Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 17 (Buronan)


__ADS_3

Sesampainya di ruang rawat, betapa terkejutnya Melisa melihat kakaknya di dorong dengan kursi roda. Kening dan tangannya terdapat perban, dan penuh luka sana sini.


"Astaga kakak!" Berusaha bangun dari tempat tidur dengan susah payah karena kondisinya masih lemah.


"Kakak tidak apa-apa sayang, jangan cemas. Luka kecil seperti ini tidak ada artinya demi keselamatan kalian." Memandangi Melisa dan Sofia bergantian."


"Kalian siapa maksudnya?" Menaik turunkan kedua alisnya, Kevin sudah sangat ingin menggoda Alan, dan berdebat dengannya. Baginya ekspresi Alan yang kesal plus tersipu malu itu membuatnya begitu senang.


"Jangan mulai kau Vin. Aku sedang malas meladeni ocehanmu." Melirik Kevin malas.


"Kakak kenapa? Bagaimana bisa sampai seperti itu?" Melisa kembali bertanya karena merasa belum mendapat jawaban.


"Kakak tidak apa-apa sayang, jangan cemaskan aku. Kemarin kakak kurang hati-hati dan terjatuh dari tangga."


"Kenapa lukanya mirip orang yang habis di pukuli seperti itu? Lebam dana sini." Melisa yakin kakaknya menyembunyikan sesuatu.


"Apa kakak berkelahi dengan ayah Farhan?"


"Jangan panggil dia ayah, dia bukan ayah kita." Sahut Kevin, memotong obrolan serius antara kakak dan adik di hadapannya itu.


"Jadi benar kan kakak berkelahi dengannya?"


"Bukan sayang, kakak berkelahi dengan orang suruhannya. Sudah jangan bahas itu lagi. Istirahatlah agar cepat sembuh, kau ingin cepat pulang kan?"


Melisa menjawab dengan anggukan. Dia berusaha memejamkan mata dan menahan air mata yang ternyata tak mampu terbendung lagi. Air matanya mengalir begitu saja."


***


Beberapa hari berlalu. Kesehatan Melisa berangsur membaik. Seperti biasa, ia memaksa untuk pulang. Sedangkan kondisi Alan belum begitu bagus. Tapi ia juga kekeh meminta pulang dari rumahsakit dengan alasan ingin merawat adiknya. Bagaimana mungkin ia bisa merawat adiknya sedangkan dirinya juga perlu dirawat. Untuk makan saja ia harus disuapi karena lengan kanannya yang patah itu.


"Sofi, kau tinggallah disini beberapa hari sampai kak Alan sedikit membaik. Setidaknya sampai ia bisa makan sendiri."


"Apa? Itu lama sekali, dulu waktu tangan ayahku patah, ia butuh waktu tiga bulan untuk bisa sekedar menggerakkan tangannya."

__ADS_1


"Tidak akan selama itu. Kak Alan di pantau Dokter ahli setiap harinya, dan obat yang ia minum obat paling bagus yang akan mempercepat kesembuhannya." Kevin mencoba meyakinkan Sofia.


"Baiklah aku akan coba meminta izin ibuku dulu." Ibu pasti senang sekali, dia kan antusias sekali jika berhubungan dengan pria menyebalkan itu. Huhh, ibu, bukannya mendukung anak sendiri, malah mendukung pak Alan.


"Halo ibu, ini Sofi,"


"Bagaimana keadaan tuan Alan?" Belum juga selesai bicara, ibu Sofia langsung menjejalinya dengan pertanyaan.


"Dia baik-baik saja, aku akan menginap disini sampai..,"


"Iya iya. Menginaplah disana, jangan pulang sebelum dia sembuh." Lagi-lagi memotong pembicaraan. Sofia yang kesal langsung menutup telepon dan mengakhiri percakapan dengan ibunya.


Sofia berjalan membawa nampan berisi makan malam dan setumpuk obat-obatan.


"Bapak makan dulu, setelah itu minum obat."


"Kau masih disini?" Alan tersenyum senang melihat Sofia masih disini.


"Iya." Menjawab malas.


"Iya, memang mau panggil apa lagi, anda kan bos saya."


"Pangil nama saja saat sedang tidak di kantor. Kita kan sudah resmi pacaran."


"Hhhh, itu hubungan sepihak yang bapak buat, aku tidak bilang mau jadi pacar bapak kan?"


"Kau ini, aku tidak ingin di bantah!"


"Lihatlah, mana ada orang berbicara sekeras itu kepada kekasihnya? seperti itu mau di anggap pacar." Dengan kesal menyuapi Alan yang membuat emosinya naik.


"Maaf. Baiklah, aku akan bersikap manis padamu." Tersenyum karena merasa mendapatkan lampu hijau."


"Sekarang minum obatmu agar cepat sembuh, dan aku bisa pulang dengan tenang."

__ADS_1


"Tidak mau."


"Kau jangan seperti anak kecil, lihatlah badanmu yang berotot itu. Minum obat harus dibujuk seperti anak kecil. Malu sama badan."


"Aku mau minum obat, asal kau panggil aku sayang." Tersenyum licik.


"Tidak mau!"


"Baiklah kalau tidak mau, aku tidak akan minum obatku. Dan kau harus tetap disini sampai aku sembuh."


"Baiklah sayang, minum obatmu dulu ya biar cepat sembuh." Sofia berbicara dengan nada kesal dan senyum yang di buat-buat."


"Kau ini menggemaskan sekali ya."


"Terserah kau saja, yang penting minum obatmu."


Di bawah atap yang sama, Melisa masih saja diam semenjak kepulangannya dari rumahsakit. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan. Tapi ia pendam dan tidak mau menceritakannya. Begitulah Melisa, baginya menceritakan beban di hatinya kepada orang lain, itu hanya akan membagi kesedihan kepada orang yang di ajaknya curhat. Ia hanya ingin berbagi kebahagiaan dan tidak ingin menyusahkan orang lain.


"Sayang bicaralah." Kevin berusaha mengajak Melisa berkomunikasi, agar bisa sedikit mengalihkan perhatiannya dan sejenak melupakan kepiluannya.


"Apa yang terjadi kak, sampai kapan kalian menyembunyikan semua hal kepadaku."


"Hei, apa yang kami sembunyikan darimu?"


"Kenapa kak Alan lengannya patah, dan dimana ayah Farhan sekarang?"


"Huhhh.." Kevin menghembuskan nafasnya kasar.


"Baiklah, Kakakmu seperti itu karena menyelamatkan Sofia, Farhan menyekapnya saat ia tau kau mengetahui semua rencana busuknya. Ia menjadikan Sofia tawanan untuk lari dari hukuman."


"Sekarang bagaimana? apa dia sudah di hukum?" Setelah mendengar semuanya, rasanya ia enggan lagi menyebutnya ayah.


"Bukan Farhan namanya kalau di tidak melarikan diri. Dia berhasil lolos dan sekarang menjadi buronan."

__ADS_1


Melisa hanya bisa tertunduk dan menangis. Ia tak tau harus berkata apa dan harus bagaimana. Orang yang selama ini dia sayangi dan dia anggap seperti ayah kandungnya sendiri, ternyata dalang dari kehancuran hidupnya.


Bersambung...


__ADS_2