
Setelah meneguk habis air mineral yang dia terima dari Sofi, Alan merasa sedikit lebih baik. Pikirannya yang kacau berangsur menjadi lebih tenang.
"Kevin, pulanglah. Kau pasti lelah, biar aku yang menemani Melisa".
"Aku masih ingin disini." Jawab Kevin tanpa mengalihkan pandangannya .
"Kau pulang saja, kembalilah kesini besok. Kita gantian jaga agar ada waktu untuk istirahat."
"Baiklah, aku akan pulang dan kembali besok pagi." Kevin menyetujui ucapan Alan karna menurutnya ada benarnya juga.
"Dan kau Sofi, kau harus tetap disini sampai besok pagi." Sambil menatap tajam sekretarisnya itu.
"Tidak mau, ini kan di luar jam kerja pak. Lagi pula orang tua saya pasti marah kalau saya sampai tidak pulang."
"Kau mau saya pecat? Apa kau lupa kau sudah membuat kesalahan karna telah menabrak dan mengataiku tadi pagi. Jadi terimalah ini sebagai hukumanmu."
"Bukankah urusan tadi pagi sudah selesai pak, kenapa di ungkit-ungkit lagi". Menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dengan raut wajah yang frustasi.
"Kau mau apa tidak?"
"Iya iya saya mau, bapak pendendam sekali." Mencebikkan bibirnya.
"Bagus, bekerjalah dengan baik." Tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi pak, saya tidak bawa baju ganti. Bagaimana kalau saya pulang dulu ambil baju ganti sekalian minta izin orang tua saya?"
"Tidak perlu, aku sudah menyuruh orang untuk membawakan pakaian ganti untuk kita."
Sirna sudah harapan Sofi untuk menghirup angin segar walau hanya sejenak.
"Ya sudah terserah bapak saja." Menyerah adu argumen dengan bosnya karena sudah pasti dia yang kalah.
Sementara itu di dalam ruang ICU Melisa perlahan membuka matanya. Dia melihat sekeliling ruangan yang begitu asing baginya. Dan akhirnya terjawab sudah saat ia mendapati ada selang infus dan peralatan medis lainnya yang tersadang di tubuhnya. Ya, dia sedang di rumah sakit.
"Kau sudah bangun sayang?"
Betapa bahagianya Alan sehingga peluk dan cium yang bertubi-tubi mendarat di kening Melisa.
"Maaf sudah membuat kakak khawatir". Kata pertama yang ia ucapkan ketika sadar.
"Berjanjilah untuk tetap selalu bersamaku. Jangan pernah tinggalkan kakakmu ini." Air mata Alan lolos begitu saja. Dengan secepat kilat ia menghapus air matanya agar tidak di ketahui adiknya.
Karena keadaan yang berangsur membaik, Melisa sudah bisa di pindahkan di ruang perawatan biasa. Di ruang VIP yang di buat senyaman mungkin agar pasien bisa beristirahat dengan nyaman. Tapi tidak dengan Melisa, ia merasa tempat ini begitu membuatnya merasa jenuh dan bosan, ingin sekali ia mencabut selang infusnya dan pulang ke rumah. Baginya rumah adalah tempat istirahat paling nyaman meskipun dalam keadaan sakit.
"Pulang yuk kak." rengek Melisa.
__ADS_1
"Iya nanti kalau kamu sudah baikan. sekarang istirahatlah agar kamu cepat sembuh."
Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruang perawatan Melisa.
"Ini pak saya bawakan makan malam." menyodorkan bungkusan plastik yang dibawanya.
Karena merasa sudah sangat lapar Alan bergegas membuka bungkusan yang di berikan Sofi.
"Makanan apa ini?"
"Itu saya beli di pedagang kaki lima dekat rumah sakit, soalnya uang saya hanya cukup untuk beli itu." Sambil cengingiran sekaligus malu.
"Lain kali bilang kalau mau membeli sesuatu, lagipula kenapa kau miskin sekali sampai-sampai membeli makan saja tidak ada uang."
"Ya sudah sini kalau tidak mau." Sofi yang merasa kesal langsung merebut kembali makanan yang di bawanya karena bukannya menerima ucapan terimakasih malah di katai oleh bosnya.
"Hei, kau ini. Makanan yang sudah di berikan tidak bisa di ambil lagi." Merebutnya kembali dari tangan Sofi.
"Siapa kak? Apa dia pacar kakak?"
"Bukan!!!" Sofi menjawab pertanyaan yang sebenarnya di tujukan untuk Alan.
