Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 34 (Kecewa)


__ADS_3

"Bagaimana dengan hasil lab saudari saya dok? Kevin menghampiri dokter yang baru saja masuk ke ruang perawatan Amora.


"Pasien harus segera melakukan transfusi darah. Kadar hemoglobin dalam darahnya sangat rendah. Kami akan melakukan transfusi sebanyak empat kolf. Untuk itu pihak keluarga harus ada yang menandatangani ini sebagai persetujuan." Dokter menyerahkan selembar kertas kepada Kevin.


"Baik dok, saya keluarganya. Saya yang akan menandatanganinya."


Kevin mengambil ponsel yang ia simpan di saku. Ia berniat menghubungi Evelin dan mengabarkan jika putrinya sedang dirawat di rumahsakit.


"Astaga, batrenya habis."


Kevin berinisiatif meminjam charger kepada perawat. Setelah batrenya cukup terisi, ia segera menyalakan ponselnya. Ia terkejut ada puluhan panggilan tak terjawab dari Melisa. Dan seketika dia langsung teringat jika hari ini ia ada janji untuk mengajak istrinya jalan.


"Semoga Melisa tidak marah dan bisa mengerti." Gumamnya.


Setelah mengabari Evelyn, Kevin mencoba menghubingi Melisa. Puluhan kali ia mencobanya. Tapi tidak di angkat.


Ia berpikran menghubungi Alan untuk menanyakan kenapa Melisa tidak menjawab telepon darinya. Mungkinkah dia marah? ataukah dia ketiduran karena menunggu dirinya? atau terjadi sesuatu dengannya?


Pertanyaan-pertanyaan itu wara-wiri di pikiran Kevin.


"Halo kak Alan. Apa Melisa sedang bersamamu? Aku berkali-kali menghubunginya tapi tidak di angkat.


"Aku masih di kantor. Aku menyuruh Sofia untuk menemaninya. Jadi jangan khawatir. Jika ada apa-apa Sofia pasti akan menelpon. Bukannya kau sudah pulang?"


"Aku di rumahsakit mengurus administrasi Amora. Dia harus dirawat. Nanti kalau tante Evelyn sudah datang, aku akan segera pulang."


Alan mencoba menghubungi Melisa. Panggilan darinya juga tidak di jawab.


Lalu Alan menghubungi Sofia karena ingin tau keadaan adiknya.


"Sofia, kenapa Melisa tidak menjawab telpon dariku? Sebenarnya kalian sedang apa?"


"Aku tidak tau, aku sudah pulang sejak sore tadi."


"Apa?" Alan kaget mendengar jawaban dari Sofia.


"Tadi Melisa menyuruhku pulang. Katanya dia ada janji mau jalan sama Kevin."


Alan menutup sambungan telepon begitu saja. Garis kekhawatiran terlihat begitu jelas di wajah Alan. Dengan kecepatan tinggi ia melajukan kendaraannya.


Sementara itu, Kevin sudah bisa tenang meninggalkan Amora karena Evelyn sudah sampai di rumahsakit.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah, karena jarak dari rumahsakit menuju kediaman Yong ju lumayan dekat.


"Dimana Melisa bik?"


"Di kamar tuan."


Kevin berlari menaiki tangga dan menuju kamarnya.


Tok tok tok...


"Sayang. buka pintunya." Tidak ada jawaban.


"Mel,"


"Are you OK?


Alan datang dengan langkah tergesa-gesa.


"Dimana Melisa?"


"Dia mengunci diri di kamar."


Bughhh...


Alan meninju wajah Kevin.


"Kau melukai hati Melisa."


"Aku tidak bemaksud ingkar janji. Tak ada sedikitpun niatku untuk menyakiti hati Melisa. Aku tidak bisa membiarkan Amora sendiri dalam keadaan seperti itu karena aku masih punya hati nurani. Dia sakit dan harus segera di rawat. Apa kau tau, kondisinya sangat buruk." Sebuah sindiran keras untuk Alan.

__ADS_1


"Apapun alasanmu, jika sampai terjadi sesuatu dengan Melisa, habis kau."


Melisa yang mendengar perkelahian antara dua laki-laki yang sangat ia sayangi, memutuskan untuk keluar. Ia tau seberapa nekatnya Alan jika ada seseorang yang melukai perasaannya.


"Ada apa ribut-ribut."


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Alan memeluk erat adiknya. Kecemasan masih belum hilang dari raut wajahnya."


"Memangnya aku kenapa kak? aku hanya ketiduran karena menunggu suamiku pulang." Melisa berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya. Ia menyembunyikan kekecewaannya dalam-dalam.


"Maafkan aku Mel, aku tidak bermaksud.."


"lya, It's OK." Melisa memotong kalimat Kevin.


Saat makan malam tiba, ketiganya masih diam tanpa suara. Hingga akhirnya Kevin memulai pembicaraan dan memecah keheningan.


"Sayang, apa kau masih marah padaku?"


"Tidak." Jawab Melisa singkat.


