit."
Keheningan tercipta di antara mereka, Alan masih terus kepikiran dengan masalah pembunuhan ayahnya. Dan itu bisa saja mengganggu kesehatan Melisa jika adiknya itu sampai tau.
"Kak, aku ingin curhat sesuatu." Ucap melisa memecah keheningan di antara keduanya.
"Apa? Kening Alan berkerut, ia heran karena biasanya Melisa selalu memendam sendiri masalah apapun yang ia alami. Ia selalu tampil tersenyum dan tegar apapun kondisinya dan bagaimanapun suasana hatinya.
"Aku jatuh cinta."
"Apa?"
"Aku mencintainya kak, Maksudku aku mencintai kak Kevin."
Bagaimana ini? Kenapa secepat itu Melisa bisa mencintai Kevin? Bagai mana jika benar Farhan terlibat dengan pembunuhan ayah, itu artinya ada kemungkinan Kevin ikut terlibat juga. Batin Alan.
__ADS_1
"Kak, kenapa diam saja? Ku mohon dukunglah kami. Kak Kevin juga mencintaiku. Kami saling mencintai."
Iya sayang, apapun kakak lakukan untukmu, asalkan kau bahagia."
"Terimakasih kak." Memeluk erat kakaknya.
Keesokan harinya Melisa sudah di izinkan pulang, lebih tepatnya memaksa ingin pulang kerumah. Karena keadaannya cukup membaik akhirnya dokter mengizinkannya.
"Maaf tuan ada tamu di luar."
"Siapa? Jawab Alan.
"Dia bilang dia teman sekolah nona Melisa."
"Suruh masuk."
"Baik tuan."
Seorang bocah laki laki masuk. Ia memandang seluruh isi ruangan dengan takjub dan kagum. Ia tak menyangka rumah Melisa semegah ini.
"Siapa namamu? Tanya Alan.
"Kemarilah, ikut saya."
Mereka berdua berjalan menuju ke kamar Melisa yang berada di lantai atas.
"Sayang ada teman sekolahmu."
"Hai Mel."
"Aldo! aaaaaaa..... ini benar kamu? Aku senang sekali kau kemari menjengukku."
"Ehm.." Kevin berdehem karena merasa keberadaannya dari tadi di abaikan.
"Oh iya Al, kenalkan ini kak Kevin."
"Dia kakakmu juga ya?"
"I... iya.." Dengan ragu-ragu Melisa menjawab.
"Kenalkan aku Kevin". Sambil meremas tangan Aldo yang tengah bersalaman dengannya.
__ADS_1
Kenapa Melisa begitu akrab dengannya. Kevin mengumpat dalam hati.
"Kalian sangat akrab sekali ya kelihatannya?
"Iya kak kami memang akrab, dia yang pernah aku ceritakan tempo hari. Dia sangat pandai sampai-sampai dia dapat beasiswa sekolah."
"Itu juga karena bantuan darimu Mel, kalau kamu tidak membantuku, aku rasa aku tidak akan mendapatkan beasiswa itu."
"Itu karena kepandaianmu. Jujur aku kagum sekaligus iri karena kau selalu saja menjadi juara umum."
Dan lagi-lagi Kevin merasa keberadaannya tidak di anggap karena mereka begitu asik berbincang-bincang.
Sial, sepertinya bocah ingusan ini akan menjadi sainganku. Umpat Kevin dalam hati.
Begitu lama mereka berbincan-bincang sampai tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang.
"Sayang sudah jam makan siang." Alan datang membawa nampan berisi makanan.
"Kak kita makan dibawah saja. Aku juga ingin mengajak Aldo makan siang."
"Baiklah kalau begitu ayo kita turun."
Mereka sangat antusias menuju meja makan. Kecuali Kevin, dari tadi dia merasa kesal karena Melisa lebih memperhatikan Aldo.
"Al, makanlah yang banyak ya." Ucap melisa kepada Aldo sambil menampilkan senyum manisnya."
Kevin yang tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya memilih untuk merebut perhatian Melisa."
"Ini sayang aku suapi." Menyodorkan sendok ke mulut Melisa.
"Kakak aku bisa sendiri." Malu karena ada Aldo disini.
"Buka mulutmu sayang, aku sedang ingin menyuapimu."
Dengan malu-malu Melisa terpaksa menerima suapan itu.
"Wah kakakmu perhatian sekali ya." Ucap Aldo.
Melisa hanya bisa pasrah. Sedangkan dari tadi Alan hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah laku mereka.
Bersambung.....
__ADS_1