"Perkenalkan nama saya Sofia, nona bisa memanggil saya sofi. Dan hubungan saya dengan pak Alan hanya sebatas Bos dan sekertaris saja."
Sofia bergidik ngeri membayangkan jika memiliki kekasih seperti bosnya itu.
"Kakak panggil saya Melisa saja." Tersenyum ramah kepafa Sofi.
Selesai makan Alan kembali menemani adiknya.
"Tidurlah sayang, kau butuh banyak istirahat supaya cepat sembuh. Kau ingin segera pulang bukan?" Berbicara dengan lemah lembut sembari mengecup punggung tangan yang tidak terpasang selang infus.
Melisa hanya menggangguk sebagai jawaban.
Sementara itu, Sofia dari tadi sedang asik memperhatikan pemandangan di depannya. Dia masih terheran-heran melihat Alan yang bisa bersikap selembut itu. Bisa di bilang sangat berbanding terbalik dengan sikap arogan dan menyebalkan yang sangat lekat dengan bosnya itu.
Keesokan harinya Kevin datang ke rumah sakit membawa buket bunga mawar putih kesukaan Melisa.
"Pagi sayang." Mengecup kening Melisa."
"Pagi kak."
"Bagaimana keadaanmu?"
"Jauh lebih baik."
__ADS_1
"Kau sudah datang?" Sofia yang baru saja keluar dari kamar mandi menyapa Kevin.
"Iya kak, dimana kak Alan?"
"Pak Alan sedang membeli sarapan, itu dia sudah datang." Menunjuk ke arah pintu.
"Ini makananmu, habiskan. Jangan sampai sekretaris seorang Alan Yong ju terlihat kurus karena kurang gizi." Menyodorkan makanan kepada Sofia.
"Bapak gemar sekali ya mengataiku." Mengambil makanan dari tangan Alan dengan wajah kesal.
"Sepertinya kak Alan menyukai sekretarisnya itu, kalau tidak mana mungkin dia mau repot-repot membelikannya makan." Bisik Kevin kepada Melisa.
"Hei kau sedang apa? Jauhkan wajahmu dari Melisa. Kau sedang cari kesempatan ya?" Ucap Alan kepada Kevin yang sedang Membisikkan sesuatu kepada Melisa.
"Tidak, aku hanya sedang berbisik kepada Melisa kalau kalian pasangan yang serasi.
"Apa?" Sofi terkejut dan keberatan dengan ucapan Kevin.
Sementara Alan hanya diam seperti tidak keberatan dengan apa yang di katakan adik iparnya itu.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, tolong kau jaga Melisa dengan benar. Jangan cari kesempatan dalam kesempitan."
"Tenang saja kak, aku akan jaga Melisa dengan baik. Pulanglah, kalian pasti butuh istirahat. Jawab Kevin.
"Kakak pulang dulu sayang, jaga dirimu baik baik." Mendaratkan kecupan singkat di kening Melisa.
Alan mengantarkan sekretarisnya itu pulang.
"Ternyata rumahmu jelek juga ya." Dengan santainya Alan mengomentari rumah Sofia.
"Terimakasih atas pujiannya." Memutar kedua bola matanya malas. Dia sedang tidak mood meladeni ucapan bosnya itu.
Sesampainya di depan pintu tiba-tiba saja sebuah sendal jepit berwarna biru mendarat di kepala Alan Yong ju.
"Auhhhh.. siapa yang berani melempar sandal kepadaku."
"Hei kau laki-laki tidak tau diri. Sembarangan membawa anak perawan orang sampai tidak pulang. Rasakan ini." Ibu Sofia mendaratkan pukulan bertubi-tubi dengan sendal yang dia pakai untuk melempari Alan tadi.
"Ibu hentikan. Dia tuan Alan Yong ju. Bos Sofia di kantor. Sofi tidak pulang karena menemani pak Alan menjaga adiknya di rumah sakit."
"Apa? Jadi ini tuan Alan Yong ju yang terkenal itu? Aahhh maafkan saya tuan karena tidak mengenali anda. Mengusap-usap tubuh Alan yang tadi dia pukuli.
"Silahkan masuk tuan. Suatu kehormatan jika tuan mau mampir kerumah kami." Ibunya Sofia tak henti-hentinya mengungkapkan pujian dan sanjungan kepada pria tampan di hadapannya itu. Sementara Sofia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku ibunya.
Bersambung...
__ADS_1