Adik Kesayangan CEO

Adik Kesayangan CEO
Chapter 16 (Alan terluka)


__ADS_3

Satu persatu orang suruhan Farhan tumbang. Tapi sebelumnya, Alan tak luput dari pukulan dan hantaman yang mendarat di tubuh kekar miliknya. Berbeda dengan Kevin. Hobi karate yang di gelutinya dua tahun terakhir ternyata berguna juga dalam situasi seperti ini. Ia mampu menangkis serangan demi serangan yang menghampirinya. Bahkan dia melawan dua orang sekaligus.


Finally. Semua anak buah Farhan tumbang. Tapi kabar buruknya, Seorang Alan Yong ju juga ikut tumbang.


Dengan cekatan Kevin membuka tali yang mengikat tangan dan kaki Sofia. Seketika itu juga, Sofia berlari menghampiri Alan yang tergeletak di sudut ruangan.


"Bapak bangun, Kevin cepat panggil ambulans!"


"Kelamaan kalau nunggu ambulans, kita langsung bawa ke rumah sakit saja."


Mereka berdua pun memapah Alan menuju mobil. Kevin melajukan mobil dan meninggalkan tempat terkutuk itu.


Di tengah-tengah perjalanan, Kevin mematahkan kepanikan yang tercipta dengan pertanyaan yang membuat Sofia terkejut.


"Jadi bagai mana? Masih kekeh untuk menolak cinta kak Alan dan membiarkan cintanya bertepuk sebelah tangan, atau mau menerima cintanya? setidaknya buka hatimu sedikit saja untuknya. Lihatlah, dia sangat menyedihkan."


Di liriknya Alan yang duduk bersandar di sebelahnya. Dalam hatinya, ia membenarkan ucapan Kevin.


"Kau ini bicara apa? Kakak iparmu sedang pingsan dan babak belur saat ini. Kau malah bicara ngelantur." Sofia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Jadi kalau dia sudah sadar, kau akan menerima cintanya begitu maksudmu?" Terkekeh melihat ekspresi wayah Sofia tengah tersipu malu yang terpantul dari kaca spion.


"Sudah jangan bicara yang tidak-tidak."


Sesampainya rumahsakit, Alan mendapatkan penanganan medis. Dari hasil pemeriksaan, tangan kanannya patah dan harus mendapat tindakan operasi secepatnya.


"Lihatlah, dia mempertaruhkan nyawanya demi dirimu. Itu sudah cukup membuktikan perasaannya kepadamu tidak main-main."


Sofia yang mendengar ucapan Kevin seketika menundukkan wajahnya. Ada rasa bersalah yang membelenggu hatinya. Alan memang sangat menyebalkan baginya. Tapi dari kejadian yang baru saja terjadi, ia melihat sisi lain dari pria menyebalkan itu. Sebuah ketulusan. Itulah yang ia tangkap dan ia rasakan.


"Aku titip kak Alan, aku mau melihat istriku dulu."


"Jadi Melisa benar sakit? dia dirawat di sini juga?"


"Iya. Kau tau dari mana Melisa sakit?" Mengerutkan dahinya.


"Orang yang menculikku tadi. Dia bilang dia orang suruhan pak Alan untuk menjemputku. Katanya Adik pak Alan sakit dan memintaku untuk menjaganya."


"Maaf atas kejadian tadi."


"Maaf untuk apa?" Sofia yang merasa heran karena Kevin meminta maaf padanya, tanpa ia tau untuk kesalahan apa dia meminta maaf.


"Orang yang menculikmu adalah ayahku."

__ADS_1


"Apa?"


"Ya, ceritanya panjang. Nanti kamu pasti tau. Sekarang aku mau melihat keadaan Melisa dulu." Berlalu pergi meninggalkan Sofia dan menuju ruang rawat istrinya.


Di ruang tempat Melisa berbaring lemah, ia melihat pemandangan yang membuat emosinya bangkit. Aldo sedang menggenggam tangan Melisa.


"Sudah selesai kak urusannya?" Dan masih dengan tangan yang menggengam jemari indah milik istri orang, tanpa rasa bersalah. Mana Aldo tau Melisa sudah menjadi milik orang.


"Hmmm." Dengan malas Kevin menjawab. Setelah itu diraihnya tangan Melisa dari genggaman Aldo. Aldo pun mengira itu bentuk protes seorang kakak yang tidak ingin adiknya di jamah seorang pria yang belum menjadi siapa-siapanya.


"Kau pulang saja, nanti ibumu khawatir. Terimakasih sudah menjaga Melisa." Sebenarnya ini adalah usahanya mengusir Aldo secara halus.