"Apa kau tidak mau bertanya kenapa aku pulang terlambat dan lupa dengan janjiku tadi pagi?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku sudah tau. Kalian berteriak-teriak di depan kamarku.Tentu saja aku mendengar semua pembicaraan kalian."


"Sudah jangan bicara lagi. Habiskan makan malam kalian dan istirahatlah." Alan menghentikan obrolan mereka.


***


Malam semakin larut. Melisa tidak bisa tidur karena merasakan lapar. Tapi ia enggan membangunkan Kevin karena masih merasa kesal. Semenjak hamil memang Melisa berubah menjadi lebih sensitive dan mudah marah. Ia juga berubah menjadi manja. Entah karena hormon kehamilan atau apa, yang jelas sifatnya saat ini berubah drastis.


Melisa sudah tak tahan lagi dengan rasa laparnya. Ia keluar mengendap-endap karena tidak ingin membangunkan Kevin.


Tentu saja tujuannya kali ini adalah kamar Alan.


Tok tok tok...


"Aku kak."


Alan membuka pintu dengan cepat.


"Ada apa sayang?"


"Lapar." Jawab Melisa sambil cengingiran.


Alan tersenyum lalu mengusap lembut ujung kepala adiknya.


"Pengen makan apa?"


"Tadi siang kak Sofia membuatkanku mie ayam. Dan rasanya enak sekali. Aku jadi pengen makan itu lagi."


Alan terdiam sesaat dan terlihat sedang berfikir.


Tidak mungkin ia meminta Sofia datang kemari selarut ini.


Lalu ia teringat restoran 24jam milik temannya. Mungkin chef di sana ada yang bisa membuat mie ayam.


Alan mengambil ponsel dan mencoba menghubungi temannya.


"Hai bro, tumben telfon. Ada apa?"


"Apa orangmu ada yang bisa membuat mie ayam?"


"Tentu saja bisa. Bahkan aku bisa membuatnya. It's so simple."


"Kalau begitu buatkan aku mie ayam dan segera bawa kemari."


"Oke bro. Tenang saja. Akan ku buatkan mie ayam yang paling enak untukmu."

__ADS_1


"Kau dengar sayang. Sebentar lagi mie ayam datang."


Melisa tersenyum senang mendengarnya.


Setengah jam berlalu. Melisa merengek kepada kakaknya karena merasakan perutnya semakin lapar.


"Sebentar lagi pasti datang sayang. Bersabarlah."


"Ayo kita tunggu di luar saja kak." Rengeknya lagi.


"Ini sudah larut malam sayang. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu."


"Please kak." Kali ini disertai wajah yang sangat memelas.


"Ya ya ya. Ikuti maunya tuan putri." Alan mengiyakan keinginan Melisa untuk menunggu di luar. Ia mengambil jaketnya dan menyelimutkannya ke tubuh Melisa.


Mereka duduk di bangku samping pos security. Tempat yang biasanya digunakan security untuk berjaga.


Ternyata di luar lumayan dingin. Alan berinisiatif melepas piyamanya dan menyelimutkannya ke punggung Melisa.


"Aku sudah pakai jaket kak. Pakai kembali piyamamu agar tidak masuk angin."


"Kakak tidak selemah itu." Jawabnya sambil tertawa.


Setengah jam kemudian. Seorang kurir datang dan mengantar mie ayam pesanan Alan.


Senyum bahagia mengembang di bibir Melisa.


"Ayo kak kita bawa kedalam." Melisa menarik tangan Alan dan berjalan penuh antusias.


"Iya iya, pelan-pelan jalannya."


Sampailah Mereka ke meja makan.


"Kakak beli dua?"


"Iya, takutnya kamu kurang. Sekarang kan makanmu banyak sekali." Goda Alan.


Melisa tersenyum malu karena ucapan kakaknya. Nafsu makannya memang meningkat saat malam hari. Tapi di pagi hari, ia selalu mersa mual dan tidak berselera makan.


"Sini kakak suapi."


Alan mengambil alih mangkuk Melisa dan menyuapinya dengan telaten.


"Kak, besok aku ingin menjenguk Amora."


Alan tidak menjawab.


"Kakak ih,"


"Apa?"


"Besok aku mau jenguk Amora."


"Tidak usah." Jawab Alan dengan tegas.


"Aku tidak sedang meminta persetujuan kakak. Tapi aku sedang memberitaumu." Jawab Melisa kesal.


"Hhh, terserah kau saja."


Melisa tersenyum mendengar jawaban dari kakaknya.


Setelah selesai makan, ia merasakan kantuk yang menggelayuti kelopak mata.


"Aku bobok di kamar kakak ya."


"Hmm." Jawab Alan singkat sambil membereskan mangkuk bekas mie ayam dan menaruhnya di dapur.


Setelah sampai di kamar Alan, Melisa merebahkan dirinya di tempat tidur. Tak butuh waktu lama ia sudah terlelap.


Alan mengecup kening adiknya cukup lama, lalu ikut merebahkan diri dan tidur sambil memeluk adik kesayangannya itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2