"Baiklah kalau begitu saya pamit pulang kak. Sampaikan salam saya Kepada Melisa jika dia bangun nanti."


"Hemm."


Sesaat kemudian Melisa terbangun. Pengaruh obat penenang yang disuntikkan lewat selang infus membuatnya tertidur cukup lama.


"Kak." Pangil Melisa dengan suara sangat pelan. Lebih tepatnya suara seperti sedang berbisik.


"Iya sayang kenapa?"


"Ayah," buliran kristal bening menetes dari pelupuk matanya.


Melisa pun terdiam cukup lama hingga akhirnya ia menanyakan keberadaan Alan. Biasanya kakaknya itu tak pernah meninggalkannya cukup lama di saat seperti ini.


"Kakak mana?" Masih dengan suara lemah.


"Kakak ada, dia sedang mengurus pekerjaan tadi. Ada masalah yang sangat penting di kantor."


Melisa yang tak punya tenaga lagi untuk bertanya lebih banyak memilih untuk diam. Dia tidak yakin Alan pergi mengurusi kerjaan di saat dirinya terbaring tak berdaya seperti ini. Ia tau betul seperti apa kakaknya yang over protektif kepadanya itu.


Di lain ruangan, masih dalam rumah sakit yang sama, seorang dokter keluar dari ruang operasi.


"Dengan keluarga tuan Alan?"


"Iya dok." Jawab Sofia ragu.


"Operasinya berjalan baik. Pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat biasa. Setelah pengaruh obat biusnya habis, pasien akan sadar. Hanya saja perlu waktu yang cukup lama untuk pemulihannya. Karena kondisi tulang lengannya patah."


"Baik dok terimakasih." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Jujur dia bingung harus berkata apa. Yang jelas ada rasa bersalah yang mengusik hatinya saat ini.


Setelah berada di ruang perawatan, Sofia masih setia menunggui Alan yang masih dalam pengaruh obat bius. Ia tak meninggalkannya sedetikpun kecuali untuk ke toilet. Bahkan ia belum makan semenjak drama penculikan tadi pagi.

__ADS_1


Dengan posisi yang tengah tertidur di kursi sebelah bed tempat Alan terbaring, tiba-tiba seseorang masuk dan membangunkannya.


"Kau belum makan kan? Ini makan dulu." Seseorang menyodorkan bungkusan bag berisi roti dan air mineral. Ternyata orang itu adalah Kevin.


"Terimakasih." Tanpa berkata apapun lagi, Sofia langsung saja membuka dan melahap roti isi daging yang ada di tangannya. Karena dia sudah merasa sangat lapar hingga terasa sedikit perih pada lambungnya.


"Bagaimana kondisi Melisa?" Bertanya dengan masih mengunyah roti di mulutnya.


"Kurang baik, Mungkin dia ada feeling kakaknya kenapa-kenapa. Sejak bangun dia beberapa kali menanyakan keberadaan kak Alan."


"Mungkin mereka ada ikatan batin. Terkadang aku merasa heran. Dia Sangat arogan dan seenak jidatnya sendiri jika dengan orang lain. Tapi saat dengan adiknya, dia bisa bersikap selembut itu."


"Kau benar, aku sendiri juga heran, apalagi kamu."


"Terimakasih makanannya." Setelah itu meneguk habis sisa air mineral yang dia pegang.


"Aku ke ruang rawat Melisa dulu. Terimakasih sudah menjaga kak Alan dengan baik."


"Sudah seharusnya aku melakukan ini, dia seperti ini karena menyelamatkanku kan?"


"Sekali lagi aku minta maaf atas apa yang di lakukan ayahku kepadamu."


Sofia menampilka senyum sebagai jawaban.


Keesokan harinya Alan sudah mulai siuman dari tidurnya yang cukup lama. Hal pertama yang ia tanyakan adalah kondosi Melisa.


"Bagaimana Melisa?" Dengan suara serak, karena tenggorokannya yang kering belum tersapu air minum sedikitpun sejak kemarin.


"Ini minum dulu." Sofia menyodorkan gelas dan membantu Alan untuk minum.


"Melisa baik-baik saja. Tapi dia terus menanyakan keberadaanmu."


"Aku harus kesana sekarang. Dia pasti mencemaskanku."


"Auhhhh..." Teriak Alan karena merasakan sakit yang luar biasa di lengan kanannya."


"Hati-hati, tanganmu patah dan habis di operasi. Jangan banyak gerak dulu."


"Aku tidak apa-apa. Bantu aku berdiri."


Mau tidak mau Sofia menuruti keinginan Alan. Ia tau bahwa percuma saja berdebat dengannya. Dengan hati-hati ia membantu Alan turun dari bed, lalun memapahnya menuju kursi roda


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2